Naturalisasi Timnas Indonesia Kita dan Spirit Perubahan Herakleitos

oleh -2366 Dilihat

OEH: M. SHOLAHUDDIN*)

TAK sabar menanti hari. Kamis, 10 Oktober 2024. Kalau 20 Oktober 2024, Anda sudah tahu. Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden baru. Menggantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Nah, 10 Oktober, sejatinya Anda pun juga mungkin sudah tahu. Timnas Indonesia melanjutkan laga krusial. Menuju Piala Dunia 2026. Berebut 8 tempat. Angka yang kabarnya disukai Presiden terpilih itu.

Indonesia satu-satunya negara dari Asia Tenggara. Mohon maaf untuk timnas Thailand, Vietnam, Malaysia, Myanmar, dan lainnya. Indonesia bakal tandang ke Bahrain. Yang Anda pasti belum tahu adalah Indonesia akan kalah, seri atau menang? Tentu, jutaan masyarakat Indonesia mengharap menang. Lalu, berkumandanglah Indonesia Pusaka. Terkecuali mungkin tidak bagi Pieter F Gontha, dan sebagian orang itu. Yang menyoal naturalisasi.

Anda pun sudah tahu, Indonesia pernah dicukur plontos Bahrain. Skornya 10-0.  Saat berlaga di kualifikasi Piala Dunia 2014 silam. Sungguh kenangan buruk. Memori kelam itu terjadi di Stadion Nasional Bahrain, pada 29 Februari 2012. Kala itu, Skuad Garuda ditangani Coach Aji Santoso. Namun, kekalahan itu bukan tanpa sebab. Baik internal maupun eksternal.

Bahrain dan China Tunggu Kami! Dua Amunisi Baru Menambah Daya Ledak Dahsyat Timnas Indonesia

Sebagian besar pemain baru menjalani debut internasional bersama Timnas Indonesia. Hanya ada beberapa pemain yang ikut tergabung. Sebut saja, Irfan Bachdim, Ferdinand Sinaga, dan Diego Michiels. Lalu, persoalan eksternal terjadi dualisme federasi. Saat itu, kepengurusan PSSI terpecah. Saat bertanding, kiper Timnas Indonesia Syamsidar kena kartu merah. Laga baru berjalan 3 menit. Ia melakukan pelanggaran keras di kotak penalti.

Entah itu match fixing atau tidak. Yang jelas, untuk bisa lolos ke babak berikutnya, kala itu Bahrain butuh selisih sembilan gol. Dan, FIFA pun tidak mencurigai laga Bahrain vs Indonesia tersebut hasil dari ’’kerdipan mata’’.

Tapi, itu masa lalu. Tak ubahnya sebentar lagi Jokowi adalah bagian dari masa lalu, dan sebentar lagi Prabowo adalah harapan dan masa depan. Semua berubah. Perubahan adalah keniscayaan. Yang sama hanyalah Bahrain dan Indonesia sebagai nama sebuah negara. Adapun lainnya telah berubah. Ibarat sebuah adegan pertunjukan, begitu banyak yang telah berubah. Mulai pengurus federasi, pelatih, line up pemain, hingga setting panggung depan dan belakangnya.

***
Memahami sebuah perubahan, tulisan Reza A.A Wattimena, dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, yang pernah mengenyam pendidikan di München, Jerman, bisa menjadi literasi menarik.

Termasuk sebagai salah satu pisau analisa di panggung perubahan sepak bola dunia. Bahwa, kita hidup di dunia yang terus berubah. Cuaca berganti. Hari berganti. Segalanya bergerak, seringkali tanpa kita sadari.

Namun, bukan hanya dunia yang berubah. Kita pun berubah di dalam dunia yang terus berubah. Hubungan kita dengan dunia adalah hubungan timbal balik. Artinya, dunia mengubah kita, dan pada saat yang sama, kita pun mengambil bagian di dalam proses untuk mengubah dunia.

Pun demikian juga di dunia sepak bola. Sepak bola mengubah kita, dan pada saat yang sama kita pun mengambil bagian di dalam proses mengubah sepak bola. Misalnya, dulu tidak ada medsos. Kini, medsos adalah kita. Ketika seorang pemain bermain bagus, banjir pujian di medsos. Begitu sebaliknya, siap-siap ’’dirujak’’ jika pada kesempatan lain bermain superjelek. Karena itu, tidak jarang pemain-pemain yang rata-rata berusia muda dan labil emosi terkena mental dampak serangan itu. Maka, mesti ada perubahan-perubahan.

