KabarBaik.co – Sendang Sono, sumber air yang dahulu menjadi pusat tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, kini terlihat cukup memprihatinkan. Lokasi tersebut dipercaya sebagai peninggalan pada masa Sunan Giri.
Air yang dahulu berasal dari sumber alami kini sudah tak lagi mengalir. Menurut Mustain, tokoh Desa Suci yang juga imam Masjid Mambaut Thoat, sumber air Sendang Sono mulai terasa mulai surut sejak 1980-an.
Lokasi itu sempat mengering bertahun-tahun sebelum kemudian dimanfaatkan warga sebagai kolam budidaya ikan lele. “Ya ini dibuka untuk pemandian saat tradisi Rebo Wekasan. Sehari-hari dibuat kolam lele,” kata Mustain, Rabu lalu.
Untuk menyambut Rebo Wekasan tahun ini, yang berlangsung mulai Minggu hingga Rabu, 17–20 Agustus 2025, air di sendang diisi dengan sumur pengeboran dan pasokan PDAM. Tradisi ini tetap digelar meski sumber asli sendang telah lama hilang.
“Air sumber Sendang Sono dulunya sangat spesial bagi warga. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, banyak yang percaya bisa menjadi pengobatan,” ujar Mustain.
Selama empat hari Rebo Wekasan, Sendang Sono tetap ramai dikunjungi. Beril, salah satu pemuda yang menjaga sendang, menuturkan setiap harinya ada puluhan orang datang.
“Tidak dapat memastikan jumlahnya, tapi selama empat hari ini setiap hari pasti ada puluhan pengunjung. Kalau selepas Rebo Wekasan biasanya digunakan sebagai kolam lele,” ucapnya.
Terlihat di lokasi, banyak anak-anak yang sedang bermain air disana. Terlihat senyum lebar mereka semua meskipun tak lagi merasakan air asli dari Sendang Sono Suci.
Dahulu, di lokasi Sendang Sono terdapat empat telaga besar dengan sumber air bersih, serta sejumlah telaga kecil yang dimanfaatkan warga, termasuk untuk berwudhu di masjid. Kini semua telaga itu kering, bahkan sebagian bekas sumber sudah berubah menjadi bangunan dan lapangan olahraga.
Menurut cerita setempat, Sendang Sono berawal dari kisah santri Sunan Giri, Syekh Jamaluddin Malik, yang kebingungan mencari air bersih. Atas petunjuk gurunya, ia berjalan ke utara desa hingga menemukan sumber air.
Dari situlah Sendang Sono lahir, yang kemudian menjadi tempat tasyakuran dan tabarrukan. Tradisi Rebo Wekasan, yang jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar, pun berawal dari sana.(*)






