KabarBaik.co– Di ufuk timur Jawa, seorang pemud lahir dari aroma roti hangat Lyly Bakery dan debu lapangan kecil di belakang rumahnya. Fariz Julinar Maurisal, anak pendidik yang sejak remaja sudah membawa tas berisi mimpi lebih besar daripada tubuhnya sendiri, pernah berjalan di dua rel yang sejajar namun tak pernah benar-benar bertemu: rel bisnis dan rel sepak bola.
Ia membangun Belikopi seperti seorang tukang kebun menanam kopi robusta di tanah kering. Sabar, satu cabang demi satu cabang, hingga kini daun-daunnya menaungi ratusan pemuda Lamongan yang mendapat kerja dan harga diri.
Ketika orang lain melihat secangkir kopi, Fariz melihat ladang harapan. Prestasi ini tak luput dari sorotan. Pada Agustus 2024, ia menerima Jawa Pos Radar Bojonegoro Awards di kategori Ekonomi dan Entrepreneur, sebuah mahkota kecil yang mengakui dedikasinya membuka lapangan kerja baru, lengkap dengan foto bersama Menteri Prof. Dr. Pratikno, seperti yang diabadikan dalam kilauan malam penganugerahan itu.
Lalu datanglah panggilan yang lebih berisik daripada mesin penggiling kopi: Persela Lamongan, sang Laskar Joko Tingkir yang sedang terluka. Pada April 2022, Fariz mengenakan mahkota manajer. Mahkota yang terbuat dari “duri” suporter, tagihan listrik stadion, dan doa ibu-ibu di tribun timur.
Empat tahun ia memikulnya. Ia menolak tidur ketika tim kalah, ia menangis diam-diam ketika tim bertahan, ia menjual sebagian mimpinya sendiri agar gaji pemain tetap terbayar.
Tapi mahkota itu, ternyata, terlalu berat untuk dipakai seorang diri ketika angin berubah arah. “Empat tahun saya merawat klub ini dengan tanggung jawab dan profesional. Namun, saya memutuskan pamit undur diri,” ujar Fariz kepada awak media.
Pada 17 November 2025, di Semarang yang hanya berjarak 3-4 jam perjalanan namun terasa seperti dunia lain, istrinya—Datu Nova Fatmawati—mengangkat tangan dan membeli 74,2 persen saham PSIS Semarang, klub yang baru saja terlempar dari Liga 1 dan kini meringkuk di Liga 2, sama seperti Persela.
Tiba-tiba, satu keluarga memegang dua pedang yang suatu saat bisa saling berhadapan di lapangan yang sama.
Fariz tahu, dalam sepak bola tidak ada ruang untuk “mungkin”. Ada suporter yang menunggu jawaban hitam-putih, bukan abu-abu. “Untuk semua Persela fans, saya dan kalian sama-sama cinta dengan klub kebanggaan kita semua Persela Lamongan. Untuk kebaikan kota Lamongan, untuk kebaikan Persela Lamongan, saya pamit undur diri dari Persela Lamongan,” tulisnya dalam unggahan Instagram yang menyayat,
“Kalau ada salah atau kurangnya saya dalam mengurus tim ini, baik lisan maupun tulisan, saya meminta maaf kepada para suporter dan masyarakat Lamongan.”
Maka pada Jumat malam, 21 November 2025, ia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan seorang sultan. Melepas mahkotanya sendiri. Lewat satu postingan Instagram yang ditulis dengan tinta duka, Fariz Julinar mengucapkan selamat tinggal kepada Persela. Klub yang dirawat seperti anak sendiri selama empat musim.
Kini, di persimpangan dua kota dan dua warna kebesaran—biru Langit Lamongan dan biru Navy Semarang—Fariz berdiri tanpa jabatan resmi. Alumnus SMAN 2 Lamongan itu kembali menjadi apa yang selalu ia kuasai, seorang pengusaha yang membawa secangkir kopi hangat untuk siapa saja yang mau duduk dan bermimpi bersamanya.
“Saya berkomitmen akan terus mensupport Persela Lamongan ke depannya,” tambahnya dalam pernyataan yang sama, menjanjikan api tak pernah padam.
Mahkota Persela kini kosong, menunggu kepala baru. Tapi aroma kopi Belikopi masih menguar, dan di baliknya, seorang Fariz Julinar tetap berjalan, tanpa mahkota, tapi dengan hati yang lebih lapang dari sebelumnya.
Lamongan kehilangan manajernya.
Sepak bola Indonesia, mungkin, baru saja menyaksikan kelahiran legenda yang berbeda: seorang yang berani mundur demi menjaga api tetap menyala, bukan membiarkannya menjadi bara yang membakar semua yang sama-sama dicintai. (*)







