KabarBaik.co, Mataram — Pemprov NTB menyiapkan sejumlah skenario untuk memastikan perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah tetap berlangsung aman meskipun waktunya beririsan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak melihat potensi konflik yang signifikan di tengah masyarakat. Namun demikian, langkah antisipatif tetap dilakukan melalui kesepakatan teknis guna mencegah gesekan, terutama pada kegiatan yang melibatkan massa.
“Kita optimistis karena masyarakat NTB sudah lama hidup dalam keberagaman dan memahami nilai toleransi. Pemerintah hanya menyiapkan beberapa kesepakatan agar kedua perayaan ini berjalan lancar,” ujarnya.
Salah satu skenario yang disiapkan adalah pengaturan waktu kegiatan. Pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi dijadwalkan pada 18 Maret, sehingga tidak bersinggungan dengan malam takbiran pada 19 Maret yang bertepatan dengan pelaksanaan Nyepi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi antarumat beragama dalam menjaga keamanan. Gubernur memastikan pawai takbiran umat Islam dan pawai ogoh-ogoh umat Hindu akan saling berkoordinasi demi menciptakan situasi kondusif.
Apabila Hari Raya Idul Fitri ditetapkan jatuh pada 20 Maret 2026, pemerintah akan melakukan pengaturan tambahan, seperti pembatasan volume pengeras suara saat takbiran serta penyesuaian rute pawai agar tidak melintasi kawasan permukiman umat Hindu yang tengah menjalankan ibadah Nyepi.
Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB, TGH Buya Syubki Al Sasaki, mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menyebarkan informasi yang menyejukkan dan tidak provokatif. Ia menegaskan bahwa kondisi NTB tetap aman dan kondusif.
“Yang terpenting adalah memberikan keyakinan bahwa seluruh rangkaian perayaan, baik Nyepi maupun Idul Fitri, dapat berlangsung aman dan nyaman,” katanya.
Menurutnya, pengaturan yang dilakukan pemerintah ini sekaligus memperkuat citra NTB sebagai daerah yang mampu menjaga harmoni dan toleransi antarumat beragama. (*)







