KabarBaik.co, Surabaya – Di atas kertas, manajemen mungkin hanya mematok target cukup di papan atas. Namun, di tribun Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dan di setiap sudut warung kopi Surabaya Raya, ada nyala api yang jauh lebih besar. Asa para pendukung untuk melihat Persebaya menginvasi Asia.
Sejauh ini, Green Force sudah meminkan 23 laga. Tinggal sebelas laga lagi tersisa yang tak mudah. Nah, menghadapi sebelas laga sisa yang penuh ’’ranjau’’, harapan dapat menembus jalan ke Asia itu tentu bukan lagi sebatas milik direksi, melainkan milik jutaan Bonek yang sudah lama merindukan prestasi. Terlebih kejayaan internasional.
Bernardo Tavares yang kini menjadi arsitek Bajul Ijo, bukan pelatih yang datang untuk bermain aman. Dia pasti paham bahwa di Kota Surabaya, tekanan suporter adalah napas pertandingan. Ketika Tavares menerapkan gaya main pragmatis yang mungkin “membosankan” bagi pengamat luar, boleh jadi sebenarnya dia sedang menjahit harapan para pendukung itu. Kemenangan tipis 1-0 yang dapat membawa Persebaya ke kompetisi AFC, jauh lebih berharga daripada permainan indah yang hanya berakhir di papan tengah klasemen.
Nah, laga melawan Persib pada Senin (2/3), menjadi ujian nyali pertama. Di mata fans, duel itu bukan sekadar mengejar poin Persib, tapi soal membuktikan bahwa Persebaya layak duduk di singgasana elite.
Tavares pun tahu bahwa untuk mewujudkan asa suporter tersebut, dia harus melewati ’’ranjau’’ atau hadangan-hadangan. Selain Persib, juga Borneo FC dan Persija dengan mentalitas pemenang. Setiap poin yang diraih adalah satu langkah lebih dekat menuju bandara, menuju laga tandang lintas negara yang sudah lama diimpikan.
Dalam sebelas laga sisa ke depan, motivasi terbesar pemain seperti Bruno Moreira, Gali Freitas, dan lainnya, bukan lagi sekadar bonus kemenangan. Tapi, tuntutan sejarah dari tribun serta pojok-pojok warung kopi. Tavares tertantang memanfaatkan energi “teror” dari suporter untuk menekan lawan. Membuktikan diri bahwa di bawah kepelatihannya Persebaya benar-benar sedang bertransformasi menjadi tim yang bermain dengan amarah yang terkontrol demi prestasi dan kejayaan.
Menyapu bersih sebelas laga tersisa mungkin terdengar mustahil secara statistik. Namun, bagi pendukung Persebaya, matematika tidak berlaku di lapangan hijau. Jika tiket Asia berhasil diamankan di akhir musim, maka itu bukan hanya keberhasilan taktis seorang Bernardo Tavares, melainkan kemenangan atas kesabaran dan loyalitas tanpa batas para pendukungnya.
Peta Jalan 11 Laga, Menjemput Asa Asia di Tengah Kepungan Ranjau
Fase I: Perang Urat Syaraf (Maret)
Langkah 1: Melawan Persib (Kandang): The Statement Game
Inilah laga pembuka gerbang. Menang atas Persib di Stadion GBT bukan sekadar soal 3 poin, tetapi soal meruntuhkan mentalitas lawan. Tavares diprediksi akan memasang “tembok” tebal untuk memancing Maung Bandung menyerang, lalu mematikan mereka lewat satu transisi cepat mematikan. Kemenangan melawan pemuncak klasemen sekaligus juara bertahan back to back ini akan membakar semangat Surabaya.
Langkah 2: Melawan Borneo FC (Tandang): Ujian Kedewasaan
Bermain di Samarinda adalah ujian taktik paling ekstrem bagi Tavares. Di laga ini, hasil imbang adalah kemenangan moral. Peta jalannya, bertahan secara terorganisir dan tidak terpancing provokasi. Satu poin di sini sangat krusial untuk menjaga jarak di papan atas.