Perubahan adalah kenyataan yang tak dapat dibantah. Hari ini kita hidup. Besok mungkin kita sudah meninggal, atau orang yang kita sayangi telah meninggal. Tidak ada yang tahu. Betapa, misalnya, Marissa Haque sehari sebelumnya masih  mengajar anak didiknya, namun esoknya meninggal dunia. Atau kita kenal dulu Eri Irianto (Persebaya), Khoirul Huda (Persela), dan sejumlah nama lain, sehat-sehat saja saat bermain, beberapa saat kemudian meninggal.

Pertanyaan penting di sini adalah bagaimana kita memaknai hidup yang terus berubah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam tulisanya Reza memaparkan literasi menarik betapa kita perlu belajar dari sejarah filsafat yang merentang lebih dari 2000 tahun di Eropa. Perlu untuk dicatat, filsafat dalam arti ini adalah pemikiran kritis dan rasional tentang dunia, dan tidak terkait secara langsung dengan agama, apalagi dengan mistik.

Anda mungkin sudah tahu, filsuf yang secara khusus membahas soal perubahan adalah Herakleitos, terutama di dalam karyanya Peri Physeos atau Tentang Alam (über die Natur).

Peri Physeos bukanlah sebuah buku, melainkan kumpulan fragmen atau tulisan pendek yang diperkirakan berasal dari 500 tahun SM (Sebelum Masehi). Semua pengetahuan kita tentang Herakleitos datang dari filsuf-filsuf setelahnya, yang mengutip pemikirannya.

Di dalam sejarah filsafat, Herakleitos dianggap sebagai salah satu filsuf pra-Sokratik terbesar, yakni filsuf yang hidup sebelum Sokrates. Fokus pemikiran Herakleitos adalah pemikiran tentang alam (Naturbetrachtung) serta kaitan antara manusia dan ada (sein) yang mendasari seluruh kenyataan.

Ia hidup sekitar 550 sampai dengan 480 SM. Tulisannya mengambil bentuk syair, atau bahkan puisi tentang hakekat dari alam. Maka, artinya tidak bisa muncul begitu saja, melainkan harus ditafsirkan terlebih dahulu. Beberapa penafsir, termasuk Konig, menyebut kumpulan fragmen tersebut sebagai gelap (dunkel).

Menurut Konig, Herakleitos sebenarnya telah menulis satu buku penuh dengan judul yang sama, yakni Peri Physeos. Namun, banyak bagian dari buku itu hilang. Yang kita miliki sekarang hanyalah bagian kecil dari buku itu, kurang lebih 20 halaman dan terdiri dari kumpulan kalimat-kalimat pendek. Jika kita membaca fragmen-fragmen ini secara jeli, kita akan menemukan banyak ide yang revolusioner tentang alam.

Konsep terpenting dalam pemikiran Herakleitos adalah Logos. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang bisa berarti dua hal, yakni akal budi (Vernunft) atau hukum (Gesetz). Logos adalah prinsip dasar dari seluruh kenyataan yang ada di alam, termasuk gunung, sungai, laut, langit dan segala yang ada di atas maupun di bawah bumi. Herakleitos melihat Logos menjelma secara nyata di dalam api (Feuer), yang terkandung di dalam segala sesuatu yang ada di alam ini.

Herakleitos juga berpendapat, bahwa segala sesuatu di alam ini terdiri dari hal-hal yang bertentangan. Tegangan di antara hal-hal yang bertentangan tersebut menghasilkan gerak dan perubahan. Maka, segala sesuatu pun berubah, karena segala sesuatu terdiri atas hal-hal yang bertentangan, yang saling bergesekan satu sama lain.

Misalnya, siang dan malam, terang dan gelap, musim kemarau dan hujan, musim panas dan dingin, perang dan damai, kenyang dan lapar, serta hidup dan mati. Pun demikian dengan naturalisasi itu. Ada pro dan kontra. Ada Pieter F. Gonta, ada Bung Towel, ada Rocky Gerung, dan beberapa yang lain. Begitu pula di lingkungan sekitar kita. Lingkungan RT mungkin, organisasi, lingkungan kerja, dan lainnya. Pastilah ada gesekan-gesekan bukan?

Inilah yang disebut Herakleitos sebagai prinsip yang bertentangan (das Prinzip des Gegensatzes). Pertentangan ini tidak pernah berhenti, melainkan terus bergerak menghasilkan perubahan-perubahan baru. Dari runutan berpikir ini, ia menyimpulkan bahwa segala sesuatu itu berubah dan mengalir (alles fließt).

