KabarBaik.co – Di balik kesibukan Kota Surabaya yang tak pernah benar-benar tidur, Monica Maria Fitriani, 45 tahun, menjalani hari-harinya dengan peran yang kini berlipat ganda. Ia bukan hanya seorang ibu, tetapi juga ayah, tulang punggung keluarga, sekaligus pewaris sebuah pena yang dahulu dipegang suaminya.
Delapan bulan lalu, hidup Monica berubah drastis. Edmen Paulus, suami yang selama ini menjadi sandaran hidup sekaligus wartawan JatimMedia.com, meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. Kepergian itu datang tanpa aba-aba, tanpa kesempatan untuk bersiap, meninggalkan luka yang dalam bagi Monica dan tiga anak mereka. “Rasanya seperti kehilangan partner hidup,” tutur Monica lirih ditemui di Surabaya, Senin (22/12).
Tak ada angin, tak ada hujan. Dunia yang selama ini terasa aman dan terjaga, tiba-tiba runtuh begitu saja.
Selama bertahun-tahun, Monica terbiasa hidup dalam lingkar perlindungan sang suami. Ia tak pernah dipaksa bekerja. Semua kebutuhan keluarga dipenuhi. Bagi sebagian orang, kehidupan Monica terlihat “terlalu dijaga”. Namun bagi Monica, itulah cara Edmen mencintainya.
“Dia memang enggak romantis,” kenangnya sambil tersenyum tipis.
Tak ada kata-kata manis atau kejutan berlebihan, kecuali di momen ulang tahun. Namun dalam diamnya, Edmen memastikan keluarganya tak kekurangan apa pun.
Kepergian Edmen membuat Monica terpuruk. Tiga bulan pertama, ia hampir tak pernah keluar rumah. Undangan ditolak, aktivitas dibatasi. Dunia luar terasa terlalu berat untuk dihadapi seorang diri.
Namun waktu, meski tak menyembuhkan sepenuhnya, memaksa Monica untuk bangkit. Demi anak-anaknya, Monica mengambil keputusan besar: meneruskan pekerjaan sang suami sebagai wartawan.
“Sekarang saya baru benar-benar tahu, betapa berat pekerjaan dia dulu,” ujarnya.
Dari situlah Monica mulai memahami perjuangan yang selama ini dijalani Edmen—berpindah dari satu liputan ke liputan lain, mengejar waktu, menulis di tengah kelelahan.
Kini Monica menjalani peran yang tak ringan. Ia membesarkan tiga anak—yang sulung duduk di kelas 3 SMA, anak kedua kelas 3 SMP, dan si bungsu juga di bangku SMP. Di saat yang sama, ia juga merawat ibunya yang telah lanjut usia. “Sekarang apa-apa harus saya putuskan sendiri,” katanya.
Tak ada lagi tempat bertanya, tak ada lagi diskusi kecil tentang rencana ke depan. Semua keputusan—tentang sekolah anak, kebutuhan rumah, hingga arah hidup—harus ia tentukan sendiri.
Meski berat, Monica menemukan kekuatan dari dua hal: iman dan anak-anaknya. “Pegangan saya ya Tuhan. Dan anak-anak,” ucapnya mantap.
Mereka menjadi alasan Monica untuk terus melangkah, meski langkah itu sering tertatih.
Bagi Monica, Hari Ibu bukan perayaan besar dengan bunga dan hadiah. Sejak dulu, keluarganya memang tak pernah merayakannya secara khusus. Namun kini, maknanya terasa jauh lebih dalam. Hari Ibu adalah tentang bertahan.
Tentang seorang perempuan yang memilih berdiri, ketika hidup memaksanya jatuh. Di balik layar berita yang kini ia tulis, tersimpan kisah cinta yang tak pernah benar-benar usai. Pena yang digenggam Monica hari ini bukan sekadar alat kerja, melainkan warisan perjuangan—tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan seorang ibu.
Pada Hari Ibu 2025 ini, kisah Monica menjadi pengingat bahwa ibu tak selalu lahir dari keadaan sempurna, melainkan dari keberanian untuk bertahan, meski dunia terasa sepi.







