KabarBaik.co – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, komunitas, dan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan dalam acara “Sharing Ekraf” yang berlangsung di Deks Space, Ciputra World, Surabaya. Deks Space, yang menjadi rumah bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf), mendapat apresiasi sebagai salah satu upaya nyata untuk mendukung pelaku usaha kecil dan rintisan dalam memamerkan karya mereka di lokasi strategis.
“Deks Space ini bukan hanya tempat untuk display, tapi juga event space yang sering digunakan untuk workshop dan kegiatan kolaboratif lainnya. Bahkan, hari ini kita kedatangan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Mas Yovie Widianto. Ini sebuah kebanggaan karena menunjukkan bahwa ekraf di Jawa Timur mendapat perhatian serius,” ujar Emil, ditemui disela-sela acara sharing ekraf di Ciputra World Surabaya, Sabtu (26/4).
Ia juga menyoroti bahwa profit semata tidak selalu menjadi indikator keberhasilan ekonomi kreatif. Sebaliknya, hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran (awareness), komunitas, dan kolaborasi lintas sektor. “Konsep ekonomi kreatif itu luas. Kita bahkan sulit membayangkan hidup tanpa elemen ekraf, baik itu kriya, tekstil, musik, hingga produk digital. Dengan adanya digitalisasi, semua elemen ini makin terakselerasi,” tambahnya.
Sementara itu Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, yang hadir sebagai narasumber juga menekankan bahwa potensi ekraf Indonesia sangat besar. “Dari Sumatera hingga Papua, ada lebih dari 550 sentra budaya. Jawa Timur, dengan seperenam populasi Indonesia, tentu memiliki kekuatan ekraf luar biasa. Tinggal bagaimana kita menggali dan mengoptimalkannya,” jelas Yovie.
Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mendukung perkembangan ekraf. “AI bisa membantu kita sebagai pelaku ekraf, meski tidak harus sepenuhnya bergantung padanya. Yang terpenting adalah memadukan teknologi dengan kreativitas manusia,” tambahnya.
Deks Space di Ciputra World menjadi contoh kolaborasi yang berhasil, berawal dari inisiatif di masa pandemi. Mall ini tidak hanya memberikan ruang fisik bagi pelaku ekraf, tetapi juga dukungan untuk mengadakan berbagai kegiatan kreatif. Emil berharap program ini bisa menjadi model yang diterapkan di tempat lain, agar ekraf di Jawa Timur terus berkembang.
Melalui kolaborasi ini, Jawa Timur diharapkan dapat menjadi salah satu pusat ekraf nasional yang tidak lagi terpusat di Jakarta. Dengan digitalisasi dan potensi budaya yang melimpah, Emil dan Yovie sepakat bahwa ekraf harus menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
“Ekraf bukan sekadar opsi, melainkan elemen penting yang menentukan daya saing produk kita. Mari bersama-sama mendorong ekraf agar semakin maju, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga di seluruh Indonesia,” pungkas Emil.(*)






