Perjuangan Nunung dan Fitriah, Tunawicara Mencari Kerja di Kota Orang

oleh -94 Dilihat
Nunung dan Fitriah di kantor PWI NTB (Arief Rachman)

KabarBaik.co, Mataram – Di sebuah siang yang terik di Jalan Mahoni No 5 Mataram, dua perempuan berdiri ragu di depan papan nama kantor Persatuan Wartawan Indonesia Nusa Tenggara Barat. Mereka mengira bangunan itu adalah kantor SPPG tempat yang menurut informasi bisa memberi harapan pekerjaan.

Namanya Nunung Anggriani dan Fitriah. Keduanya adalah penyandang disabilitas wicara. Mereka tidak membawa map lamaran tebal, tidak pula berbicara panjang tentang pengalaman kerja. Yang mereka genggam hanyalah telepon genggam Android, alat yang menjadi jembatan antara isi hati dan dunia luar.

Setiap pertanyaan harus diketik. Setiap jawaban mereka pun muncul di layar kecil itu. Percakapan berlangsung dalam diam, namun bermakna.

Fitriah datang dari Dompu. Sudah lima hari ia berada di Mataram. Tiga anaknya yang masih kecil ditinggalkan sementara bersama nenek mereka. Dalam kalimat-kalimat singkat jawaban yang ia ketik, terselip kerinduan dan tanggung jawab yang berat. Ia telah berpisah dengan suami, dan kini berjuang sendiri.

Nunung, yang telah bersuami, duduk di sampingnya di Sekretariat PWI NTB. Ia tidak banyak mengetik, tetapi sorot matanya menyiratkan tekad yang sama ‘tidak ingin menyerah pada keadaan’.

Teknologi sederhana di tangan mereka menjadi alat perjuangan. Huruf demi huruf yang muncul di layar ponsel bukan sekadar jawaban, melainkan harapan, bahwa di kota ini masih ada pintu yang terbuka.
Di dalam kantor, mereka bertemu Ketua PWI NTB Ahmad Ikliluddin serta beberapa wartawan yang sedang berada di sekretariat.

Percakapan berlangsung dengan cara yang tidak biasa, namun penuh empati. Ahmad Ikliluddin mengaku tersentuh dengan semangat keduanya. Di tengah keterbatasan, Nunung dan Fitriah memilih berjalan, mengetuk pintu demi pintu, alih-alih berpangku tangan.

“Semangat seperti ini patut diapresiasi. Mereka tidak menyerah pada keadaan,” ujarnya.

Ia berjanji akan berkoordinasi dengan pengurus dan jejaring wartawan lain untuk membantu mencarikan peluang pekerjaan yang memungkinkan bagi keduanya.

Sesampainya di tempat tinggal sementara mereka, rupanya Nunung dan Fitriah kembali menceritakan pengalaman hari itu kepada pendampingnya. Tak lama kemudian, sang pendamping menghubungi kami untuk menyampaikan harapan lanjutan.

Ia menyebut jika ada pihak yang tergerak untuk memberikan pekerjaan atau peluang usaha bagi keduanya, dapat menghubungi pendamping mereka, Notonagoro, di nomor 081907337282.

Siang itu, mungkin mereka belum mendapatkan pekerjaan. Namun mereka mendapatkan sesuatu yang tak kalah penting: didengar.

Di balik layar kecil ponsel mereka, tersimpan kisah tentang keberanian. Tentang dua perempuan yang menolak diam dalam hidup, meski suara mereka tak terdengar. Tentang harapan yang terus diketik, satu kata demi satu kata, di kota yang belum sepenuhnya mereka kenal. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.