KabarBaik.co – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu eskalasi geopolitik dan dinamika kebijakan perdagangan internasional, kinerja ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan ketahanan yang kuat. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jatim hingga akhir 2025 dapat mencapai 4,7 persen–5,5 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan optimisme tersebut dalam High Level Meeting (HLM) di Surabaya. Ia menegaskan bahwa kondisi global saat ini menghadapi tekanan signifikan akibat perang Rusia dan dinamika Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang memunculkan kebijakan retaliasi tarif impor di sejumlah negara.
“Minat investor global terhadap aset safe haven seperti emas menunjukkan dunia berada pada fase ketidakstabilan ekonomi yang sulit diprediksi. Volatilitas kurs rupiah menjadi tantangan tersendiri dalam waktu dekat,” jelas Ibrahim, Rabu (26/11).
Meski demikian, Indonesia dinilai masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurut Ibrahim, angka tersebut merupakan batas ekologi pertumbuhan yang memungkinkan negara berkembang menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
Kontribusi ekonomi Jawa Timur terhadap nasional mencapai 14,54 persen, menjadikan provinsi ini barometer penting bagi perekonomian Indonesia. Infrastruktur yang lengkap, jaringan logistik yang kuat, serta ekosistem usaha yang terintegrasi membuat Jatim sering menjadi lokasi pelaksanaan program percontohan nasional.
Pertumbuhan ekonomi Jatim saat ini ditopang konsumsi rumah tangga sebesar 60,78 persen, diikuti investasi yang baru berkontribusi 27,24 persen. Ibrahim menilai porsi investasi harus terus diperkuat agar fondasi pertumbuhan semakin kokoh.
Dari sisi penawaran, struktur ekonomi Jatim masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 33,24 persen, disusul perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Lima sektor utama tersebut menyumbang 75 persen total perekonomian Jatim. Sejumlah sektor tumbuh signifikan pada triwulan III, seperti pertanian, konstruksi, informasi dan komunikasi, serta jasa pendidikan.
Inflasi Jawa Timur year-on-year tercatat 2,69 persen, lebih rendah dari inflasi nasional (2,86 persen). Namun, Ibrahim mengingatkan potensi tekanan inflasi pada periode November–Desember, terutama dari komoditas telur ayam, beras, dan minyak goreng.
Jika inflasi dua bulan terakhir dapat dijaga pada kisaran 0,7 persen, maka inflasi Jatim diperkirakan tetap dalam batas aman hingga akhir tahun. Upaya pengendalian dilakukan melalui empat pilar: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, yang hadir dalam forum tersebut, menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pihak untuk menjaga daya beli dan stabilitas harga, terutama menghadapi Natal dan Tahun Baru, serta persiapan Ramadan dan Idulfitri.
“Kita harus memastikan masyarakat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap stabil,” ujar Khofifah. Pemerintah Provinsi Jatim akan memperbanyak pelaksanaan pasar murah dan meningkatkan monitoring harga di pasar tradisional.
Selain itu, Khofifah mendorong percepatan pembentukan TP2ED di seluruh wilayah, mengingat saat ini baru terbentuk di 29 daerah. Ia berharap kolaborasi antara TPID, TP2ED, dan TP2DD mampu memperkuat percepatan pembangunan ekonomi daerah secara lebih terintegrasi.








