Jenang Dawet Lumintu Depan Gedung Juang Nganjuk, Bukti Kuliner Tradisional Mampu Bersaing dengan Junk Food

oleh -53 Dilihat
Mbak Yuli saat meracik Jenang Campur Lumintu Pak Yoyok depan Gedung Juang 45 (Agus Karyono)

Kabarbaik.co Nganjuk – Di lokasi kuliner ramai yang berada tepat di depan Gedung Juang 45 Kota Nganjuk, sebuah gerobak kecil dengan warna cokelat tua yang menjadi ciri khasnya tetap berdiri kokoh di tengah gerai-gerai makanan modern.

Jenang Dawet Lumintu milik Pak Yoyok bukan sekadar warung bubur tradisional, melainkan sebuah bukti bahwa cita rasa khas tanah Jawa tetap mampu bertahan dan bersaing dengan beragam kudapan kekinian serta junk food yang marak menjamur.

Tak hanya menjadi pilihan favorit warga lokal, usaha yang dimulai dari gerobak kecil itu kini telah berkembang hingga memiliki 5 cabang yang tersebar di berbagai kecamatan se-Kabupaten Nganjuk.

“Banyak orang sakit yang beli, yang jenang sumsum pagi sudah habis,” ujar Yuli, karyawan yang telah bekerja bersama Pak Yoyok selama 6 tahun sambil menata tumpukan mangkuk yang siap digunakan untuk menyajikan pesanan.

Ia menjelaskan bahwa jenang sumsum yang menjadi menu andalan tersebut kerap kali dicari oleh pasien dari rumah sakit terdekat karena dianggap mudah dicerna dan memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh yang sedang dalam proses penyembuhan.

Sebelum menjadi pengusaha kuliner yang dikenal luas, Pak Yoyok merupakan warga asli Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, yang kemudian pindah dan menetap di Kelurahan Payaman, Kota Nganjuk.

Usahanya dimulai dari sebuah gerobak warisan dari mertuanya yang hanya menjual jenang sumsum dan jenang ketan hitam di depan Gedung Juang 45.

Bubur Campur itu kini telah menjadi ikon kuliner tradisional di kawasan kota dengan lokasi cabang lain tersebar di Lingkungan Kedung Pedet, Pasar Kerep Bagor, Kelurahan Ganung Kidul, Sumengko Sukomoro, serta wilayah Kecamatan Gondang.

“Saya sudah 6 tahun bekerja sama dengan Pak Yoyok, 3 tahun di cabang Sukomoro dan sekarang sudah 3 tahun di sini (Gedung Juang 45),” jelasnya.

Harga setiap porsi jenang atau bubur ini tetap Rp 6 ribu di semua cabang, meskipun harga bahan baku sering mengalami kenaikan.

Jam operasional dimulai dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 16.00 siang yang dikelola oleh Yuli dan beberapa karyawan lainnya, kemudian dilanjutkan oleh anak-anak Pak Yoyok hingga malam untuk melayani pembeli yang ingin menikmati jenang sebagai camilan malam.

“Saat siang kerap kali menikmati kesegaran jenang tradisional ini,” ungkap Panji Lanang, seorang penikmat setia yang sudah menjadi pelanggan sejak belasan tahun lalu ketika ia baru pindah tinggal di Nganjuk setelah menikahi seorang wanita lokal.

Pria berusia 40 tahun itu menjelaskan bahwa di Kota Batu tempat asalnya, meskipun juga ada banyak makanan tradisional, rasa jenang yang disajikan Pak Yoyok memiliki ciri khas tersendiri yang membuatnya selalu kembali untuk membeli.

Beragam pilihan jenis bubur atau jenang tersedia di setiap cabang Jenang Dawet Lumintu Pak Yoyok, mulai dari jenang mutiara, jenang grendul yang memiliki tekstur kenyal, jenang sumsum yang terbuat dari tepung beras yang disaring hingga halus dengan kuah santan yang kaya rasa, hingga jenang ketan hitam yang dibuat dari ketan yang dimasak hingga empuk dengan tambahan gula merah dan santan.

Semua varian bisa dinikmati dengan atau tanpa es sesuai selera pembeli, termasuk es dawet yang juga menjadi favorit khususnya di musim kemarau.

Jenang sumsum warna putih dengan rasa gurih yang khas menjadi menu paling laris dan seringkali habis menjelang tengah hari.

Menurut Yuli, kelezatan jenang sumsum tersebut berasal dari kualitas santan yang digunakan, yang selalu diambil dari kelapa pilihan dan disajikan segar setiap hari.

Sedangkan yang paling banyak dipesan kedua adalah jenang campur, di mana semua jenis bubur disajikan dalam satu mangkuk besar bersama es batu yang menyegarkan, ditambah dengan santan hangat dan gula merah cair yang memberikan rasa manis alami.

“Kami selalu menjaga kualitas bahan baku dan cara pembuatan yang sesuai dengan tradisi nenek moyang,” ungkapnya.

Menurut Yuli setiap jenis jenang dibuat dengan proses yang teliti dan tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali, sehingga rasa yang dihasilkan tetap alami dan autentik.

Panji Lanang yang awalnya berasal dari Kota Batu dan kini menetap di Nganjuk mengaku telah terpikat dengan cita rasa autentik yang dipertahankan oleh warung ini selama bertahun-tahun.

“Meskipun sekarang banyak warung jenang yang muncul dengan variasi modern, saya tetap memilih yang ini karena rasanya tidak berubah dan selalu konsisten,” tambahnya.

Dengan komitmen untuk menjaga tradisi dan kualitas, Jenang Dawet Lumintu Pak Yoyok terus menjadi bukti bahwa makanan tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang tak lekang oleh waktu.

Tak hanya sebagai sumber makanan, usaha ini juga menjadi bagian dari identitas kuliner Kota Nganjuk yang patut dilestarikan untuk generasi mendatang.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.