KabarBaik.co, Sidoarjo – Di tengah hamparan sawah Desa Watutulis, Prambon Sidoarjo, berdiri sebuah situs yang menyimpan kisah panjang. Letaknya berada di belakang pom bensin Desa Watutulis, tampak sederhana namun sarat makna sejarah dan spiritual. Warga mengenalnya sebagai Candi Watutulis, yang dulunya disebut Punden Sentono.
Sebelum mengalami pembongkaran, bangunan candi diperkirakan memiliki lebar sekitar 3 meter dan tinggi 2,5 meter. Ukuran itu menunjukkan adanya struktur kuno yang pernah berdiri, meski tidak sebesar candi pada umumnya.
Juru kunci setempat, Buadi, 69, menuturkan bahwa tempat ini sudah ada jauh sebelum dirinya lahir.
“Sejak saya lahir candi ini sudah ada, tapi masyarakat menyebutnya punden. Tempat ini untuk berdoa dan memohon keselamatan,” ujar Buadi kepada KabarBaik.co saat di lokasi, Sabtu (9/5).
Di dalam bangunan candi, terdapat relief yang disebut cukup unik oleh warga. Ukirannya berbentuk buto (raksasa), disertai dua perempuan dan satu laki laki.
“Ada gambar seperti Buto dan manusia, tapi kami tidak tahu pasti maknanya,” kata Buadi.
Di area yang sama, terdapat petirtaan sumber satu kompleks. Dua sumber air tersebut dikenal sebagai Sentono dan Sentini. Yang mempunyai kedalaman yang berbeda.
“Airnya tidak pernah kering. Banyak yang datang mengambil air, katanya bisa untuk penyembuhan menurut kepercayaan masing masing,” ungkapnya.

Peristiwa genting terjadi pada tahun 1998, saat sejumlah oknum melakukan pembongkaran liar. Tujuannya mencari harta karun tanpa izin dari pemerintah desa setempat.
“Dulu sempat dibongkar untuk cari harta karun. Warga tidak setuju karena ini tempat yang dihormati,” jelas Buadi.
Namun dari pembongkaran itu, justru ditemukan susunan bata kuno di dalam tanah. Struktur tersebut berada di kedalaman sekitar 1 hingga 1,5 meter dan menjadi bukti adanya bangunan lama yang terkubur.
“Waktu dibongkar, terlihat jelas susunan bata di dalam sendang. Dari situ baru diketahui ini bangunan kuno,” tambahnya.
Warga kemudian menamai bagian tersebut sebagai Sentono yang memiliki kedalaman 1,5 meter dan Sentini kedalaman 1 meter berdasarkan kedalamannya. Nama itu kini melekat sebagai identitas kawasan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Dalam sejarah lisan, situs ini dikaitkan dengan Mbah Joyo Rekso Depo Walikromo sebagai yang membabat alas desa watu tulis. Bahkan, candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Kahuripan pada masa Prabu Airlangga, yang memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Singosari dan Kerajaan Kediri.
Kini, meski sebagian struktur telah rusak akibat pembongkaran, Candi Watutulis tetap dijaga dan dihormati. Warga masih datang untuk berdoa, menjaga tradisi, serta merawat warisan leluhur yang dipercaya menyimpan nilai sejarah dan spiritual hingga hari ini. (*)








