Makanan Retort: Makanan Siap Makan Penyelamat di Kala Bencana

oleh -737 Dilihat
WhatsApp Image 2025 12 09 at 1.44.42 PM

KabarBaik.co – Apa yang paling dibutuhkan korban bencana seperti di Sumatera ketika semua akses tertutup? Makanan. Terutama makanan yang langsung bisa dimakan tanpa dimasak.

Sebenarnya sudah lama ada teknologi pengawetan pangan yang disebut dengan retort. Kini banyak terlihat di minimarket. Deretan pouch makanan siap makan yang tidak disimpan di lemari pendingin. Itulah contoh makanan retort.

Sederhananya, retort ini adalah cara mengawetkan makanan tanpa ditambah bahan pengawet. Awetnya juga tidak main-main. Bisa bertahan lebih dari satu tahun tanpa masuk kulkas. Saat ingin dikonsumsi, langsung sobek kemasannya. Bisa langsung dimakan tanpa perlu dipanaskan lagi. Benar-benar sobek langsung hap!

Makanan ini bisa awet karena telah disterilisasi menggunakan suhu dan tekanan tertentu. Salah satu pengusaha UMKM retort, Novia Tri Kusumawati menjelaskan prosesnya.

“Makanan dimasak biasa. Setelah itu, dibagi per porsi. Dimasukkan ke plastik retort, dan disegel. Kemudian disterilisasi dengan suhu dan tekanan tertentu. Jika makanan dipanaskan di atas suhu 121 derajat Celcius dalam waktu tertentu, maka kuman akan mati sampai ke sporanya.”

Selama kemasan tidak bocor atau menggelembung, maka makanan awet hingga lebih dari 1 tahun. Karena itu sangat cocok dikonsumsi saat bencana.

Novia sudah mengirimkan lebih dari seribu paket makanan retort untuk bencana di Sumatera. Tiap paket berisi nasi dengan berbagai macam lauk dan sayur, seperti gulai ayam, oseng tempe, rendang, sayur daun singkong dan sebagainya.

Diakui Novia, menu Sumatera sebenarnya tidak ada di restonya. Namun, ini dibuat khusus bagi korban bencana. Bahkan, pemilik resto Omah Syusyu ini menghentikan sementara pengiriman regular ke pelanggannya dan fokus untuk pengiriman makanan ke Sumatera.

Kirim ke Semeru

Semua bermula dari pelanggannya. Salah satu pelanggannya adalah relawan saat bencana Gunung Semeru November lalu. Dia membuka donasi dan memesan lauk retort Omah Syusyu untuk dibawa ke Semeru. Melihat kepraktisan dan efektifnya lauk retort, relawan tersebut meminta Novia lagi untuk membuatkan lauk retort bagi korban dan relawan bencana Sumatera.

Batch 1 dan 2 sudah dikirim. Sekarang bersiap untuk batch 3. Semuanya dibawa hand carry oleh relawan dari Solo,” lanjut wanita berusia 43 tahun ini. Novia tidak menerima donasi langsung. Biasanya ada pihak lain yang mengumpulkan donasi, baru memesan ke Omah Syusyu.

“Biar kami fokus memasak saja. Karena semua masih dikerjakan sendiri. Yang lama itu proses pengemasan karena harus ditimbang per paket.”

Sebenarnya bukan fokus Novia menghadirkan lauk retort untuk korban bencana. Bermula dari keresahannya sebagai ibu yang anaknya mondok. Si sulung termasuk pemilih makanan. Apalagi kondisi di pondok yang memiliki keterbatasan untuk memenuhi seleranya.

“Anak saya sampai defisiensi (kekurangan) protein. Saya berupaya mencari rumah makan di sekitar pondok yang bisa mengirimkan lauk untuk menambah kebutuhan proteinnya.”

Setelah Novia memproduksi sendiri lauk retort, anaknya tinggal minta ingin dibawakan masakan apa. Kemudian dikirim ke pondok. Teman-temannya yang melihat lauk kiriman Novia, ngiler. Mereka pun meminta orang tua masing-masing untuk membeli lauk retort Novia dan dikirim ke pondok. Dari situlah konsumen anak pondok terbentuk.

Selain itu, lauk retort ini juga praktis dibawa sebagai bekal saat umroh atau ke luar negeri. Beberapa konsumen setia yang berkunjung ke Jepang dan China banyak mengirimkan produk retort milik negara terkait sebagai pembanding, walaupun tidak diminta.

Makanan retort ini di Jepang dan China sudah menjadi oleh-oleh dan konsumsi sehari-hari karena kepraktisannya. Setiap rumah di Jepang bahkan menyimpan banyak makanan siap makan seperti ini. Dengan begitu ketika terjadi bencana, mereka lebih siap dan cepat pulih. Ketika relawan dan pemerintah masuk, mereka bisa fokus pada pemulihan bukan pada dapur umum untuk bertahan hidup.

Jatuh Bangun Produksi

Novia tidak langsung berhasil mengembangkan produk retort. Sekitar 2019, Novia membangun Restoran Omah Syusyu yang beralamat di Jl. Kertek Selomerto KM 3 Wonosobo, Jawa Tengah.

Sayangnya, dua tahun terakhir kondisi restorannya lesu. Novia pun berpikir untuk menjual masakan restonya secara online. Caranya dengan retort.

Lulusan Ekonomi Universitas Negeri Solo ini pun mencari ilmunya. Selain mencari tahu di dunia maya, Novia juga mengikuti beberapa pelatihan. Dia mulai berani menjual lauk retort setelah belajar sekitar setahun. Di awal membuka pesanan retort, dia memberi garansi kepada pembelinya. Jika saat dikonsumsi sudah berubah rasa atau menggembung saat di perjalanan, uang akan dikembalikan.

“Saat itu entah berapa banyak paket yang menggelembung atau tidak layak konsumsi. Mental saya juga kena. Namun, saya tidak menyerah karena melihat potensi besar yang ada di lauk retort. Saya juga harus menggaji karyawan resto,” ungkap Novia menjelaskan motivasinya.

Selain itu, Novia tinggal di sebuah desa di Wonosobo yang kaya sumber daya alam. Harga bahan mentah jadi murah. “Kalau sudah jadi makanan olahan, bahan-bahan itu akan terserap. Tidak ada lagi petani yang membuang-buang hasil panennya,” harapnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Anggi


No More Posts Available.

No more pages to load.