KabarBaik.co – Di antara aroma kopi yang menenangkan dan suasana hangat kafe Omah Lawas di Surabaya, dinding-dindingnya penuh warna. Lukisan bunga kertas, kembang sepatu, hingga bunga matahari terpajang dengan goresan bertekstur tebal dan energi menyala. Setiap sapuan cat menghadirkan kehidupan baru, seolah bunga itu bisa disentuh.
Di balik karya penuh jiwa itu, berdiri sosok perempuan bernama Lembah Setyowati atau yang akrab disapa Mbak Nunung. Kisah hidupnya ibarat aliran sungai yang tak pernah berhenti bergerak. Pada masa mudanya, Mbak Nunung dikenal sebagai peragawati. Dunia gemerlap mode membawanya menjadi pengajar di sekolah kepribadian John Robert Power, sebelum akhirnya menapaki jalur politik hingga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Golkar.
Namun, ada satu dunia yang selalu memanggilnya. Dunia yang tak pernah padam meski jalan hidupnya berbelok ke banyak arah: seni lukis. Ketertarikannya pada seni rupa muncul sejak 1980-an. Ayahnya, Soewarno Harso, dan mertuanya, Wiwiek Hidayat, pelukis ternama Surabaya, menjadi sumber inspirasi awal. “Lama-lama saya lihat mereka melukis jadi terpengaruh juga,” kenangnya saat ditemui di Surabaya, Minggu (7/9).
Tanpa pendidikan formal seni rupa, Mbak Nunung memilih jalan otodidak. Pisau palet dan cat akrilik menjadi sahabat setianya. Dengan sabar, ia menorehkan warna demi warna, melahirkan karya dengan ciri khas sapuan tebal dan tekstur timbul.
Keteguhannya berbuah pengakuan. Pada 2003, ia menggelar pameran tunggal di Amsterdam. Karyanya bahkan dipamerkan di Cultureel Centrum Van Gogh, Zundert, tempat kelahiran sang maestro. “Di sana banyak orang Belanda membeli lukisan bunga matahari saya,” ucapnya dengan senyum.
Mbak Nunung memilih aliran ekspresionisme, yang menekankan ungkapan jiwa. Baginya, bunga bukan sekadar bentuk indah, tetapi bahasa batin. “Bunga matahari selalu menarik bagi saya. Bunga ini mengandung nilai kehidupan,” katanya. Tak heran, bunga matahari menjadi ikon dalam ratusan karyanya. Setiap helai kelopak yang tergambar di kanvas adalah cerminan perjalanan hidup, harapan, kegembiraan, bahkan kesedihan.
Dengan lebih dari seribu karya yang dihasilkan, melukis bagi Mbak Nunung bukan sekadar profesi, melainkan cara mengekspresikan diri. “Saya tidak tahu siapa Van Gogh, tapi lukisan beliau tentang bunga matahari sangat menjiwai saya,” ucapnya jujur.
Dulu, rumahnya pernah ia jadikan galeri seni bernama Anggun Cipta Galeri. Namun, kesibukan politik membuat ruang itu vakum. Kini, rumah itu ia hidupkan kembali sebagai kafe Omah Lawas. Di sana, pengunjung tak hanya menikmati secangkir kopi, tetapi juga merasakan nuansa klasik yang berpadu dengan deretan lukisan penuh warna. Ruang itu menjadi titik temu antara seni, kehangatan, dan kehidupan.
Perjalanan hidup Mbak Nunung adalah kisah tentang keberanian mengikuti suara hati. Dari panggung mode, gedung parlemen, hingga dunia seni, semuanya mengalir dan bermuara di kanvas. Julukan “Van Gogh dari Indonesia” hanyalah pengakuan dari luar. Sesungguhnya, ia adalah dirinya sendiri: seorang perempuan yang menemukan cahaya hidup lewat bunga. (*)








