KabarBaik.co – Meski dianggap sebagai tumbuhan hama, ilalang rupanya sangat penting bagi masyatakat adat Osing Banyuwangi. Tumbuhan bernama latin Imperata cylindrica menjadi pelengkap yang membersamai laku hidup masyarakat Osing.
Pemanfaatan tumbuhan berdaun runcing dijadikan syarat dalam upacara adat seperti pernikahan, lahiran atau upacara adat lainnya.
Pemanfaatan yang paling mencolok dapat dilihat dari sebagian kontruksi rumah-rumah adat Osing. Dimana masyarakat memanfaatkan ilalang sebagai material atap atau genteng.
Bahkan bukan hanya pelengkap, atap ilalang bahkan menjadi syarat wajib yang digunakan sebagai material kontruksi bangunan, terutama yang terkait dengan bangunan sakral atau makam leluhur.
Seperti pada makam Buyut Wongsokaryo, Buyut Cili, Buyut Ketut dan Mbah Semi dimana kontruksi atapnya menggunakan ilalang.
Salah satu tokoh adat Osing Jam’i Abdul Gani mengatakan pemanfaatan ilalang sebagai material kontruksi karena pada zaman dahulu genteng dan material moderen lainnya belum begitu familiar.
Masyarakat osing kala itu memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar lingkungan. Salah satunya adalah ilalang.
“Jadi memanfaatkan sumber daya yang ada disekitar lingkungan. Masyarakat memanfaatkan ilalang menjadi atap,” kata Jam’i.
Jam’i menjelaskan masyarakat Osing suka menggunakan atap berbahan ilalang karena mampu menghadirkan kenyamanan. Saat hujan atap ilalang mampu menghangatkan suhu ruangan, sementara saat panas atap ilalang mampu mereduksi panas dan membuat ruangan menjadi sejuk.
Atap ilalang kemudian menjadi produk yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kemudian ilalang mengandung makna filosofis mendalam bagi kalangann masyarakat osing.
Jam’i menambahkan secara filosofis memiliki makna menghilangkan alangan atau penghalang. Dalam setiap upacara adat tumbuhan ini dipakai sebagai simbol harapan agar hajat yang digelar dijauhkan dari segala penghalang, balak atau marabahaya lainnya.
“Jadi secara filosofis alang-alang memiliki makna agar masyarakat dijauhkan dari alangan atau penghalang,” terangnya.
Dia menyebut ilalang juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Osing. Hal ini berkaitan dengan pembuatan atap ilalang yang hanya bisa dilakukan dengan cara gotong royong. Mulai dari proses pemotongan hingga perakitan atap wajib dilakukan bersama-sama dengan rangkain ritual yang membersamainya.
“Di beberapa makam dan petilasan leluhur umumnya atap diganti 6 tahun sekali, mulai proses ngaret (pemotongan), penjemuran hingga perakitan dilakukan secara gotong royong. Sehingga ilalang juga dimaknai sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan bagi masyarakat Osing,” tegasnya.
Upaya pelestarian pemahaman tentang ilalang dilakukan oleh sejumlah masyarakat adat Osing. Seperti yang dilakukan Pesinauan sebuah sekolah pelestari adat Osing.
Pesinauan berkolaborasi dengan Direktorat Kepercayaan Terjadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat menggelar workshop rancang ilalang. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan kalangan pemuda-pemudi Osing.
Workshop berlangsung dua hari 6-7 Juli bertujuan untuk melestarikan gagasan arsitektur ilalang bagi masyarakat Osing sekaligus memperluas pemanfaatan ilalang sebagai bahan interior dan eksterior bangunan agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat adat.(*)