Menyusuri Jejak Sunyi di Langit Hira

oleh -795 Dilihat
Gua Hira yang berada di Jabal Nur, tempat Nabi Muhammadi SAW menerima wahyu pertama. (Foto BPKH)

DI ANTARA riuh tugas dan panggilan duniawi, terkadang takdir menyelipkan sepucuk undangan dari langit. Undangan itu tak terbungkus amplop. Tak pula berhias emas atau tinta kaligrafi. Ia hadir dalam bentuk kejadian biasa, namun sarat makna.

Tahun 2013, dalam balutan peran sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bagian Media Center Haji (MCH), saya menerima salah satu undangan langit itu. Kesempatan menjejakkan kaki menuju Jabal Nur, di mana Gua Hira bersandar dalam kesunyian yang abadi.

Baca juga: Panggilan Langit

Bagi sebagian orang, pendakian hanyalah soal fisik. Kaki yang kuat, napas yang panjang, dan waktu yang cukup. Namun bagi saya, perjalanan ke Gua Hira bukan sekadar pendakian tanah dan batu. Ia adalah jalan menanjak menuju langit hati, anak tangga menuju kesadaran yang lebih tinggi. Di sinilah, dalam detak pelan kaki yang menapak batu-batu sejarah, saya bersama rekan MCH lain menapaki jejak yang tak kasat mata. Jejak ruhani.

Langit Makkah waktu itu tidak terlalu terik. Matahari seakan malu menampakkan keangkuhannya, mungkin karena sadar ia sedang menyinari tanah yang disucikan oleh wahyu. Kami memulai pendakian bukan dengan ambisi, tetapi dengan takzim.

Setiap langkah seolah menjahit lembar-lembar doa yang pernah terucap sejak kecil. Bukit batu itu bukan sekadar gugusan mineral, tetapi seperti tubuh raksasa yang menyimpan memori semesta. Ia menjadi saksi bisu pergolakan jiwa, tangisan pencarian, dan sabda keabadian.

“Dan Kami telah meninggikan bagimu sebutan (nama) mu.” (QS. Al-Insyirah: 4)

Di sisi kanan dan kiri saya, tampak para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Ada yang muda, ada yang renta. Tapi tidak semua sanggup mencapai puncaknya. Gunung ini menantang. Bukan hanya otot, tetapi juga niat. Di sinilah saya menyadari, tak semua yang ingin bisa sampai. Hanya yang diundang dan disanggupkan. Maka, sejak langkah pertama, saya merasa bukan sedang mendaki, tapi sedang “dipanggil pulang”. Pulang kepada diri yang hakiki.

Jabal Nur seakan menyimpan suara. Batu-batunya, yang kasar dan panas, seperti lidah-lidah bisu yang ingin mengisahkan sesuatu. Mereka menyampaikan pesan tanpa kata. Tentang keheningan yang lebih nyaring dari keramaian, tentang cahaya yang lahir dari dalam kegelapan.

Baca juga: Hajar Aswad dan Nama Ibu

Setiap kali kaki saya menjejak batu, saya membayangkan Rasulullah SAW menyusuri jalur yang sama. Lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Dalam keheningan malam, beliau meniti jalan ini, bukan untuk mendaki gunung, tetapi mendaki jiwanya. Setiap batu seolah pernah disentuh oleh telapak kaki kenabian. Dan kini, saya—dengan segala kelemahan dan keterbatasan—ikut melintasinya. Bukan untuk menyamai, melainkan untuk mengenang dan menghidupkan kembali pertanyaan-pertanyaan besar dalam dada saya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: “Aku diberi wahyu saat aku sedang berada di Gua Hira.” (HR. Bukhari)

Setelah melewati peluh dan letih, akhirnya saya tiba di tempat itu. Melihatnya, Gua Hira. Sebuah rongga kecil di tubuh gunung. Namun, menjadi pintu masuk menuju cakrawala tak bertepi. Ia sunyi. Ia sempit. Tapi justru dalam kesempitannya, semesta seolah masuk ke dalam.

