KabarBaik.co, Mataram – Manajemen RSUP Nusa Tenggara Barat (NTB) menerapkan sistem penugasan bergilir bagi tenaga kesehatan (nakes) dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri tahun 2026.
Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan optimal, sekaligus menjadi wujud nyata toleransi antar pegawai.
Koordinator SDM IGD RSUP NTB Dewe Gede Sanjaya Putra, menegaskan bahwa pengaturan jadwal kerja telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan pelayanan serta kondisi psikologis pegawai yang ingin merayakan hari besar bersama keluarga.
Ia menyampaikan, manajemen memahami keinginan para nakes untuk berkumpul bersama keluarga saat Nyepi maupun Lebaran. Namun, tanggung jawab profesi tetap menjadi prioritas utama.
“Saat libur perayaan Nyepi maupun Lebaran, mungkin ada teman-teman nakes juga ingin berkumpul bersama keluarga. Namun karena tanggung jawab dan panggilan hati sebagai tenaga kesehatan, kami tetap harus memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya, Minggu (22/3).
Menurutnya, sistem penjadwalan ini juga dikomunikasikan secara terbuka kepada keluarga masing-masing tenaga kesehatan, sehingga tercipta saling pengertian dan dukungan.
“Kita sama-sama saling menghargai. Kemarin saat teman-teman merayakan Nyepi, teman-teman Muslim yang piket. Sekarang saat Idul Fitri, teman non-Muslim yang bertugas,” jelasnya.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab rumah sakit dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. IGD RSUP NTB dipastikan tetap beroperasi selama 24 jam tanpa henti, termasuk saat hari besar keagamaan.
“Teman-teman nakes yang berjaga senantiasa siap melayani, baik dalam kondisi Nyepi maupun Lebaran,” tegasnya.
Gede juga menyebutkan bahwa sistem penugasan bergilir ini merupakan praktik yang rutin dilakukan setiap tahun. Hal ini menjadi semakin menantang bagi tenaga kesehatan yang memiliki pasangan dengan profesi serupa, sehingga membutuhkan koordinasi lebih dalam mengatur waktu keluarga.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa manajemen, pegawai, dan seluruh tenaga kesehatan tetap merasa bangga dan puas ketika mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. “Kami merasa puas dan bahagia ketika pasien sudah sehat dan bisa pulang,” ungkapnya.
Namun, ia juga mengakui adanya rasa duka ketika harus menghadapi pasien yang tidak tertolong, terlebih pada momen bulan Ramadan maupun hari Lebaran.
“Kami juga merasakan kesedihan ketika pasien harus dinyatakan meninggal dunia, apalagi di momen-momen seperti ini,” tambahnya.
Ia berharap, dengan dedikasi seluruh tenaga kesehatan, masyarakat dapat terus memperoleh pelayanan yang optimal.
“Kami berusaha memberikan pelayanan terbaik dengan sepenuh hati, tulus, dan santun sesuai dengan motto kami,” pungkasnya.(*)







