KabarBaik.co – Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Nasional yang diperingati setiap 3 Desember, Midtown Hotels Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inklusi dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Melalui berbagai program pelatihan keterampilan, jaringan hotel tersebut membuka akses kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu dan tuna wicara.
Corporate General Manager Midtown Hotels Indonesia, Donny Manuarva, menjelaskan bahwa salah satu program unggulan yang dijalankan saat ini adalah Kopi Tutur Rasa, yaitu program pelatihan barista bagi remaja penyandang disabilitas. Program tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu dan berhasil melahirkan sejumlah barista profesional yang kini bekerja di empat jaringan hotel Midtown di Surabaya: Midtown Residence, Midtown Basuki Rahmat, Crown Prince, dan Verwood Hotel.
“Mereka memulai dari nol. Meski memiliki keterbatasan dalam pendengaran dan bicara, mereka punya potensi luar biasa dalam meracik kopi. Setelah pelatihan satu tahun, mereka mampu menyajikan berbagai jenis kopi hingga membuat latte art layaknya barista profesional,” ujar Donny, Rabu (3/12).
Salah satu peserta, Akbar, bercerita bahwa sebelum mengikuti pelatihan ini ia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena tidak memiliki keterampilan khusus. “Saya pernah melamar kerja di kafe tapi ditolak karena tidak memiliki pengalaman. Saya sangat beruntung bisa diterima mengikuti pelatihan ini dan akhirnya bekerja serta memiliki penghasilan sendiri,” ungkapnya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan pendamping.
Selain pelatihan barista, Midtown Hotels Indonesia juga pernah mengadakan program fotografi bagi penyandang disabilitas yang memiliki minat dan bakat di bidang fotografi. Dengan bimbingan mentor fotografi, Leo, para peserta mengeksplorasi berbagai sudut kamar di Midtown Residence Surabaya dan menghasilkan karya visual bernilai seni. Ke depan, karya tersebut diupayakan agar dapat dipasarkan secara profesional.
Donny menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar program sosial, melainkan tanggung jawab moral dalam mendorong akses kesempatan yang setara. “Kami percaya teman-teman disabilitas memiliki hak yang sama untuk mandiri dan bekerja. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka,” katanya.
Ia mengakui bahwa proses pelatihan tidak luput dari tantangan, terutama dalam komunikasi karena pelatih belum sepenuhnya terbiasa dengan bahasa isyarat. Untuk itu, pihak hotel menyediakan pendamping penerjemah agar proses pelatihan tetap efektif.
Midtown Hotels Indonesia berencana memperluas pemberdayaan ke bidang lain seperti housekeeping. Namun aspek keselamatan kerja akan menjadi pertimbangan penting, misalnya kemampuan mendengar suara abnormal seperti kebocoran pipa. “Selama ada kemauan, kami akan menyediakan jalan. Kami yakin peluang bagi penyandang disabilitas dapat terus diperluas,” tegas Donny.
Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sektor perhotelan dan industri lainnya untuk membuka akses pekerjaan yang setara bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
“Kami ingin teman-teman disabilitas mendapatkan kesempatan kerja yang sama seperti yang lainnya,” pungkas Donny.






