Jenderal di Ruang Kelas: Kisah Inspiratif Kapolda Jawa Barat Rudi Setiawan Raih Gelar Doktor UNAIR

oleh -125 Dilihat
RUDI SETIAWAN
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Dr Rudi Setiawan SIK SH MH, remsi menjadi keluarga Ksatria Airlangga yang diwisuda Sabtu (11/4) lalu. (Foto Unair)

DI GEDUNG megah Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C Universitas Airlangga (UNAIR), Sabtu (11/4) itu, suasana Wisuda ke-261 terasa berbeda. Seakan ada denyut lebih istimewa yang bergetar di antara toga hitam dan nuansa syukur serta bangga para keluarga wisudawan.

Ratusan karangan bunga berjejer di sekitar gedung, seperti taman doa yang mekar bersamaan, mengiringi langkah seorang jenderal bintang dua. Yakni, Inspektur Jenderal (Irjen) Dr Rudi Setiawan SIK SH MH, Kapolda Jawa Barat, yang resmi menyandang gelar doktor.

Di tengah riuh kebahagiaan itu, nama Rudi tidak sekadar diumumkan sebagai salah seorang lulusan Program Doktor Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Lebih dari itu, dia seperti menandai satu bab penting perjalanan hidup. Bahwa, di usia 57 tahun, ketika banyak orang memilih memperlambat langkah, Rudi justru menapaki jalan panjang yang ditempuh dengan kesabaran, disiplin, dan keyakinan.

Gelar doktor tersebut bukan sekadar tambahan huruf di belakang nama. Tapi seperti lentera baru yang dinyalakan di tengah lorong panjang pengabdian yang sudah lebih dulu penuh dedikasi dan cahaya prestasi. Bagi Rudi, perjalanan akademik ini adalah bukti bahwa belajar tidak mengenal garis akhir.

Dia bahkan mengakui dirinya masih merasa “fakir ilmu”, sebuah kesadaran yang justru menjadi bahan bakar untuk terus melangkah. Dari rasa itulah, Rudi memilih kembali menjadi pembelajar di kampus unggul dan berkelas global, meski tantangan jabatan dan waktu seolah menariknya ke berbagai arah sekaligus.

Di balik toga doktor yang kini dikenakan, tersimpan kisah enam tahun dua bulan perjalanan yang tidak ringan. Seorang perwira tinggi dengan tanggung jawab mengendalikan ribuan personel di provinsi terpadat di Indonesia, harus membagi waktu di antara rapat strategis, tugas kepolisian, dan dunia akademik yang menuntut ketekunan sunyi. Saat itu, di masa studi itu, dia juga mengemban berbagai posisi penting. Mulai dari Wakapolda, Staf Ahli Kapolri, hingga Deputi Penindakan KPK.

Namun bagi Rudi, ilmu bukanlah kemewahan yang hanya bisa dinikmati di akhir karier. Ilmu adalah aliran sungai yang tak pernah berhenti, bahkan ketika hampir mencapai muara. Jarak dan padatnya tugas tidak menjadi tembok, melainkan sekadar batu loncatan untuk terus bertahan. Komitmen yang ditanamkan sejak awal, menjadi jangkar yang menjaga langkahnya tetap stabil hingga garis akhir itu.

Kekuatan lain yang menopang perjalanan itu adalah keluarga. Dalam banyak kesempatan, ia mengakui bahwa dukungan orang-orang terdekat menjadi penyangga yang membuatnya tetap tegak menghadapi padatnya perjalanan studi.

“Sebagai seorang yang memiliki amanah sebagai kepala polisi, saya harus terus menyelesaikan studi meskipun ada kendala jarak dinas yang jauh dan revisi disertasi yang tidak mudah. Namun, motto UNAIR Excellence with Morality selalu menjadi penyemangat saya untuk tetap berintegritas,” ungkap Rudi penuh syukur seperti dilansir dari laman resmi Unair.

Pilihan Rudi menekuni Sosiologi di FISIP UNAIR pun bukan tanpa alasan. Dalam kesehariannya sebagai aparat penegak hukum, tentu bersentuhan langsung dengan denyut masyarakat. Dari persoalan kecil hingga konflik yang kompleks. Ilmu sosiologi menjadi semacam kacamata baru yang memperjelas lanskap sosial yang dihadapi setiap hari.