Langkah 3: Lawan Persita (Kandang): Pesta di Stadion Angker
Laga yang wajib dimenangkan Persebaya dengan skor meyakinkan. Di sini, asa Bonek akan meledak. Persebaya harus dominan sejak menit awal untuk kembali menunjukkan bahwa Stadion GBT adalah “neraka” bagi tim-tim tamu, meski sempat tercoreng beberapa kekalahan.
Fase II: Duel Klasik dan Rivalitas (April)
Langkah 4: Melawan Persija (Tandang): Adu Mekanik di Ibukota
Duel klasik yang selalu emosional. Tavares mesti mengadu fisik lini tengahnya untuk meredam kreativitas Sang Macan Kemayoran, Persija. Menang di Jakarta akan membuat nama Persebaya semakin disegani di bursa calon salah satu wakil Asia.
Langkah 5: Berhadapan dengan Madura United (Kandang): Derby Suramadu
Bukan sekadar derby, tapi soal menjaga konsistensi. Selama ini, Madura United seringkali tampil merepotkan, namun di tangan Tavares, efisiensi bola mati akan menjadi pembeda di laga ini. Lalu, membawa kemenangan dengan skor meyakinkan.
Langkah 6: Duel dengan Malut United (Tandang): Penentuan Tiket
Inilah lawan langsung di zona empat besar klasemen Super League 2025/2026. Peta jalannya adalah mencuri poin di kandang Malut United. Jika Persebaya tidak kalah di laga ini, maka satu kaki mereka sudah menginjak tangga kompetisi Asia.
Fase III: Misi Sapu Bersih dan Puncak Asa (Mei)
Langkah 7: Berhadapan dengan Arema FC (Tandang): Harga Diri di Derby Jatim
Meskipun laga tandang, sejarah mencatat Persebaya punya mentalitas kuat ketika melawan Arema. Pada laga ini, Tavares harus memastikan emosi pemain stabil. Menang di Derby Jatim akan memberikan dorongan moral luar biasa menuju akhir musim.
Langkah 8: Melawan PSBS Biak (Kandang): Menjaga Momentum
Melawan tim promosi yang sedang berjuang, Persebaya tidak boleh meremehkan. Peta jalannya: rotasi pemain yang cerdik agar pilar utama tetap bugar dalam melakoni beberapa laga pamungkas.
Langkah 9: Bertemu Persis Solo (Tandang): Perangkap Juru Kunci
Ini boleh jadi laga yang paling ’’berbahaya’’ secara mental. Menghadapi tim juru kunci yang bermain tanpa beban, Persebaya harus bermain sangat sabar. Jangan sampai terburu-buru menyerang hingga lupa pertahanan. Ini seperti saat melawan tim zona degradasi Persijap Jepara yang akhirnya dipermalukan dengan dengan skor telak 3-1.
Langkah 10: Melawan Semen Padang (Tandang): Misi Amankan Poin
Laga tandang terakhir. Di fase ini, kebugaran fisik Gree Force akan diuji habis-habisan. Kemenangan tipis 1-0 atas Semen Padang sudah cukup untuk memastikan posisi di 3 besar aman.
Langkah 11: Berhadapan Persik (Kandang): Karnaval Menuju Asia
Penutup musim di Stadion GBT. Jika semua langkah sebelumnya dijalani dengan disiplin, maka laga sesame tim asal Jatim ini akan menjadi pesta perayaan. Kemenangan atas Persik akan mengunci tiket Asia secara resmi dan dapat membayar lunas asa Bonek selama bertahun-tahun.
Peta jalan tersebut menuntut Persebaya dapat meraih minimal 24-26 poin dari total 33 poin yang tersedia. Dengan karakter Bernardo Tavares yang sangat berhati-hati dan tajam dalam skema serangan balik, sebetulnya jalur ini bukan hanya mungkin, tapi sangat terbuka untuk dilewati. Namun, lapangan hijau kerap membuat ’’mata hijau’’ hingga laga terkadang tidak sesuai dengan logika. Salam satu nyali! (*)








