KabarBaik.co, Jombang – Di tengah gempuran jajanan modern dengan tampilan kekinian, kue tradisional khas Nusantara tetap punya tempat di hati penikmatnya. Salah satunya kue kembang goyang atau yang kerap disebut kue antari.
Di Jombang, camilan renyah ini masih setia diproduksi oleh Ika Trisna Savitri (Vivi), warga Jalan Sisingamangaraja Nomor 38, Dusun Jagalan, Desa Kepatihan, Jombang. Usaha keluarga yang dirintis sejak 1996 itu terus bertahan, bahkan kian kebanjiran pesanan setiap bulan Ramadan dan menjelang lebaran.
“Kue ini dinamakan kembang goyang karena bentuknya menyerupai kelopak bunga dan cara memasaknya digoreng dengan teknik menggoyang-goyangkan cetakan agar adonan terlepas,” ujar Vivi saat ditemui, Minggu (1/3/2026).
Meski digoreng, lanjut dia, kue tersebut tidak menyerap banyak minyak sehingga tetap renyah dan tidak terasa berminyak saat disantap.
Awalnya, kembang goyang identik sebagai suguhan dalam acara besar seperti pernikahan, khitanan, atau hajatan keluarga. Namun kini, camilan ini juga menjadi teman santai sehari-hari karena cita rasanya yang gurih dengan sentuhan manis yang tidak berlebihan.
“Dengan harga yang terjangkau, kue kembang goyang cocok untuk camilan bersama keluarga atau teman,” kata Vivi.
Seiring perkembangan zaman, Vivi dan keluarganya melakukan sejumlah inovasi. Selain mempertahankan resep tradisional, mereka menghadirkan variasi warna dan rasa agar lebih menarik, terutama bagi generasi muda.
Pemasaran kembang goyang produksi Vivi tak lagi hanya di wilayah Jombang. Pesanan datang dari berbagai kota, bahkan hingga Jakarta. Setiap Ramadan, permintaan meningkat signifikan.
“Saat ini kami sedang mengerjakan banyak pesanan. Rasanya gurih dan renyah, harganya juga bersahabat, jadi banyak yang mencari,” ujarnya.
Dalam sekali produksi, satu adonan bisa menghasilkan sekitar 4 kilogram kue atau setara 20 bungkus. Vivi menjual kembang goyang seharga Rp 12.000 per bungkus ukuran 200 gram dan Rp 7.000 untuk ukuran 80 gram.
Untuk pembelian dalam jumlah besar, ia juga memberikan harga khusus. “Kalau reseller minimal 50 bungkus, harganya Rp 11.000 per bungkus. Kalau beli kiloan sekitar Rp 50.000,” jelasnya.
Sugiono, salah satu pelanggan setia, mengaku selalu memesan lebih awal agar tak kehabisan, terutama menjelang Lebaran.
“Kue ini renyah saat digigit, manisnya pas dan ada rasa gurih yang khas. Saya sengaja pesan sekarang untuk Lebaran supaya tidak kehabisan,” kata Sugiono.
Selain rasa, bentuknya yang menyerupai bunga dengan warna-warna menarik menjadi daya tarik tersendiri. Di tangan para perajin seperti Vivi, kembang goyang bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari tradisi yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Dengan cita rasa khas, harga ramah di kantong, dan proses produksi yang tetap menjaga teknik tradisional, kembang goyang dari Jombang membuktikan bahwa kuliner lawas tetap mampu bersaing dan dicintai lintas generasi. (*)






