KabarBaik.co, Jember – Perhelatan budaya tahunan Festival Egrang ke-14 yang diinisiasi Komunitas Tanoker di Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu (8/8), berlangsung semarak. Mengusung tema “Membangun Komunitas Melalui Permainan Tradisi”, ajang ini tidak hanya memperkuat pelestarian kearifan lokal, tetapi juga menghadirkan ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi, Bupati Jember Muhammad Fawait, Konsul Jenderal Australia untuk Jawa Timur Glen Askew, serta Pendiri Tanoker Farha Abdul Kadir Assegaf (Bunda Ciciek).
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi memberikan apresiasi tinggi atas terbentuknya ekosistem warga di Ledokombo. Ia menilai inisiatif yang memadukan pelestarian tradisi dengan pemberdayaan perempuan dan anak ini sebagai inovasi sosial yang inspiratif.
Menurut Arifatul, hal menarik dari gerakan di Ledokombo adalah pola pembangunannya yang bersifat bottom-up. Program justru lahir dari ikhtiar mandiri masyarakat desa, bukan sekadar menjalankan arahan birokrasi dari pusat atau daerah.
Sinergi antara potensi warga dan Pemerintah Kabupaten Jember dianggap sebagai modal sosial kuat dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Di sisi lain, permainan tradisional seperti egrang dinilai menjadi alternatif efektif untuk mengalihkan ketergantungan anak dari gawai (gadget).
Namun, Arifatul mengingatkan para orang tua agar tetap mewaspadai tantangan pengasuhan di era digital, terutama terkait derasnya arus informasi dan penggunaan media sosial tanpa filter.
“Tantangan anak dan keluarga saat ini sangat kompleks. Kita tentu tidak bisa menghindar dari kemajuan teknologi informasi, tetapi pendampingan orang tua saat anak mengonsumsi media digital adalah hal yang mutlak,” ujar Arifatul.
Sebagai langkah konkret, Kementerian PPPA saat ini sedang menggalakkan Gerakan Nasional penciptaan ruang aman bagi anak di seluruh Indonesia. Gerakan ini mencakup empat pilar perlindungan utama, yakni di lingkungan keluarga, ruang publik, satuan pendidikan, serta ruang digital.
Arifatul menegaskan bahwa perlindungan anak yang berkelanjutan tidak dapat dibangun hanya lewat regulasi di atas kertas, melainkan membutuhkan kolaborasi nyata lintas sektor. Ekosistem kemitraan yang telah berjalan antara Komunitas Tanoker dan Pemkab Jember di bawah kepemimpinan Gus Fawait dipandang sebagai contoh konkrit yang patut dicontoh.
“Secara prinsip, Jember sudah memiliki kegiatan dan wadah kolaborasi yang menjadi ruang bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan anak,” pungkasnya.(*)