Saya duduk di depan sana, diam. Merenung sambil menatap-wajah begitu banyak Jemaah di situ. Tak ada yang perlu dikatakan. Kata-kata akan kehilangan daya di hadapan ruang yang menjadi titik temu langit dan bumi. Di sinilah Malaikat Jibril menyampaikan firman pertama: “Iqra!” Bacalah!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Namun saat itu, saya merasa perintah itu bukan hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad. Tapi, juga kepada setiap jiwa yang duduk di ruang sunyi itu. “Bacalah” bukan hanya soal aksara, tetapi juga soal membaca kehidupan, membaca luka, membaca makna, membaca diri.

Saya membaca keheningan. Saya membaca detak jantung saya sendiri yang berdegup lebih pelan, lebih khusyuk. Saya membaca bahwa setiap manusia adalah kitab, dan Gua Hira ini adalah momen ketika halaman-halaman terdalamnya mulai terbuka.

Selama di Makkah, saya menyaksikan banyak rekan yang ingin naik ke Gua Hira. Namun, tak semua sanggup. Ada yang kelelahan. Ada yang takut. Ada yang terganggu kesehatannya. Maka, saya merasa, kekuatan untuk mendaki bukan berasal dari otot semata. Ada takdir yang mengalir pelan, yang diam-diam menyentuh sebagian orang dan berkata, “Kamu harus naik.”

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Qashash: 56)

Saya teringat kisah Nabi Musa yang mendaki Thur, Nabi Isa yang merenung di gunung, bahkan Nabi Ibrahim yang menatap bintang di malam tenang. Para pencari kebenaran selalu mendaki. Karena hakikat kebenaran bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan di dataran rendah kenyamanan. Ia tersembunyi di balik peluh, lelah, dan hening.

Dari puncak Jabal Nur, saya melihat Kota Makkah. Bak mangkuk raksasa. Sebuah kota yang sibuk, padat, dan bergemuruh. Tapi dari sini, suara-suara itu seolah menjauh. Yang tersisa hanya detak napas dan desir angin yang membawa zikir para nabi.

Saya teringat, betapa Gua Hira menjadi titik tolak perubahan dunia. Dari gua kecil ini, lahir gelombang sejarah yang mengubah wajah manusia. Di sinilah wahyu pertama turun. Di sinilah kesendirian melahirkan kebenaran yang universal.

“Dan engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Kini, duduk di ambang gua tersebut, saya merenung. Sudahkah saya membacakan diri saya sendiri? Sudahkah saya menjadikan setiap perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan kesadaran?

Setelah beberapa waktu, saya turun. Kaki saya masih gemetar. Tapi hati saya terasa lebih utuh. Saya bukan hanya turun dari gunung, saya turun dari langit diri saya sendiri. Ada sesuatu yang tertinggal di sana, dan ada sesuatu yang saya bawa pulang. Kesadaran sunyi.

Sejak hari itu, saya tahu telah mengalami sesuatu yang tak semua orang alami. Saya bukan merasa istimewa, tapi merasa disapa. Sapaan itu tidak keras, tapi lembut dan dalam. Dan sejak saat itu pula, saya tahu, tugas saya di dunia bukan hanya menulis berita, tetapi juga menulis ulang kisah diri saya sendiri dengan pena yang lebih sadar, dan tinta yang lebih jernih.

Pendakian itu telah lama berlalu secara waktu, tapi terus hadir dalam ingatan sebagai cahaya. Setiap kali saya merasa tersesat dalam kesibukan dunia, saya ingat kembali jalan setapak menuju Gua Hira. Saya ingat batu-batu yang tajam tapi menguatkan. Saya ingat sunyi yang lebih bising daripada pasar. Saya ingat langit yang terasa begitu dekat, justru ketika saya berada di gua yang gelap dan sempit.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil dari para nabi perjanjian mereka, dan dari kamu (juga), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam…” (QS. Al-Ahzab: 7)

Perjalanan itu adalah cermin. Dan saya yang dulu naik ke sana, bukanlah saya yang turun. Saya telah bertemu diri saya di puncak sunyi. Dan dari sanalah, saya mulai belajar, bahwa semua perjalanan ruhani adalah perjalanan pulang. Bukan ke tempat, tapi ke hakikat.

Dan kini saya tahu, bahwa setiap orang memiliki Gua Hira-nya masing-masing. Tinggal apakah ia berani mendaki dan mendengarkan suara langit dari dalam dadanya sendiri. (bersambung)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: M. Sholahuddin


No More Posts Available.

No more pages to load.