PAGI Jakarta belum sepenuhnya terjaga ketika kabar duka itu datang. Di jalur yang setiap hari menjadi denyut nadi ibu kota, Jalan Jenderal Sudirman, hidup seorang lelaki baik berhenti. Tepat, di depan halte tempat ribuan orang menunggu perjalanan mereka dimulai setiap hari.
—
Selasa (9/12) pagi itu, Hudi Dananjoyo Suryodipuro, Vice President (VP) Sekretaris SKK Migas, wafat di usia 48 tahun. Sepeda yang ditungganginya, tiba-tiba menabrak bus Transjakarta yang tengah berhenti di Halte Karet Sudirman.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.20 WIB. Hudi tengah bersepeda dari arah selatan menuju utara, sebuah rutinitas yang dikenal dekat dengan gaya hidupnya yang sederhana dan disiplin. Namun pagi itu, menjadi perjalanan terakhir. Benturan di bagian belakang bus listrik Transjakarta menyebabkan luka serius di kepala.
Hudi meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP). Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk keperluan visum. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi industri migas nasional yang kehilangan salah seorang wajah komunikatif dan berpikiran jernihnya.
“Segenap Manajemen dan Pegawai SKK Migas mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” tulis Humas SKK Migas dalam keterangan resmi. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan—alamat yang selama ini juga menjadi titik pulang seorang profesional yang tetap memilih kesederhanaan dalam keseharian.
Sosok di Balik Jabatan
Di dunia yang sarat istilah teknis dan kepentingan besar, Hudi dikenal sebagai penerjemah. Dia mampu mengubah bahasa industri migas yang rumit, menjadi narasi yang dapat dipahami publik. Bagi rekan-rekannya, Hudi bukan sekadar pejabat struktural, melainkan simpul komunikasi, tempat informasi diuji kejernihannya sebelum disampaikan.
Master alumnus Pepperdine University, California, AS, ini memulai kariernya jauh sebelum namanya dikenal luas di lingkar kebijakan energi nasional. Dia meniti karier di sektor migas internasional, bergabung dengan Halliburton sejak 1999 sebagai HR Generalist, lalu berkembang menjadi Manager HR Development. Di perusahaan inilah fondasi kepemimpinannya dibentuk. Disiplin, berbasis keselamatan, dan manusiawi.
“Profesional namun tetap manusiawi—sebuah kualitas kepemimpinan yang jarang ditemukan,” ujar Simon Phin, Chief Executive Halliburton, dalam pernyataan tahun 2016, dilansir dari laman Linkedin. Dia menyebut Hudi sebagai aset industri yang sejak awal telah menunjukkan masa depan besar melalui pendekatan inovatif dan kepedulian terhadap keselamatan kerja.
Setelah Halliburton, Hudi melanjutkan pengabdian di Unocal sebagai Coordinator Organization Effectiveness. Lalu, di Chevron sebagai Team Leader Human Resources. Pengalaman lintas perusahaan migas multinasional ini memberinya perspektif global yang kelak menjadi modal penting ketika ia memasuki SKK Migas.
Karier Hudi di SKK Migas terbilang panjang dan berlapis peran strategis. Dia memegang kendali di berbagai posisi kunci, mulai dari Senior Manager Organization Development, Kepala Divisi Sumber Daya Manusia, hingga Pelaksana Tugas Kepala Divisi SDM dan Keamanan KKKS. Dalam periode ini, ia menangani isu-isu krusial mulai dari kelembagaan, sistem manajemen, hingga keamanan industri hulu migas nasional.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Hudi dipercaya memimpin Tim Penanganan dan Pencegahan Darurat Covid-19 di lingkungan SKK Migas. Di masa penuh ketidakpastian itu, ia dikenal tenang dan sistematis, memastikan keberlangsungan operasi migas tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan manusia.
Namanya semakin dikenal publik ketika menjabat sebagai Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas sejak Februari 2023. Di posisi inilah Hudi menjadi wajah lembaga, menghadapi media, menjawab kritik, dan menjelaskan kebijakan di tengah sorotan publik terhadap industri energi. Ia tak sekadar menyampaikan capaian, tetapi juga tantangan, dengan bahasa yang jujur dan terukur.
Baru Oktober 2025 lalu, Hudi diangkat sebagai Vice President Sekretaris SKK Migas. ”I’m happy to share that I’m starting a new position as Vice President at SKK Migas! (Saya dengan senang hati ingin berbagi bahwa saya memulai posisi baru sebagai Vice President di SKK Migas!, Red),” tulisnya saat memulai jabatan baru itu.
Jabatan tersebut menempatkan Hudi di persimpangan strategis antara kebijakan, investor, media, dan masyarakat luas. Bagi Hudi, komunikasi bukan alat pembelaan, melainkan jembatan kepercayaan. Dia kerap tampil di hadapan mahasiswa, generasi muda, dan forum publik, membahas masa depan energi Indonesia. Ia percaya, industri migas tidak akan bertahan tanpa pemahaman publik dan regenerasi SDM yang kuat.
Hudi Dananjoyo Suryodipuro meninggalkan lebih dari sekadar daftar jabatan. Dia meninggalkan cara kerja bahwa industri sebesar apa pun tetap harus berbicara dengan bahasa manusia. Hudi meninggalkan etos bahwa keselamatan, transparansi, dan rasa hormat pada publik bukan slogan, melainkan praktik sehari-hari.
Di Halliburton, dia meninggalkan tenaga kerja yang sadar akan nilai keselamatan dan kontribusi mereka. Di SKK Migas, Hudi meninggalkan sistem komunikasi yang lebih terbuka dan generasi profesional muda yang menjadikannya rujukan.
Pagi itu, di depan halte yang sibuk, hidup Hudi berhenti. Namun, suara jernihnya tentang bagaimana energi dikelola, bagaimana manusia dihargai, dan bagaimana institusi seharusnya hadir di tengah masyarakat, akan terus menggema lebih lama dari perjalanan sepedanya yang terputus. Selamat jalan! (*)








