KabarBaik.co – Lanjutan acara Kembul Topeng tahun ini menghadirkan berbagai peserta dari beragam latar belakang, termasuk lembaga pendidikan seni, komunitas, dan tempat latihan seni rakyat. Kegiatan ini dilaksanakan di Padepokan Seni Mangun Dharma, Tumpang, Kabupaten Malang, Kamis (28/8).
Pimpinan Padepokan Seni Mangun Dharma, Ki Soleh Adi Purnomo menyatakan, kehadiran peserta menunjukkan bahwa seni topeng tidak hanya berasal dari desa, tetapi juga berkembang pesat di dunia pendidikan seni modern. Beberapa perguruan tinggi seni terkemuka ikut berpartisipasi seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Denpasar, dan Yogyakarta.
Perguruan tinggi lainnya yang juga turut berkontribusi adalah Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Malang (UM), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Selain dari lembaga pendidikan, berbagai kelompok masyarakat, grup, dan sanggar topeng dari sejumlah daerah di tanah air juga turut memeriahkan event ini. “Mereka datang dari Jakarta, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Yogyakarta, Surakarta, Klaten, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Denpasar, Singaraja, Buleleng, hingga Pacitan,” jelas Ki Soleh.
Dari Malang Raya, lanjut Ki Soleh, ada juga beberapa sanggar yang sudah lama menjaga tradisi topeng. Seperti Kampung Budaya Polowijen, Sanggar Seni Denandar Batu, Sanggar Tari Topeng Bayu Candra Kirana Senggreng, Topeng Mantraloka Jabung, Topeng Madyo Laras Jatiguwi, Ngesti Pandowo Lowok Permanu, Jambuwer, Pijiombo Gunung Kawi, Sailendra Kranggan, Glagah Dowo, hingga Padepokan Topeng Asmorobangun Pakisaji.
Ki Soleh menyampaikan pesan penting mengenai tujuan Kembul Topeng. Ia berpendapat bahwa pertemuan seperti ini adalah cara untuk menjaga kelestarian tradisi. “Topeng bukan sekadar warisan nenek moyang, tetapi juga cerminan budaya kita saat ini. Melalui Kembul Topeng, kami ingin menyatukan generasi lama dan baru dalam satu semangat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali seni tradisional,” jelas Ki Soleh.
Menurut Ki Soleh, keragaman latar belakang peserta, mulai dari sanggar tradisional hingga perguruan tinggi seni, memberikan nilai lebih pada pembahasan seni topeng dengan berbagai perspektif. “Dampak positifnya, topeng muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari yang klasik hingga eksperimen modern, sekaligus mengasah sebagai seni yang dinamis dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman,” pungkasnya. (*)