Paradoks Tarif Trump, Jawa Timur Berpeluang Jadi Raksasa Baru Ekspor Tekstil

oleh -333 Dilihat
IMG 20250709 WA0001
Ketua Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto.

KabarBaik.co – Kebijakan tarif impor sebesar 32 persen yang diterapkan pemerintahan Donald Trump terhadap produk dari negara-negara Asia menjadi pukulan berat bagi industri manufaktur. Namun, di balik tekanan itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, justru melihat peluang emas yang bisa mengubah peta ekspor nasional.

Menurut Adik, kebijakan tersebut merupakan paradoks strategis. Di satu sisi, tarif tinggi itu mengancam sektor-sektor unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur—khususnya di Jawa Timur yang selama ini menjadi basis industri manufaktur terbesar kedua di Indonesia. Namun di sisi lain, Indonesia kini justru memiliki posisi tawar yang lebih baik dibandingkan sejumlah negara pesaing.

“Ini bisa menjadi momentum bersejarah. Jawa Timur punya potensi besar untuk tampil sebagai pusat ekspor baru, khususnya untuk produk tekstil,” ujar Adik di Surabaya, Selasa malam (8/7).

Dampak kebijakan tarif tersebut secara nasional memang tidak ringan. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diprediksi bisa terkoreksi hingga 0,5 persen, sementara nilai tukar rupiah berpotensi melemah ke level Rp 17.217 per dolar AS.

Ketergantungan ekspor ke pasar Amerika juga cukup besar, dengan 61,4 persen ekspor pakaian dan 33,8 persen ekspor alas kaki mengalir ke Negeri Paman Sam.

Di Jawa Timur, situasinya makin kompleks. Ribuan pabrik tekstil di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik; klaster sepatu di Mojokerto; serta industri furnitur di Pasuruan dan Malang kini terancam kehilangan pasar. Adik menyebut, jika tak segera diantisipasi, ancaman ini bisa menjalar ke pemutusan hubungan kerja massal hingga berdampak pada UMKM dan sektor keuangan daerah.

Namun, dibandingkan dengan negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, Thailand, dan Kamboja, Indonesia mendapatkan tarif yang lebih rendah.

Produk dari Vietnam dikenai tarif 46 persen, Bangladesh 37 persen, Thailand 36 persen, dan Kamboja 49 persen. Selisih tarif ini menjadi keuntungan strategis bagi Indonesia di mata pembeli Amerika.

“Selisih 14 persen dari Vietnam dan 5 persen dari Bangladesh menjadikan produk Indonesia lebih kompetitif. Ini bisa membuka potensi pasar baru bernilai miliaran dolar AS,” ungkap Adik.

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan Amerika yang rasional tentu akan memilih pemasok dengan beban tarif lebih rendah. Artinya, Indonesia kini punya peluang besar menjadi mitra utama ekspor ke Amerika Serikat.

Jawa Timur, menurutnya, sudah sangat siap menangkap peluang ini. Selain memiliki klaster industri yang mapan, provinsi ini juga didukung oleh infrastruktur pelabuhan ekspor seperti Tanjung Perak dan pelabuhan Gresik, serta kapasitas produksi yang kuat. Biaya produksi di Jawa Timur juga masih lebih efisien dibanding negara pesaing seperti Malaysia dan Korea Selatan.

“Potensi peningkatan ekspor dari Jawa Timur bisa mencapai US$2 miliar hingga US$3 miliar dari relokasi pasar Vietnam, US$800 juta hingga US$1,2 miliar dari Bangladesh, dan hingga US$800 juta dari Thailand,” paparnya.

Jika peluang ini dimaksimalkan, Indonesia bisa naik dari posisi kelima menjadi eksportir tekstil terbesar ketiga di Amerika Serikat. Dan Jawa Timur diyakini akan menjadi mesin utama dari lompatan tersebut.

Namun Adik mengingatkan, peluang ini tidak datang dua kali. Negara lain, seperti Malaysia yang hanya dikenai tarif 24 persen, bisa dengan cepat menjadi pesaing berat, khususnya di sektor elektronik. Karena itu, langkah strategis perlu dilakukan secepat mungkin.

“Kami di Kadin Jatim menekankan tiga kunci utama: percepatan kebijakan industri, peningkatan efisiensi dan kualitas produk, serta kemampuan membaca arah pasar global. Jika itu dilakukan, kita tak hanya bertahan, tapi bisa jadi pemain utama di tengah perubahan global,” tegasnya.

Adik menyimpulkan, di tengah gelombang tarif global, Jawa Timur punya potensi besar untuk tak sekadar selamat, melainkan tampil sebagai kekuatan baru industri ekspor Asia.

“Ini bukan soal bertahan hidup, tapi bagaimana kita merebut peluang untuk memimpin. Jawa Timur bisa jadi episentrum baru ekspor tekstil Asia, asalkan kita bertindak cepat dan tepat,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.