Kali Tebu Surabaya Jadi Pilot Project Kampung MOZAIK, Gerakan Bersama Cegah Polusi Plastik

oleh -78 Dilihat
Peluncuran Kampung MOZAIK di Kali Tebu, Surabaya.
Peluncuran Kampung MOZAIK di Kali Tebu, Surabaya. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Sungai yang bersih tidak lahir dari satu program, tetapi dari kebiasaan masyarakat yang peduli terhadap lingkungannya. Semangat itulah yang menjadi dasar peluncuran Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) dalam kegiatan Partnership for Preventing the Riverine Plastic Pollution Kali Tebu Surabaya bertajuk “WANI Cegah Polusi, Wujudkan Sungai Lestari” di Gedung Serba Guna Tanah Kali Kedinding, Surabaya.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 200 peserta ini mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, sekolah, komunitas, lembaga internasional, dan dunia usaha untuk memperkuat langkah bersama menghentikan kebocoran sampah plastik dari daratan ke sungai sebelum akhirnya mencemari laut.

Program ini digagas ECOTON bersama UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, dan Emirates Foundation sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Kali Tebu.

Sebelum acara utama dimulai, para tamu diajak mengunjungi area pameran yang menampilkan perjalanan Program MOZAIK, instalasi seni mikroplastik, Mobil Laboratorium Mikroplastik Microplastic Journey, layanan isi ulang REFILIN, pameran fotografi, serta karya para pelajar tentang lingkungan. Pameran ini menjadi ruang belajar bersama bahwa persoalan sampah plastik dapat dicegah sejak dari sumbernya.

Direktur Eksekutif ECOTON Daru Setyorini, mengatakan bahwa menjaga sungai bukan hanya soal membangun fasilitas, tetapi juga mengembalikan kebiasaan baik yang pernah dimiliki masyarakat.

“Dulu Kali Tebu adalah sungai yang bersih. Kita memiliki banyak kearifan lokal yang ramah lingkungan. Salah satunya, para ibu membiasakan anak menggunakan toilet sejak usia dini sehingga penggunaan popok sekali pakai dapat dikurangi. Kearifan seperti ini perlu kita hidupkan kembali sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik,” ujar Daru dalam keterangannya, Senin (3/8).

Menurut Daru, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten di rumah dan di lingkungan sekitar.

Hal senada disampaikan Rofi Alhanif, Asisten Deputi Ekonomi Sirkular Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang terus mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga.

“Di Surabaya, pemilahan sampah dari rumah sudah mulai berjalan. ECOTON membantu kita semua memahami pentingnya menjaga sungai tetap bersih. Jika sungai bersih, berarti perilaku kita dalam mengelola sampah juga semakin baik,” katanya.

Sementara itu, Hassan Ali Abdulla, Project Lead Emirates Foundation, mengaku terkesan dengan pendekatan edukasi yang dilakukan melalui Program MOZAIK, terutama ketika masyarakat dapat melihat langsung keberadaan mikroplastik.

“Saya baru mengetahui bahwa mikroplastik dapat ditemukan bahkan pada tangan kita. Hal ini menunjukkan bahwa plastik merupakan ancaman bagi semua komunitas. Karena itu, kita perlu terus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Sebagai puncak kegiatan, para camat dan lurah dari wilayah program menandatangani Deklarasi Kampung MOZAIK sebagai komitmen bersama untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dan menjaga Sungai Kali Tebu dari pencemaran plastik.

Komitmen tersebut kemudian disimbolkan dengan pemukulan kentongan, dilanjutkan dengan pelantikan SATGAS Sungai Lestari Kali Tebu Surabaya yang akan menjadi penggerak edukasi dan aksi lingkungan di tengah masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran Mobil Laboratorium Mikroplastik Microplastic Journey yang membawa edukasi mikroplastik lebih dekat kepada masyarakat, sekaligus penguatan layanan REFILIN untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai melalui sistem isi ulang.

Bagi ECOTON, menjaga sungai tidak berhenti pada satu hari peresmian. Sungai yang bersih lahir dari kebiasaan sehari-hari: memilah sampah dari rumah, mengurangi plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, dan saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan. Kampung MOZAIK diharapkan menjadi contoh bahwa ketika masyarakat bergerak bersama, sungai dapat kembali menjadi ruang hidup yang bersih, sehat, dan lestari.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.