Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Apresiasi Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026, Ini Alasannya

oleh -68 Dilihat
ILUSTRASI: Petugas haji sedang merawat jemaah sakit di musim haji tahun lalu. (Foto: Kemenag)

KabarBaik.co, Jakarta – Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini mencatat langkah maju dalam pelayanan jemaah. Jumlah petugas haji perempuan meningkat signifikan, sebuah perkembangan yang disambut penuh syukur oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi.

Menurut Arifatul, peningkatan ini bukan sekadar soal statistik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan layanan yang lebih ramah, empatik, dan sesuai kebutuhan jemaah. Terutama perempuan dan lansia yang kini mendominasi keberangkatan haji Indonesia.

“Alhamdulillah, tahun ini komposisi petugas perempuan sudah mencapai 33 persen, tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan haji Indonesia,” ujar Arifatul seperti dikutip dari laman resmi Kemenhaj, Jumat (6/2).

Arifatul menjelaskan, 55,4 persen jemaah haji Indonesia adalah perempuan, dan sebagian besar dari mereka berusia lanjut. Kondisi ini menuntut pendekatan pelayanan yang lebih sensitif dan penuh empati.

Pengalaman Arifatul saat menjadi Amirul Hajj 2025 menjadi pelajaran berharga. Saat itu, keterbatasan jumlah petugas perempuan membuat sejumlah kebutuhan jemaah perempuan tidak tertangani secara optimal.

“Banyak persoalan yang memang lebih tepat ditangani petugas perempuan, seperti fikih perempuan, pendampingan di kamar, sampai situasi darurat yang menyangkut privasi jemaah,” jelas Arifatul.

Ia juga menyoroti kondisi jemaah lansia yang membutuhkan perhatian ekstra. Pada musim haji sebelumnya, ditemukan kamar yang seluruh penghuninya lansia. Saat salah satu sakit atau kesulitan ke kamar mandi, tidak ada yang cukup kuat membantu.

“Kedepan, kami mengusulkan komposisi kamar yang lebih seimbang, ada jemaah yang lebih muda agar bisa saling membantu. Ini terlihat sederhana, tapi dampaknya besar bagi kenyamanan dan martabat jemaah lansia,” tuturnya.

Bagi Arifatul, konsep haji ramah perempuan dan lansia adalah cerminan bangsa yang beradab. Negara, menurutnya, harus hadir sepenuhnya dalam memastikan warganya dapat beribadah dengan aman dan bermartabat di tengah tantangan cuaca ekstrem dan lingkungan berbeda di Tanah Suci.

Terkait pedoman khusus layanan perempuan, Kementerian PPPA masih membahasnya bersama pemangku kepentingan lain untuk dimasukkan dalam penyempurnaan regulasi haji mendatang.

“Yang paling penting, pelayanan itu berangkat dari hati. Empati harus menjadi dasar, karena jemaah yang kita layani adalah tamu Allah sekaligus warga negara yang harus kita jaga martabat dan keselamatannya,” ucap Arifatul.

Sementara itu, Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menyebut total petugas haji perempuan tahun ini, baik petugas kloter maupun non-kloter, mencapai sekitar 755 orang. “Angka ini menjadi tonggak penting dalam upaya menghadirkan pelayanan haji yang lebih inklusif, manusiawi, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah,” tandas Chandra. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.