Pengabdian Terakhir Seorang Banser: Berpulang Usai Mengamankan Mujahadah Kubro Satu Abad NU

oleh -80 Dilihat

DUSUN kecil bernama Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah menggoreskan kisah kemanusiaan. Tentang pengabdian. Cerita itu tercipta dari sebuah rumah sederhana milik keluarga Pitono, 55. Rumah yang mendadak berpayung kabut duka mendalam.

Senin (9/2), tamu-tamu pun berdatangan dengan penuh hormat. Di antaranya, perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Mereka bukan sekadar berkunjung, melainkan bertakziah dan menyantuni keluarga yang ditinggalkan. Duka atas nama warga NU di Jatim.

Pitono, anggota setia Barisan Ansor Serbaguna (Banser), baru saja menyelesaikan tugas pengabdiannya dalam acara besar Mujahadah Kubro “Satu Abad NU” (1926-2026) di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu-Minggu (7-8/2). Acara itu dihadiri lebih dari 107 ribu jamaah, sebuah momentum bersejarah yang mempertemukan ribuan nahdliyin dari berbagai penjuru Jawa Timur untuk berzikir, berdoa, dan mempererat ukhuwah.

Takziah dipimpin langsung oleh Prof Masykuri Bakri, ketua pelaksana Harlah 1 Abad NU sekaligus wakil ketua PWNU Jatim, bersama HM Noer Shodiq Askandar, wakil ketua panitia yang juga wakil ketua PWNU Jatim. Mereka datang didampingi HM Daniel dari PCNU Kabupaten Malang dan KH Shonhaji, Ketua MWC NU Dau.

Di rumah duka, istri almarhum, dua putra-putrinya, serta dua mertuanya menyambut dengan mata berkaca-kaca. Dua sahabat Banser Pitono juga tampak, ikut berbagi cerita tentang sosok yang selama ini dikenal sebagai teman seperjuangan itu.

“Kami datang mewakili teman-teman PWNU Jatim dan seluruh panitia Mujahadah Kubro. Kami menyampaikan duka cita mendalam, sekaligus salam dari Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz agar keluarga sabar menerima musibah ini,” ujar Prof Masykuri dengan suara pelan namun penuh empati.

Sambil menyerahkan santunan dari PWNU Jatim, para tokoh itu mendengarkan cerita-cerita hangat tentang sosok Pitono dari mulut keluarga dan sahabatnya. Di halaman rumah duka, karangan bunga duka cita berjejer rapi. Salah satunya dari Gubernur Jatim Hj Khofifah Indar Parawansa, dan yang lain. Termasuk dari dari Gus Kikin, panggilan Ketua PWNU Jatim sendiri, sebagai tanda penghormatan atas pengabdian almarhum.

Pitono bertugas di shift pertama Mujahadah Kubro, mulai Sabtu malam (7/2) seusai Magrib hingga Subuh. Tugasnya sederhana namun krusial Membantu menyeberangkan jamaah yang memadati jalan raya di depan SMPN 6 Kota Malang. Begitu arus jamaah reda, Pitono memilih tak langsung pulang.

Dengan semangat yang sama, Pitono berpindah ke dapur umum di Pendopo Kabupaten Malang, membantu menyiapkan logistik bagi ribuan jamaah Mujahadah Kubro, yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto bersama jajaran kabinetnya.

Minggu (8/2) setelah Subuh, Pitono pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak. Tak lama, dia bangun dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Bekerja di kebun jeruk miliknya hingga Asar. Keluarga mengenang, sepanjang sore hingga Magrib, Pitono masih terlihat sehat walafiat, tersenyum seperti biasa, tanpa keluhan apa pun.

Namun, setelah Magrib, segalanya berubah. Pitono masuk ke kamar kecil dan tak kunjung keluar. Pintu diketuk berulang kali, tak ada jawaban. Akhirnya pintu didobrak, dan keluarga menemukan Pitono sudah tak bernyawa. Dia segera dibawa ke RSI Unisma Malang untuk dipastikan, dan dokter menyatakan almarhum telah wafat.

Kisah Pitono adalah potret kecil dari ribuan relawan Banser yang diam-diam mengorbankan waktu dan tenaga demi kelancaran acara bersejarah NU tersebut. Pengabdiannya berakhir tepat setelah tugas selesai, seolah dia pulang membawa kelelahan demi pengabdian yang tak sempat diceritakan.

Tak hanya Pitono, satu anggota Banser lain bernama Abdul Rahman juga sedang dirawat di rumah sakit setelah bertugas membantu pengamanan di acara yang sama. Mereka ini hanya sebagian dari para pahlawan tanpa tanda jasa, yang rela meninggalkan keluarga demi turut menjaga keamanan dan kenyamanan sesama nahdliyin.

Di tengah duka, keluarga Pitono kini menyimpan kenangan tentang seorang suami, ayah, dan sahabat yang hidupnya diakhiri dengan amal pengabdian. Seperti tausiysh para muassis dan masyayikh  NU, “Hidup adalah pengabdian.”

Dan bagi Pitono, pengabdian itu telah ditunaikan hingga detik terakhir. Semoga almarhum husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.