Tidaklah mungkin bagi kita, untuk menginjak sungai yang sama, karena air di dalam sungai selalu berubah. Tidaklah mungkin juga para pemain Timnas Indonesia menginjak rumput yang sama dengan 2012 silam, walaupun sama-sama di Stadion Nasional Bahrain.

Pengetahuan, menurut Herakleitos adalah pemahaman atas kesatuan yang terjadi akibat dari pertentangan antara dua hal yang berbeda. Dua hal ini, walaupun berbeda, tidaklah terpisah, melainkan saling terhubung satu sama lain. Pengetahuan dan kebijaksanaan lahir dari harmoni antara hal-hal yang saling bertentangan dan bergesekan satu sama lain.

Banyak orang mengira, bahwa Herakleitos adalah pencetus ide, bahwa perang adalah bapak segalanya. Ini tentu saja adalah kesalahpahaman. Yang menjadi bapak dari segalanya, menurutnya, adalah perubahan yang lahir dari pertentangan dan gesekan yang terus bergerak.

Gesekan dari hal-hal yang berbeda ini lalu melahirkan harmoni, bukan harmoni yang statik, namun harmoni yang juga terus berubah. Hukum yang abadi adalah hukum perubahan (das Gesetz des Wandels).

Kenyataan selalu terdiri dari dua hal yang bertentangan. Keseluruhan juga lahir dari pertentangan dua hal yang berbeda itu. Busur dan panah adalah dua hal yang berbeda. Namun, mereka barus punya arti, jika mereka bersatu dalam tegangan, lalu menjadi senjata yang mematikan.

Kenyataan yang ada itu seperti anak yang bermain. Mereka memegang dan menghancurkan segalanya. Mereka melempar barang, membanting piring, dan sebagainya. Namun, mereka melakukan itu semua tanpa niat jahat. Di dalam kenyataan, ada tiga hal yang selalu bergesekan, yakni kehancuran (Zerstörung), permainan (Spiel), dan semua dilakukan tanpa rasa salah (Unschuld). Inti dari semua itu adalah satu, yakni perubahan.

Herakleitos mengajak kita untuk berpikir dengan menggunakan akal budi kita untuk memahami kenyataan yang ada, yakni alam di sekitar kita. Bisa dibilang, dia adalah salah satu ilmuwan pertama, karena ia memahami alam tidak dengan menggunakan ajaran agama atau mitologi pada jamannya, namun semata dengan akal budinya.

Kata kunci di sini amat penting, yakni Logos. Di dalam hidup politik maupun sehari-hari, kita perlu pertama-tama menggunakan akal budi untuk memahami hal-hal yang ada, dan tidak langsung melompat ke dalam agama atau mitologi.

Herakleitos juga mengajak kita melihat hidup sebagai bentukan dari hal-hal yang bertentangan yang saling bergesekan, dan menciptakan perubahan. Maka, kita tidak boleh memilih yang baik-baik saja (misalnya maunya musim panas saja, tetapi tidak mau musim dingin), tetapi juga perlu untuk melihat yang jahat sebagai bagian dari keseluruhan hidup kita.

Gesekan antara dua hal yang saling bertentangan (jahat dan baik) itulah yang menciptakan kehidupan, termasuk alam di sekitar kita. Gesekan itu kadang menghasilkan kehancuran, namun bukan kehancuran mutlak, melainkan kehancuran untuk melahirkan sesuatu yang baru.

Herakleitos juga mengajak kita melihat kehidupan sebagai anak-anak. Begitu pula dengan melihat dunia sepak bola. Setiap pertandingan dinikmati, menang disyukuri. Kalaupun kalah, maka kekalahan janganlah diratapi, melainkan dianggap sebagai bagian dari proses permainan. Gesekan-gesekan yang terjadi, dimaknai bagian perubahan. Pembentukan sebuah harmoni baru. Semuanya mengalir. Semuanya berubah. Alles fließt.

Dan, Charles Darwin pun berujar: Yang mampu bertahan hidup bukanlah yang paling kuat dan paling pintar, melainkan yang paling responsif terhadap perubahan. Maju terus Pak Erick Thohir, Pak Sudarmaji, dan kita semua untuk menatap perubahan-perubahan. Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Dan, yakini saja mungkin sekarang masanya Skuad Garuda menuju rumput Piala Dunia 2026. Semoga! (*)

*) M. SHOLAHUDDIN, penulis tinggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.