Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI

oleh -98 Dilihat
KH Hasib Wahab Chasbullah menerima penghargaan 'Bapak ISHARI NU' untuk KH Abdul Wahab Chasbullah di Jombang. (istimewa)
KH Hasib Wahab Chasbullah menerima penghargaan 'Bapak ISHARI NU' untuk KH Abdul Wahab Chasbullah di Jombang. (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab mendapat penghormatan dari Pimpinan Pusat Ikatan Seni Hadrah Indonesia (PP ISHARI).

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut dianugerahi gelar ‘Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama’ atas jasanya dalam merintis dan memperjuangkan seni hadrah agar menjadi bagian dari perjalanan organisasi NU.

Penganugerahan gelar tersebut berlangsung dalam rangkaian Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Penghargaan diserahkan pengurus PP ISHARI kepada putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah atau Gus Hasib. Ia hadir mewakili keluarga besar atau dzurriyah Mbah Wahab.

Gus Hasib menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada ayahnya. Ia berharap penghargaan tersebut membawa keberkahan bagi ISHARI sekaligus mendorong organisasi seni hadrah tersebut semakin berkembang.

“Semoga penghargaan ini membawa berkah, ISHARI makin besar dan jaya,” ujar Gus Hasib dalam keterangannya, Sabtu (22/8).

Ribuan warga Nahdliyin, santri, anggota ISHARI, dan masyarakat umum turut mengikuti istighosah serta doa bersama tersebut.

Sejumlah tokoh penting PBNU juga hadir dalam acara itu. Di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta anggota Steering Committee Muktamar ke-35 NU Prof Muh Nuh.

Jajaran pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas juga tampak hadir, termasuk KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq.

Sejarah Mbah Wahab dan ISHARI

Penganugerahan gelar ‘Bapak ISHARI NU’ kepada Mbah Wahab tidak lepas dari sejarah panjang perkembangan seni hadrah di lingkungan NU.

Mbah Wahab melihat tradisi majelis selawat Terbang Abdurrahim yang dirintis Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi dari Pasuruan sebagai salah satu media dakwah yang memiliki daya jangkau luas.

Pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab menggagas agar jam’iyyah hadrah tersebut berada di bawah naungan resmi NU. Dari gagasan inilah kemudian lahir Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Mbah Wahab menjadikan seni dan budaya Islam sebagai media dakwah sekaligus menumbuhkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam proses awal pembentukan ISHARI, Mbah Wahab melibatkan sejumlah ulama NU, di antaranya KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, dan KH Muhammad bin Abdurrokhim.

Perjuangan Mbah Wahab berlanjut pada Agustus 1961. Ia mengirim surat kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim untuk membentuk Pengurus Pusat ISHARI yang berkedudukan di Surabaya.

Musyawarah ulama dan tokoh hadrah se-Jawa Timur pada September 1961 kemudian menetapkan Mbah Wahab sebagai pembina sekaligus pelindung. Sementara KH Muhammad bin Abdurrokhim dipercaya menjadi ketua.

Dorong ISHARI Masuk Struktur NU

Peran Mbah Wahab dalam memperjuangkan ISHARI di lingkungan NU semakin kuat ketika ia bersurat kepada Panitia Muktamar ke-23 NU di Surakarta.

Dalam surat tersebut, Mbah Wahab mendorong agar kesenian hadrah mendapat ruang dalam rangkaian kegiatan muktamar.

Seiring perkembangannya, ISHARI berada di bawah pembinaan Syuriyah NU. Perjalanan kelembagaan ISHARI kemudian mencapai babak penting ketika organisasi tersebut resmi menjadi Badan Otonom (Banom) NU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021.

Seni ISHARI memiliki ciri khas berupa perpaduan syair mahabbah kepada Rasulullah SAW, gerakan rodad, serta tepukan tangan yang dilakukan secara ritmis.

Kesenian tersebut kemudian berkembang dari Pasuruan ke berbagai daerah, mulai dari Jombang, Surabaya, Madura, hingga sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Dengan perjalanan tersebut, penganugerahan gelar ‘Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama’ menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi Mbah Wahab dalam menjadikan seni hadrah sebagai bagian dari khazanah dakwah sekaligus perjalanan kelembagaan NU.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.