KabarBaik.co – Tiga tahun lalu, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Sidoarjo, Jawa Timur, bernasib seperti TPA Regional Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, dengan revolusi manajemen pengelolaan sampah yang modern dan memiliki banyak inovasi, kini tempat itu menjadi rujukan pembelajaran di tingkat nasional.
Merujuk data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, kondisi TPA di Indonesia lumayan miris. Dari 520 Kabupaten/Kota, sebanyak 186 nya berada di fase tidak layak operasi dan tidak mampu menampung seluruh kiriman sampah rumah tangga. Akibatnya jika hal tersebut tetap bertahan maka tahun 2030 seluruh TPA tersebut akan penuh.
Ancaman akan penutupan TPA ini pernah menimpa TPA di Sidoarjo pada tahun 2021. Saat itu, TPA Giri Mulyo yang notabene milik Pemkab Sidoarjo terpaksa harus ditutup lantaran kelebihan kapasitas. Hal ini terlihat dari Gunungan Sampah yang semakin tinggi setiap harinya, hingga beresiko pada keselamatan pekerja. Selain menimbulkan ancaman longsor, kepadatan volume saat itu juga mengakibatkan antrean panjang truk pengangkut sampah yang tidak bisa membongkar muatannya.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo akhirnya mengakali sedemikian rupa agar gunugan ini tidak longsor. Mereka akhirnya membuat guunungan sampah menjadi berundak-undak dan rata. Hingga akhirnya beberapa kemudian truk sampah yang mencapai 300 unit setiap harinya kembali bisa membongkar muatannya hasil dari sampah warga Sidoarjo yang mencapai 1.000-2.000 ton per harinya.
Namun masalah kembali muncul dengan timbulnya bau yang mengakibatkan protes warga sekitar. DLHK Sidoarjo pun lantas menerapkan revolusi pengelolaan sampah dengan menerapkan konsep terpadu dari hulu hingga hilir.
Kepala DLHK Sidoarjo Bahrul Amig menguraikan, strateginya adalah dengan memaksimalkan penanganan sampah yang sudah terlanjur masuk di TPA namun di sisi lain juga mengurangi volume pengiriman sampah yang berasal dari TPS dan TPS 3R ke TPA. Dan tak lupa sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi produksi sampahnya.
Untuk Penanganan sampah di TPA yakni dengan pengelolaan sampah secara tertutup (sanitary landfill) yang terletak di sebelah gunungan sampah. Program ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan Pemerintah Jerman yang dibangun pada 2019 dan beroperasi mulai 2021.
”Melarang pemulung beraktivitas di gunungan sampah karena membahayakan keselamatan mereka. Mengalihkan pemulung menjadi tenaga pemilah sampah agar tidak kehilangan mata pencarian,” ujar Amig, Jumat (7/6).
Hasil dari pemilahan sampah kemudian diolah menjadi kompos dan eco lindi. Sementara sampah diolah menjadi bahan bakar jumputan padat (BBJP) atau refused Derived Fuel (RDF) yang berfungsi untuk campuran batubara untuk digunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selama tahun 2023, produksi BBJP mencapai 900 ton.
Di sisi hulu, Amig meminta pengelola memilah dan mengolah sampah yang diambil dari rumah tangga untuk mengurangi volumenya. Hanya sisa sampah yang benar-benar tidak bisa diolah baru dikirim ke TPA.
”Rata-rata sampah rumah tangga yang masuk ke TPA sejak Januari hingga Mei 2024 sekitar 598 ton setiap harinya. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan tiga tahun lalu yang rata-rata 800-1.000 ton per hari,” jelas Amig.
Menurut mantan Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo ini, sedikitnya ada sejumlah instrument sederhana untuk menyukseskan pengelolaan sampah. Pertama, politik anggara, yakni prosentase anggaran yang saat ini mencapai Rp 48 miliar atau 1,5 % dari APBD Sidoarjo tahun 2024.
Kedua, dukungan pembiayaan dari masyarakat untuk pengelolaan sampah. Dalam hal ini Pemkab Sidoarjo sudah menetapkan besaran tarifnya Rp 25.000 – Rp 30.000 per bulan untuk setiap Keluarga.
Untuk instrumen ketiga, adalah distribusi kewenangan dengan melakukan desentralisasi pada tiap subsistem pengelolaan sampah. ”Instrumen terakhir ialah membentuk kelembagaan yang smart. Contohnya, membentuk Badan Layanan Umum Daerah TPA Griyo Mulyo sehingga pengelolaannya lebih modern dan profesional,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Kepala BLUD TPA Griyo Mulyo Hajid Arif Hidayat menjelaskan jika saat ini ia memiliki 276 karyawan, 70 truk dan 5 minidump. Selain itu ada 5 eskavator besar, 3 eskavator mini, 4 buldoser dan 2 wheel loader.
”Kami memiliki kapasitas sorting (penyortiran) 75 ton per hari, fasilitas composting 15 ton per hari, leachate treatment plant 300 ton per hari, dan RDF plant 20 ton per hari,” ucapnya.
Per hari ini, TPA Griyo Mulyo melayani pengangkutan sampah dari 157 titik angkut di seluruh wilayah Sidoarjo. ”Kami menerapkan tarif untuk setiap layanan sampah yang dikirim ke TPA dari TPS maupun TPS 3R. Dengan tagline’pay as you throw’, bayar sesuai volume sampahmu,” imbuhnya.
Setiap truk sampah yang datang akan ditimbang, baik saat masuk maupun saat akan keluar lokasi TPA, hal ini sebagai upaya penetapan tarif layanan secara transparan.
Dengan beragam keberhasilan ini, pada Jumat (7/6/2024), TPA Griyo Mulyo mendapatkan kehormatan melalui kunjungan perwakilan Pemerintah Daerah dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dalam rangka penguatan strategi pengelolaan sampah yang terpadu dan berwawasan lingkungan sebagai salah satu game changer dalam RPJPN 2025-2045. (*)






