KabarBaik.co, Riau – Tim gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lima wilayah di Provinsi Riau, Senin (16/3). Sementara, tiga wilayah lain telah padam namun masih menjalani tahap pendinginan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau Jim Gafur, mengatakan hingga 15 Maret, titik api masih terpantau di delapan daerah.
“Pertama kebakaran di Kabupaten Bengkalis ada dua titik. Pertama di Desa Teluk Lecah Kecamatan Rupat Bengkalis. Kondisi masih ada titik api dan dilakukan pemadaman,” ujar Jim di Pekanbaru, dilansir dari ANTARA.
Sementara itu, titik di Desa Tasik Serai Timur, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis sudah padam total. Di Kabupaten Pelalawan, masih ada satu titik api di Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, yang saat ini masih dilakukan pemadaman.
Di Kota Dumai, terdapat dua titik api yakni di Kelurahan Teluk Makmur dan Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai. Kedua lokasi masih menimbulkan asap dan dilakukan pemadaman serta pendinginan. Kabupaten Rokan Hilir memiliki satu titik di Kepenghuluan Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, yang sedang dipadamkan dan disekat agar api tidak meluas.
Selain itu, satu titik di Desa Bekawan Dalam, Parit Hidayat, Kecamatan Mandah, sudah padam dan masih dalam tahap pendinginan. Kabupaten Kampar juga memiliki satu titik api di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, yang kondisinya telah padam total.
Untuk mendukung pemadaman, pihak BPBD Riau menyiagakan sarana operasi udara, berupa tiga helikopter patroli—dua dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan satu dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Mengantisipasi potensi karhutla lebih luas, Rohmat Marzuki, Wakil Menteri Kehutanan, mengatakan Kemenhut menyiapkan hingga 35 Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahun ini. Langkah ini dilakukan menyusul potensi El Nino yang muncul lebih awal dibanding prediksi sebelumnya, dengan kategori lemah hingga moderat.
“Untuk OMC sendiri, budgetnya cukup besar dan memang harus dilakukan secara rutin. Jadi kami sudah membuat timeline dalam satu tahun ini kita membutuhkan tidak kurang dari 35 OMC,” ujar Rohmat usai Upacara Hari Bakti Rimbawan ke-43 di Jakarta, Senin (16/3).
Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menambahkan, pelaksanaan OMC biasanya dilakukan 10-12 hari dengan dua sortie per hari. Anggaran satu operasi diperkirakan mencapai Rp 2,3-2,5 miliar.
“Satu wilayah administrasi provinsi dengan titik fokus pada wilayah kabupaten/kota yang terdapat kejadian karhutla masif,” jelas Dwi.
Langkah antisipasi ini menjadi penting karena BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan panjang dibanding 2025, sehingga potensi karhutla meningkat. OMC bertujuan membasahi lahan sebelum kebakaran terjadi, terutama di wilayah rawan karhutla.(*)






