KabarBaik.co, Jombang — Saat sebagian orang masih terlelap usai subuh, Sutaji sudah bersiap dengan sepeda angin tuanya. Dua keranjang besar berisi kerupuk ia pasang di bagian belakang, lalu perlahan ia mengayuh sepeda tuanya menyusuri kampung demi kampung.
Pria berusia 66 tahun asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Peterongan, Jombang itu telah menjalani rutinitas tersebut selama puluhan tahun. Dari kerja sederhana itulah, sebuah mimpi besar ia rajut diam-diam, menunaikan ibadah haji.
Sejak 1970, Sutaji berjualan kerupuk keliling dengan cara yang nyaris tak berubah. Tanpa etalase, tanpa kendaraan bermotor. Hanya sepeda angin dan ketekunan yang terus ia jaga.
Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, ia mulai berkeliling dari wilayah Mancar, Kecamatan Peterongan, hingga Mojongapit, Kecamatan Jombang.
“Setiap hari keliling 5 kilogram kerupuk. Biasanya, dagangan itu habis dalam waktu sekitar satu jam,” ujar Sutaji, Minggu (31/1)
Kerupuk-kerupuk tersebut ia ambil dari sebuah pabrik di wilayah Senden, Kecamatan Peterongan. Hasilnya tak selalu besar. Pada era 1980-an, penghasilannya hanya sekitar Rp 1.000 per hari. Namun dari jumlah itu, Sutaji disiplin menyisihkan Rp 200 untuk ditabung.
“Bukan buat beli apa-apa. Buat niat,” katanya pelan.
Sutaji lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto. Ia mulai berjualan kerupuk sejak masih lajang.
Pada awal 1980-an, ia menikahi Siti Hana, 62, perempuan asal Budug yang hingga kini setia mendampinginya. Sejak awal pernikahan, niat berhaji sudah mereka tanamkan bersama.
“Sejak menikah, saya sudah berniat. Kalau Allah kasih rezeki, ingin sekali ke tanah suci,” tutur Sutaji.
Waktu berjalan, zaman berubah. Kini, di tahun 2026, penghasilan Sutaji dari berjualan kerupuk mencapai sekitar Rp 100.000 per hari.
Separuhnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sisanya kembali ditabung—dengan niat yang sama seperti puluhan tahun lalu.
“Yang penting niat dan bisa menahan diri. Jangan boros. Kebutuhan yang utama, sisanya ditabung,” ujarnya.
Kesabaran panjang itu akhirnya berbuah. Pada 2012, Siti Hana lebih dulu mendaftar haji. Sutaji menyusul pada 2019, setelah kembali mengumpulkan biaya dari hasil kayuhan sepedanya.
Kini, pasangan suami istri tersebut tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 2026.
Menariknya, Sutaji tak pernah banyak bercerita tentang mimpi besarnya itu. Ia memilih menyimpannya dalam doa dan kerja keras. Kepada sesama pedagang kerupuk, ia hanya meminta restu.
“Teman-teman saya cuma bilang, semoga lancar berangkat dan pulang. Itu sudah cukup,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Sutaji, kisah hidupnya bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
“Saya hanya bisa mendoakan yang lain. Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT mudahkan jalannya,” pungkasnya. (*)







