KabarBaik.co, Sidoarjo — Menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang pernak-pernik kemerdekaan kembali menjamur di sejumlah ruas jalan. Salah satunya terlihat di kawasan Krian, Sidoarjo, yang mulai dipenuhi pedagang bendera dan umbul-umbul sejak pertengahan Juli 2026.
Bagi pedagang musiman, momentum menjelang 17 Agustus biasanya menjadi waktu untuk mendulang penghasilan lebih. Namun, geliat penjualan tahun ini dirasakan berbeda. Memasuki minggu kedua Agustus, sejumlah pedagang masih harus menunggu pembeli datang, padahal biasanya pesanan mulai ramai sejak akhir Juli.
Kondisi tersebut turut dirasakan Suparno, 51, salah satu pedagang bendera yang setiap tahun berjualan di kawasan Krian. Selama sekitar 20 tahun menekuni usaha bendera dan umbul-umbul, ia mengaku merasakan perubahan pola belanja masyarakat dari tahun ke tahun.
Menurut Suparno, biasanya memasuki akhir Juli sudah banyak masyarakat yang memesan bendera dan umbul-umbul untuk dipasang menjelang 17 Agustus. Namun, hingga kini pesanan yang datang belum seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Dijaman yang makin canggih dan era modern ini untuk berjualan secara tatap muka tak seperti dulu lagi, dimana dulu sebelum ada toko online saya pernah mendapatkan pesanan 70 pcs per hari, kini boro-boro bisa laku 20 pcs perhari, laku 10 pcs saja sudah Alhamdulillah,” ujarnya, Minggu (9/8).
Suparno mengatakan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatannya. Dibandingkan tahun sebelumnya, omzet penjualan bendera dan umbul-umbul yang ia jajakan tahun ini mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Meski penjualan tak seramai sebelumnya, Suparno tetap memilih bertahan dan memanfaatkan momentum kemerdekaan untuk berjualan. Bendera yang belum terjual pun tidak dianggap sebagai kerugian, melainkan disimpan untuk kembali dipasarkan pada perayaan kemerdekaan tahun berikutnya.
“Kali ini pendapatan jual bendera turun hingga separuh dari tahun sebelumnya, meski ada yang tidak laku tetap saya simpan untuk dijual di tahun depan,” imbuhnya.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat penjualan secara tatap muka semakin berat. Berbagai kebutuhan kini dapat dicari hanya melalui telepon genggam, sehingga masyarakat tidak perlu datang langsung ke lapak pedagang.
“Perbedaan jual tatap muka dengan online kalau tatap muka bisa memilih kualitas karena sebagian toko ada yang nakal dari kualitas dan contoh tidak sama dengan yang asli, enaknya bagi yang jual online tidak perlu lapak cukup layani lewat hp cukup,” tutupnya.(*)






