KabarBaik.co – Siang ini, aroma khas kolak ayam kembali menyeruak dari Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik. Seperti jemaah yang tak sabar menunggu adzan magrib, ribuan tamu dari berbagai daerah diperkirakan akan datang bersiap mencicipi hidangan sakral yang telah bertahan lebih dari lima abad ini.
Tahun ini, Panitia Sanggring 2025 menyiapkan 3.500 porsi kolak ayam. Jumlah terbanyak sepanjang sejarah. “Alhamdulillah, tahun ini tamu semakin banyak, bahkan ada yang datang dari Bojonegoro dan Malang. Ini bukti bahwa tradisi kita makin dikenal luas,” ujar Didik Wahyudi, ketua Panitia Sanggring 2025, Sabtu (22/3).
Tak sekadar kuliner, kolak ayam adalah warisan spiritual. Setiap malam 23 Ramadan, tradisi ini digelar sebagai bentuk syukur dan penghormatan. Para pendahulu telah memperkenalkan hidangan unik ini sejak 940 silam. Perpaduan ayam, gula merah, jinten, dan santan menghadirkan rasa yang konon diyakini sebagai simbol keseimbangan hidup: manisnya keberkahan, gurihnya perjuangan, dan hangatnya kebersamaan.
Tak main-main, untuk meramu hidangan istimewa ini, panitia mengerahkan 300 orang dan menghabiskan 279 ekor ayam, 740 kilogram gula merah, 60 kilogram jinten, serta 600 butir kelapa dan setengah kuintal ketan. “Kami sudah menyiapkannya jauh hari bahkan sebelum Ramadan. Sedangkan persiapan memasak, pengemasan dan penyajiannya kami sudah mulai dari Jumat kemarin,” ujar Wahyudi.
Proses pengemasan masih berlangsung hingga saat ini. Setiap porsi seberat 340 gram dikemas dalam kotak plastik, lengkap dengan ketan dan dua butir kurma. Biaya penyelenggaraan pun tak sedikit, tahun ini mencapai Rp 240 juta, meningkat dari tahun sebelumnya Rp 160 juta. Dana itu dikumpulkan dari swadaya masyarakat, donatur, dan berbagai pihak yang ingin melestarikan tradisi ini.
Bagi Didik Wahyudi, kolak ayam bukan sekadar makanan, melainkan pesan budaya yang harus diwariskan. “Kami sengaja melibatkan pemuda dalam persiapan agar mereka sadar pentingnya menjaga warisan ini. Tanpa generasi penerus, tradisi ini bisa memudar,” katanya.
Malam nanti, setelah kolak ayam dibagikan, tausiyah dari KH Anwar Zahid akan menjadi penutup yang menghangatkan hati. Seperti kolak ayam yang terus mendidih dalam kuali besar, semangat menjaga tradisi ini pun tak boleh redup agar warisan lima abad ini tetap lestari di tanah para wali. (*)







