KabarBaik.co, Surabaya – Puluhan mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Jawa Timur turun ke sungai mengampanyekan penyelamatan Kali Tebu dari tumpukan sampah plastik dan popok sekali pakai, Rabu (20/5).
Aksi itu dilakukan di sejumlah titik yang dilalui aliran Kali Tebu, Surabaya. Mulai kawasan Patuk Donomulyo, Pogot, hingga sejumlah kelurahan di sekitarnya.
Sebanyak 20 mahasiswa yang terlibat berasal dari Jurusan Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jurusan Manajemen Sumber Daya Air Universitas Brawijaya (UB), serta komunitas Wanala Universitas Airlangga (Unair).
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membawa poster bertuliskan “Bebaskan Kali Tebu dari Sampah Popok”, “Kali Tebu Bukan Tempat Sampah Popok”, “Kali Tebu Moncer”, hingga ajakan membebaskan sungai dari sampah plastik.
Aksi mereka menarik perhatian warga yang melintas. Sejumlah pengendara tampak mengacungkan jempol sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye penyelamatan lingkungan itu.
Farida F Tampubolon, mahasiswi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan UB, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi sungai yang semakin memprihatinkan.
“Aksi ini bagian dari upaya untuk menyadarkan masyarakat agar peduli sungai dan tidak buang sampah ke Kali Tebu,” ungkap Farida F Tampubolon dalam keterangannya, Kamis (21/5).
Ia mengaku prihatin karena masih banyak ditemukan tumpukan sampah rumah tangga dan popok sekali pakai di aliran sungai.
Sementara itu, hasil observasi mahasiswa Biologi Unesa menemukan sedikitnya empat persoalan utama yang menyebabkan kondisi Kali Tebu semakin tercemar.
Persoalan tersebut meliputi rendahnya kesadaran masyarakat, sistem pengolahan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) yang dinilai belum efektif, masih adanya limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai, hingga persoalan regulasi lingkungan.
“Ada empat problem yang telah kami teliti,” ujar Fea El Faradisa.
Mahasiswi Jurusan Biologi Unesa itu menjelaskan selama sepekan terakhir tim mahasiswa melakukan observasi sosial di enam kelurahan yang dilalui Kali Tebu.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, komunitas mahasiswa mengusulkan sejumlah solusi untuk mengurangi pencemaran sungai.
Di antaranya memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk edukasi lingkungan, pemasangan CCTV pemantau secara realtime, pemasangan pagar di sekitar sungai, hingga aksi bersih sungai secara rutin.
Selain itu, mereka juga mendorong adanya penegakan hukum terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan agar kesadaran masyarakat semakin meningkat.
Menurut para mahasiswa, kampanye langsung di sungai dinilai penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.(*)







