KabarBaik.co – Menjadi petani bukanlah profesi yang dianggap prestise oleh kalangan anak muda di Indonesia. Bertani dianggap pekerjaan kotor, berpenghasilan rendah serta kurang keren untuk dijadikan ajang pamer.
Kebanyakan anak muda lebih memilih bekerja di kantor, ruangan yang dingin, lanyard tergantung di leher yang kece untuk dipamerkan serta kepastian pendapatan.
Namun siapa sangka di pelosok utara Banyuwangi tepatnya di Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi terdapat pemuda bernama Alvin Putra Armanda, 19 tahun yang justru memilih tani sebagai jalan meraih kesuksesan dalam hidup.
Memilih bertani bahkan sudah ia putuskan sejak lulus dari sekolah menengah atas (SMA) beberapa waktu lalu.
“Jadi setelah lulus saya memutuskan bertani,” kata Alvin yang merupakan lulusan SMKN 2 Banyuwangi jurusan permesinan ini.
Di awal langkah taninya yang masih merangkak, Alvin justru nekat beradu nasib dengan memilih tanaman cabai merah sebagai komoditi yang ditanamnya. Padahal cabai merah adalah salah satu tanaman yang terkenal rumit serta berbiaya mahal dalam perawatannya.
Lumrah, ia pun dianggap aneh oleh hampir sebagian besar petani setempat bahkan saudara-saudaranya sendiri. Maklum, di wilayah Wongsorejo belum pernah ada riwayat petani yang sukses menanam cabai merah. Disana umumnya petani hanya menanam jagung ataupun cabai rawit.
“Memutuskan bertani aja sudah pasti dinyinyiri orang, apalagi memilih resiko besar. Bahkan sampai detik ini masih diremehkan, karena memang disini umumnya cabai rawit dan jagung. Saya masih ingat ada yang bilang ngapain menanam cabai besar di wilayah ini malah buang-buang duit,” terang Alvin mengisahkan.
Namun menanam cabai merah ini Alvin bukan tanpa persiapan. Ia sejak 4 bulan belakangan ini telah melakukan riset. Ia bahkan menyiapkan lahan khusus yang hanya digunakan uji coba.
Alvin menerangkan uji coba yang dilakukan meliputi penggunaan jenis mulsa atau plastik penutup media tanam. Pemberian nutrisi tanaman serta metode pengusiran hamas serta metode lainnya. Dan kini ia telah menemukan formula yang tepat.
“Karena perlu uji coba lahan di sini sedikit berbeda. Ini sudah menemukan formula yang pas. Cabai merah ini kan terkenal paling rumit perawatannya, makanya saya memilih belajar dari yang paling susah. Karena kalau ini berhasil, menanam tanaman yang lain pasti juga bisa,” ujarnya.
“Yang penting yakin, konsisten, dan terbuka dengan informasi serta ilmu dari orang berpengalaman, sehingga saya optimis. Di lahan riset ini saya menanam 1700 batang, targetnya lahan ini bisa menghasilkan 1 ton,” imbuhnya.
Karena sudah menemukan formula yang pas, sebulan lagi rencanya Alvin bakal melakukan penanaman cabai merah secara masif di lahan seluas 2 hektar. Lahan tersebut merupakan tinggalan mendiang ayahnya.
Untuk menanam di lahan seluas itu, Alvin mengaku membutuhkan modal sebanyak Rp 120 juta. Dana sebesar itu bakal diambil dari sebagian tabungan keluarga.
“Saya bisa maksimal seperti ini karena mendapat support dan dukungan penuh dari keluarga. Satu bulan lagi adalah penerapan, semoga mendapat hasil maksimal,” kata dia.
Alvin adalah anak bungsu dari dua bersaudara lahir dari pasangan Suparman dan Siti Farida. Keluarganya pun merupakan petani. Sahih, tekad kuatnya bertani pun terlahir dari sana. Sembari sekolah di SMA, ia juga sudah aktif membangun usaha.
Alvin bercerita bahwa tekadnya terinspirasi dari ayahnya. Dulu ayahnya adalah seorang guru honorer yang memutuskan berhenti dan memilih berfokus menjadi tengkulak hasil pertanian, khususnya cabai rawit.
Ia tahu betul bagaimana jatuh bangun ayahnya merintis usaha ini. Hingga kemudian ia turut merasakan manis perjuangan ayahnya.
Ayahnya sudah meninggal 3 tahun silam. Sepeninggal ayahnya ekonomi keluarga sempat goyah, bahkan dicap bangkrut oleh warga setempat. Sebab, ayahnya tidak meninggalkan sedikitpun ilmu dagang dan bertani kepada putra-putranya. Sementara ada beberapa aset yang perlu dijaga dan diteruskan.
“Tugas saya dan kakak saya adalah meneruskan usaha dan perjuangan ayah saya khususnya dalam bertani. Kakak saya bergerak di dagangnya, saya memilih di pertaniannya. Kami memulai belajar dari nol,” bebernya.
Selain karena memang keinginan dari hati, niatnya memutuskan menjadi petani juga tergerak karena banyaknya anak muda di wilayahnya yang enggan menekuni profesi ini. Banyak anak muda di sekitarnya yang memilih merantau dan mengadu nasib di kota orang.
Padahal sebagian besar dari mereka itu adalah pewaris. Karena kebanyakan keluarganya juga memiliki lahan pertanian. Alhasil lahan yang menjadi aset keluarga pun habis karena tidak digarap.
Oleh karenanya, Alvin juga membuat sebuah kelompok bernama Anak Tani dengan tujuan untuk menjadi wadah bagi petani muda. Tagline yang diusung adalah Meneruskan Warisan.
“Makanya tagline kami meneruskan warisan bukan menghabiskan warisan atau menjual warisan,” celotehnya sembari tertawa.
Kelompok Anak Tani baru dibentuk sebulan dan kini masih beranggotakan 5 orang petani muda. Kelompok ini menjadi ruang inkubasi untuk mendiskusikan beberapa persoalan yang dihadapi dalam menjalani usaha pertanian ini.
“Mengumpulkan teman-teman ini juga penuh perjuangan. Saat ini sudah ada 5 orang anggota termasuk saya. Anggota ini fokus bertani ada yang menanam cabai rawit dan jagung. Beberapa juga ada yang sambil kuliah,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini Alvin juga aktif membuat konten tentang aktivitasnya selama bertani. Melalui upayanya ini Alvin berharap pertanian di wilayahnya tetap ada serta semakin banyak diminati kawula muda.(*)






