Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun, Bos Djarum Wariskan Jejak di Bisnis dan Olahraga

oleh -31 Dilihat
MICHAEL BAMBANG HARTONO

INDONESIA kehilangan salah seorang pengusaha berpengaruh: Michael Bambang Hartono. Pendiri bersama Grup Djarum itu telah meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 13.15 waktu Singapura, di sebuah rumah sakit di Singapura.. Ia berusia 86 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Budi Darmawan, Senior Manager Corporate Communication PT Djarum: “Dengan duka cita mendalam, keluarga besar PT Djarum mengumumkan wafatnya salah satu pimpinan kami, Bapak Michael Bambang Hartono, pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura.”

Penyebab kematian belum diungkap secara resmi, meskipun sebelumnya beliau diketahui menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan pernah mengalami serangan jantung.

Lahir pada 2 Oktober 1939 di Kudus, Jawa Tengah, Michael Bambang Hartono (nama Hokkien: Oei Hwie Siang) adalah putra sulung dari Oei Wie Gwan, seorang pengusaha keturunan Tionghoa-Indonesia. Ayahnya membeli pabrik rokok bangkrut bernama Djarum Gramofon pada April 1951 dan mengubah namanya menjadi Djarum.

Awalnya, bisnis mereka memproduksi rokok kretek secara tradisional, dengan campuran tembakau dan cengkeh khas Indonesia yang menghasilkan suara “kretek” saat dibakar.

Tragedi terjadi pada 1963. Pabrik Djarum terbakar hebat. Tak lama kemudian Oei Wie Gwan meninggal dunia. Michael, yang saat itu berusia 24 tahun dan telah lulus dari Universitas Diponegoro, bersama adiknya Robert Budi Hartono mewarisi bisnis yang nyaris hancur. Dari titik nol—dengan pabrik hangus dan warisan terbatas—kedua bersaudara ini membangun kembali Djarum dengan tekad kuat.

Mereka fokus pada inovasi. Mengembangkan campuran baru kretek, memperkenalkan produksi mesin, dan mulai mengekspor pada 1972 ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Pada 1976, Djarum meluncurkan rokok kretek buatan mesin pertama, Djarum Filter, diikuti Djarum Super pada 1981.

Langkah tersebut mengubah Djarum menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia, menguasai pangsa pasar signifikan dan menjadikannya merek ikonik nasional.

Keberhasilan di sektor tembakau menjadi fondasi diversifikasi. Pasca-krisis ekonomi Asia 1997-1998, keluarga Hartono mengakuisisi saham pengendali Bank Central Asia (BCA) dari keluarga Salim. BCA kini menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Bisnis keluarga meluas ke perkebunan sawit, properti strategis di Jakarta, elektronik melalui merek Polytron, telekomunikasi, platform e-commerce, hingga kepemilikan klub sepak bola Italia Como 1907.

Menurut estimasi Forbes sebelum kematiannya, Michael dan Robert Hartono memiliki kekayaan gabungan mencapai sekitar USD 43,8 miliar, menjadikan mereka orang terkaya di Indonesia selama lebih dari satu dekade.

Kontribusi di Olahraga: Pilar Bulu Tangkis dan Atlet Bridge

Di luar dunia usaha, Michael Bambang Hartono dikenal sebagai pembina olahraga melalui Djarum Foundation. Kiprah terbesarnya ada di bulu tangkis melalui PB Djarum (Perkumpulan Bulutangkis Djarum), yang bermula dari lapangan sederhana di kompleks karyawan Djarum di Kudus pada akhir 1960-an atau awal 1970-an. Awalnya untuk rekreasi karyawan, klub ini dikembangkan menjadi pusat pembinaan profesional dengan sistem kaderisasi berkelanjutan dari usia dini hingga level elit.

PB Djarum menyediakan fasilitas standar internasional, pelatihan gratis, pendidikan, dan dukungan penuh bagi talenta muda dari berbagai daerah—tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kontribusi Michael bersifat strategis dan jangka panjang, menjadikan PB Djarum salah satu klub paling sukses di dunia dalam mencetak pemain top.

Beberapa legenda yang lahir dari PB Djarum antara lain Alan Budikusuma (emas Olimpiade Barcelona 1992), Liliyana Natsir (emas Olimpiade Beijing 2008 dan Rio 2016, serta berbagai gelar dunia), Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (mantan ranking 1 dunia ganda putra, juara All England, BWF World Tour Finals). Selain itu, Haryanto Arbi, Eddy Hartono, Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, dan banyak lagi.

Klub ini telah menghasilkan puluhan juara nasional, Asia, dunia, dan Olimpiade, menjadi fondasi utama kejayaan bulu tangkis Indonesia di kancah internasional. Ia sering disebut sebagai “arsitek pembinaan bulu tangkis nasional” dan “pilar utama” yang menjaga kesinambungan prestasi.

Selain itu, Michael adalah penggemar berat bridge (contract bridge). Ia berperan besar mendorong cabang ini masuk ke Asian Games 2018 di Jakarta. Pada usia 78 tahun, ia turun langsung sebagai atlet dan meraih medali perunggu untuk Indonesia di nomor supermixed—menjadi atlet Indonesia tertua yang meraih medali di ajang tersebut. Bonus Rp 150 juta dari pemerintah disumbangkannya kembali untuk pembinaan bridge nasional. Pada 2020, ia dianugerahi Satyalancana Dharma Olahraga oleh Presiden Joko Widodo atas dedikasinya di olahraga.

Michael Bambang Hartono meninggalkan warisan luar biasa. Dari pabrik kecil yang hampir musnah menjadi konglomerasi global yang membentuk perekonomian Indonesia, sekaligus ekosistem olahraga yang terus melahirkan juara dunia. Ia dikenang sebagai sosok visioner, tekun, inovatif, dan dermawan. Beliau meninggalkan istri, empat anak, serta saudaranya Robert Budi Hartono.

Jejak dan warisannya terus menginspirasi generasi mendatang. Rest in peace! (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.