Patrol hingga Ludruk Meriahkan Pasar Rakyat Morosunggingan Jombang Jelang Ramadan

oleh -58 Dilihat
Musik patrol dan tari tradisi saat menggema di Pasar Rakyat Morosunggingan Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Suara musik patrol mengalun pelan, berpadu tabuhan terbang jidor yang ritmis. Pagi tadi, Pasar Rakyat Desa Morosunggingan, Peterongan, Jombang, tak sekadar jadi tempat transaksi jual beli. Ruang publik itu berubah menjadi panggung budaya.

Gelar Pentas Seni dan Budaya Djombangan yang digelar di lokasi tersebut menghadirkan ragam kesenian tradisional khas daerah. Mulai dari Tari Topeng, Tari Remo, Besutan, Ludrukan, hingga Gambus Misri tampil bergantian menghibur warga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025. Pada Selasa (17/2/2026), penampilan musik patrol dan terbang jidor menjadi suguhan utama yang menyedot perhatian masyarakat.

Acara tersebut diselenggarakan Yayasan Permata Bangsa Nusantara Jombang bekerja sama dengan pengelola Pasar Rakyat Desa Morosunggingan. Konsepnya sederhana, namun bermakna: menghidupkan ruang publik berbasis masyarakat melalui seni dan budaya.

Ketua Pengelola Pasar Rakyat Morosunggingan, Cucuk Espe, mengatakan kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali fungsi ruang publik desa.

“Kebetulan kami punya ruang yang memungkinkan untuk agenda seperti ini. Kami mendapat amanah menjalankan kegiatan kebudayaan, dan berkolaborasi agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujar Cucuk yang juga menjadi ketua panitia.

Ia menyebut, total peserta yang terlibat mencapai lebih dari 50 orang, baik perorangan maupun kelompok. Tak hanya dari Desa Morosunggingan, sejumlah penampil juga datang dari desa dan kecamatan sekitar.

“Untuk Tari Remo dan Tari Topeng misalnya, ada yang dari desa kita sendiri, ada juga dari desa tetangga. Jadi ini benar-benar kolaboratif,” jelasnya.

Menurut Cucuk, kegiatan seni budaya tak hanya soal pelestarian tradisi. Ada dampak ekonomi yang ikut bergerak ketika ruang publik kembali hidup. Pedagang kecil dan pelaku UMKM di sekitar lokasi merasakan langsung peningkatan aktivitas.

“Kita ingin ada bias ekonomi. Saat masyarakat berkumpul, berinteraksi, otomatis ada perputaran ekonomi. Itu yang kita dorong,” katanya.

Momentum jelang Ramadan juga memberi warna tersendiri. Sejumlah penampilan bernuansa religi seperti banjari menjadi bagian dari cara warga menyambut bulan suci dengan kegiatan positif.

“Kita ingin menyambut Ramadan dengan aktivitas yang baik dan berakar pada budaya sendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Permata Bangsa Nusantara, Abdul Machin, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan untuk memperkuat ekosistem seni berbasis komunitas.

Menurutnya, ruang publik desa memiliki potensi besar sebagai pusat aktivitas sosial sekaligus penggerak ekonomi warga.

“Kegiatan ini bukan sekadar pentas. Ini upaya menghidupkan ruang publik agar jadi wahana berkumpul, berinteraksi, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ungkap Machin yang juga menjabat sebagai Pendamping Lokal Desa Morosunggingan.

Ia berharap semakin banyak desa yang berani memanfaatkan ruang publik untuk kegiatan serupa dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak.

“Harapan kami, ruang publik desa benar-benar hidup. Seni budaya lestari, kreativitas masyarakat terwadahi, dan ekonomi warga ikut terdongkrak,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.