KabarBaik.co, Gresik – Pemerintah Kabupaten Gresik mengandalkan penguatan data dan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci percepatan penurunan stunting. Strategi tersebut dipaparkan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif saat menerima kunjungan kerja Wakil Bupati Tabalong, Kalimantan Timur, Habib Muhammad Taufan Alkaf, di Ruang Graita Eka Praja, Kantor Bupati Gresik, Kamis (29/1).
Dalam pertemuan itu, Wabup Alif menjelaskan inovasi digital **Gresik Urus Stunting (GUS)**, sebuah aplikasi berbasis daring yang menyajikan data stunting secara rinci hingga tingkat desa. Keberadaan data ini dinilai krusial untuk memastikan kebijakan dan intervensi berjalan tepat sasaran.
“Gresik punya aplikasi GUS. Di situ data stunting sudah sampai tingkat desa, sehingga kami bisa memastikan daerah mana saja yang masih tinggi. Tanpa data yang akurat, kami tidak bisa bekerja secara tepat sasaran,” ujar Wabup Alif.
Ia menambahkan, data dalam aplikasi tersebut memungkinkan pemerintah daerah melakukan pengendalian program secara cepat, termasuk intervensi langsung ke kecamatan dan desa dengan prevalensi stunting tinggi.
Selain GUS, Pemkab Gresik juga menjalankan program **Detak Kris (Deteksi Tanggulangi Kurangi Keluarga Risiko Stunting)** yang dikoordinasikan bersama Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA). Program ini difokuskan pada upaya pencegahan sejak hulu, yakni menyasar calon pengantin dan ibu hamil.
“Stunting itu ada yang pre, ada yang sudah sakit. Yang pre menjadi tugas KBPPPA, mulai dari data orang mau menikah sampai ibu hamil, agar bisa diintervensi lebih awal,” jelasnya.
Upaya tersebut diperkuat dengan keberadaan **1.030 kader pendamping keluarga** yang tersebar di 356 desa dan kelurahan. Para kader yang terdiri dari tenaga kesehatan, kader PKK, dan kader KB ini berperan dalam pendampingan langsung kepada keluarga berisiko stunting.
“Stunting bukan hanya soal anak kurang makan, tapi juga soal ibu saat hamil. Kader-kader inilah yang mendampingi, mengedukasi, memastikan pola makan dan asupan gizi anak agar tidak terjadi stunting,” ungkap Wabup Alif.
Tak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, Pemkab Gresik juga melibatkan dunia usaha melalui skema **orang tua asuh anak stunting** yang dijalankan oleh perusahaan di sekitar desa sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Anak-anak yang stunting punya orang tua asuh. Perusahaan-perusahaan di sekitar desa ikut memberikan dukungan, ini bentuk kolaborasi nyata,” katanya.
Menurut Alif, penanganan stunting di Gresik menjadi gerakan bersama yang didukung oleh APBD, APBN, APBDes, hingga CSR, sehingga intervensi dapat berjalan berkelanjutan dan terintegrasi.
Sementara itu, Wakil Bupati Tabalong Habib Muhammad Taufan Alkaf mengapresiasi berbagai inovasi yang diterapkan Pemkab Gresik, terutama dalam pemanfaatan data serta penguatan kolaborasi lintas sektor sebagai strategi percepatan penurunan stunting.(*)






