KabarBaik.co, Malang – Kebijakan work from home (WFH) yang digulirkan pemerintah untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan konsumsi BBM.
Pakar Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Andhyka Muttaqin, menyebut WFH lebih berpotensi menghemat energi lain, seperti listrik dan internet, serta mendorong efisiensi anggaran, dibandingkan menekan penggunaan BBM.
“Untuk penghematan BBM, kebijakan ini tidak signifikan. Namun ada potensi efisiensi di sektor energi lain,” ujar Andhyka, Minggu (12/4). Menurutnya, kebijakan WFH belum menyentuh akar persoalan terkait tingginya konsumsi BBM.
Dia menyarankan pemerintah melakukan pembatasan penggunaan BBM melalui sistem kuota serta memperbaiki transportasi umum agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi. Dia juga mengingatkan potensi penyalahgunaan kebijakan tersebut, seperti dimanfaatkannya hari WFH menjadi long weekend.
Selain itu, penentuan hari pelaksanaan dinilai perlu mempertimbangkan produktivitas kerja dan kebutuhan layanan publik. “Kalau tidak diawasi, bisa jadi long weekend. Sementara jika diterapkan di tengah pekan, justru berpotensi mengganggu pelayanan karena saat itu produktivitas sedang tinggi,” ungkap Andhyka.
Ia menegaskan, penerapan WFH harus disertai sistem pengawasan ketat, seperti absensi berbasis titik koordinat. Selain itu, ASN yang tetap bekerja di kantor perlu mendapat kompensasi untuk menjaga motivasi kerja.
Andhyka menilai kebijakan WFH tidak bisa diterapkan di semua sektor, terutama layanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik langsung yang membutuhkan kehadiran fisik. “Kebijakan ini harus dilihat secara sistemik, tidak parsial, karena akan ada adaptasi dan potensi kebingungan dalam pengawasan,” tandasnya. (*)






