KabarBaik.co- Persebaya Surabaya akhirnya menutup paruh musim pertama Super League 2025/2026 dengan kemenangan. Namun, di balik sukses mengamankan tiga poin seusai menundukkan Malut United 2-1, satu nama banyak dipertanyakan. Yakni, Rachmat Irianto.
Gelandang andalan yang hampir selalu menjadi starter sejak kembali ke Persebaya tersebut tak masuk dalam starting XI racikan pelatih anyar Bernardo Tavares. Ketidakhadiran Rachmat Irianto, akrab disapa Rian, sempat menjadi sorotan publik. Terlebih saat Bajul Ijo tampil tertekan dan kalah penguasaan bola, bahkan ketika bermain di kandang sendiri.
Dalam laga pamungkas paruh musim tersebut, Persebaya memang berhasil mematahkan catatan buruk head to head melawan Malut United. Sebelumnya, Green Force tak pernah menang dalam dua pertemuan, kalah 0-2 di kandang dan bermain imbang 0-0 saat tandang.
Namun, kemenangan di Stadion Gelora Bung Tomo ini diraih dengan perjuangan berat. Sejak awal laga, Malut United tampil dominan dalam penguasaan bola. Tekanan semakin terasa di babak kedua, ketika Persebaya lebih banyak bertahan.
Di momen seperti itulah absennya Rian terasa. Sosok putra sulung legenda Persebaya almarhum Bejo Sugiantoro itu dikenal sebagai gelandang penyeimbang. Tenang, kuat dalam duel, dan piawai menjaga tempo saat tim berada dalam tekanan. Beruntung, Persebaya tetap mampu bertahan hingga peluit akhir dan mengamankan kemenangan 2-1 lewat dua gol Gali Freitas.
Informasinya. absennya Rian bukan tanpa alasan. Kondisinya kemungkinan belum sepenuhnya pulih dari cedera. Dalam sesi latihan perdana bersama Tavares pada 7 Januari lalu, Rian terlihat berlatih terpisah. Saat itu, Tavares juga menegaskan hanya akan memainkan pemain dengan kondisi 100 persen fit.
Meski menang, laga tersebut menjadi pengingat betapa pentingnya peran ”pengendalian posisi tengah” bagi Persebaya. Terutama saat menghadapi lawan dengan tekanan tinggi seperti Malut United yang diperkuat Ciro Alves dkk.
Seusai pertandingan, Tavares memberikan apresiasi tinggi kepada suporter Persebaya. “Terima kasih kepada Bonek dan Bonita yang datang ke stadion. Atmosfernya fantastis, hampir 13 ribu orang hadir di sini,” ujarnya dalam sesi konferensi pers seusai laga melawan Malut United.
Pelatih asal Portugal itu menilai kunci kemenangan terletak pada kerja keras pemain saat tidak menguasai bola. “Para pemain bekerja sangat keras, terutama saat tanpa bola. Masih ada kesalahan, tapi saya senang karena kami bisa menciptakan peluang dan mencetak gol,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Gali Freitas yang mencetak dua gol mendedikasikan kemenangan tersebut untuk seluruh pendukung Persebaya. “Kemenangan ini untuk kita semua, agar jadi motivasi di laga berikutnya. Siapa pun lawannya, kami akan selalu berjuang,” tegasnya.
Sementara itu, kemenangan atas Malut United sempat mengatrol posisi Persebaya Surabaya ke peringkat keenam klasemen sementara Super League 2025/2026. Namun, posisi tersebut hanya bertahan beberapa jam saja. Sebab, pada laga malam harinya, Madura United justru takluk telak 0-3 dari PSIM Yogyakarta. Dalam laga, satu pemain Madura United harus diusir wasit setelah menerima kartu merah.
Hasil tersebut membuat PSIM Yogyakarta mengoleksi 30 poin dan naik ke peringkat keenam, menggeser Persebaya yang turun ke posisi ketujuh atau papan tengah tertas dengan raihan 28 poin. Untuk sementara gagal bersaing di enam tim papan atas dari sebanyak 18 tim peserta Super League ini. Keduanya, sama-sama telah bermain sebanyak 17 kali.
Nah, setelah ini, Persebaya akan menjalani lagi tandang. Yaknu, melawan PSIM Yogyakarta itu pada 25 Januari mendatang. Duel ini juga menjadi ujian berat kedua bagi Bernardo Tavares. Apakah kembali berhasil mempersembahkan kemenangan? Yang pasti, dalam tiga laga terakhir, Green Force berada dalam tren positif karena selalu menang. Dua main di kandang, yakni melawan Persijap Jepara (4-0) dan Malut United (2-1), dan tandang melawang Madura United (0-1).
Jika nanti menang lagi lawan PSIM, maka peluang Persebaya bersaing di papan elite makin terbuka. Termasuk kans menjaga asa juara. Selama paruh musim pertama Bajul Ijo banyak berkutat di papan tengah lantaran hasil laga kerap draw atau sebanyak 7 kali. (*)