“Ada pesan dosen yang selalu saya ingat. Yakni, kita harus tahu bagaimana menganalisis permasalahan agar dapat menemukan solusi yang tepat. Sosiologi membantu saya mendalami hal itu diimplementasikan langsung dalam tugas saya melayani masyarakat,” jelasnya.

Puncak perjalanan akademiknya ditandai dengan disertasi berjudul “Cerita dari Mesuji: Studi Fenomenologi tentang Menjadi Polisi di Daerah Konflik”. Karya ini bukan sekadar dokumen ilmiah yang tersimpan di rak perpustakaan, melainkan jendela yang membuka kisah kemanusiaan di balik seragam polisi.

Melalui penelitian itu, Rudi menelusuri Mesuji, Lampung—wilayah yang pernah menjadi titik panas konflik agraria. Dari sana, dia mengurai pengalaman batin para aparat yang kerap berdiri di persimpangan sulit. Antara menjalankan tugas negara dan meresapi denyut empati masyarakat yang terdampak konflik. Polisi tidak hanya digambarkan sebagai penegak hukum di ruang fisik, tetapi juga sebagai “pejuang di medan batin” yang terus bergulat dengan dilema kemanusiaan.

Seperti cermin yang memantulkan kenyataan sosial secara jernih, disertasi itu menegaskan bahwa hukum tidak selalu bekerja dengan dingin. Ada ruang-ruang emosional yang harus dipahami agar keadilan tidak kehilangan wajah kemanusiaannya.

Hasilnya, Rudi menuntaskan studi dengan predikat sangat memuaskan, dengan IPK 3,88—hampir sempurna. Pencapaian ini semakin terasa monumental karena diraih di tengah padatnya tugas sebagai Kapolda Jawa Barat sejak April 2025. Dan, dari satu PTN yang dikenal ”tidak mudah memasukinya dan tidak mudah keluar (lulus)”, demi menjaga nyala api kualitas para alumnunya.

Lahir di Kalianda, Lampung Selatan pada 9 November 1968, Rudi membawa semangat tanah kelahirannya yang keras, namun penuh daya juang. Sebelum menyandang gelar doktor, perjalanan karier Rudi telah lebih dulu terukir panjang di dunia reserse. Pernah menjabat sebagai Kapolres Indramayu, Kapolres Metro Bekasi, Kapolrestabes Surabaya, Wakapolda Lampung dan Sumatera Selatan, hingga Deputi Penindakan KPK.

Rudi juga pernah bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Presiden, yang memperkaya perspektif kepemimpinannya di berbagai level.

Kini, dengan bekal akademik baru, Rudi pun melihat tugas kepolisian dari sudut yang lebih luas. Bukan hanya sebagai tindakan penegakan hukum, tetapi juga pencegahan akar masalah sosial. Konflik masyarakat, radikalisme, hingga persoalan agraria yang rumit, ia pandang dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis pemahaman ilmiah.

Di penghujung cerita, Rudi menitipkan harapan untuk almamaternya. “Saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar alumni UNAIR. Harapannya, ilmu di sini terus bermanfaat bagi masyarakat luas demi menggapai cita-cita Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Bagi banyak anggota Polri, kisah Rudi menjadi semacam kompas motivasi. Di tengah zaman yang sering menganggap usia sebagai batas, dia justru menunjukkan bahwa belajar adalah perjalanan tanpa peta akhir. Seperti pohon yang akarnya semakin dalam menembus tanah, semakin matang seseorang, semakin kokoh pula berdiri menghadapi badai kehidupan.

Wisuda itu pun bukanlah garis akhir, melainkan pintu yang terbuka ke babak baru. Kini, Irjen Pol Dr Rudi Setiawan membawa dua simbol pengabdian. Seragam Bhayangkara yang mewakili penegakan hukum, dan toga doktor yang melambangkan kedalaman ilmu.

Di tangannya, keduanya diharapkan menyatu, menjadi kekuatan yang tidak hanya tegas, tetapi juga bijak. Pada akhirnya, seperti yang diyakini sendiri, ilmu bukan untuk berhenti pada pemiliknya. Tapi, harus terus mengalir, seperti cahaya yang tak pernah lelah menembus gelap, memberi makna bagi institusi, masyarakat, dan Indonesia. Dan, di usia 57 tahun, cahaya itu justru tampak semakin terang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.