Pertanian Indonesia Makin Mendunia, Ekspor Meningkat Jadi Kado Kemerdekaan

oleh -134 Dilihat
Mentan Andi Amran Sulaiman saat melepas ekspor.
Mentan Andi Amran Sulaiman saat melepas ekspor. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Jakarta – Prospek perdagangan sektor pertanian Indonesia menunjukkan arah yang semakin positif. Setelah mencatat lonjakan ekspor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada 2025, tren tersebut berlanjut pada semester pertama 2026 dengan peningkatan nilai ekspor komoditas pertanian yang tetap terjaga, sementara ketergantungan terhadap impor terus menurun. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi sektor pertanian nasional mulai menghasilkan fondasi perdagangan yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing.

Bahkan Indonesia mencatat momentum bersejarah di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Untuk pertama kalinya setelah berhasil mencapai swasembada beras, Indonesia kembali membuka keran ekspor beras ke negara tetangga, Malaysia, dengan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor beras ke Malaysia menjadi kabar baik bagi Indonesia sekaligus bukti bahwa produksi pangan nasional kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki ruang untuk memasok pasar internasional.

“Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya, Rabu (19/8).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian menunjukkan peningkatan nilai ekspor sepanjang 2025 untuk produk segar dan olahan mencapai sekitar Rp 756,69 triliun, meningkat Rp 166,71 triliun atau 28,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, nilai impor turun menjadi sekitar Rp 389,95 triliun, atau berkurang Rp 41,68 triliun (9,66 persen) dibandingkan 2024.

Kinerja tersebut menandai salah satu perbaikan struktur perdagangan pertanian terbesar dalam dua dekade terakhir. Tidak hanya ekspor yang melonjak tajam, penurunan impor juga memperlihatkan meningkatnya kemampuan produksi dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan nasional sekaligus memperluas penetrasi ke pasar internasional.

Jika ditinjau dalam perspektif jangka panjang, perkembangan perdagangan pertanian Indonesia menunjukkan transformasi yang konsisten. Pada 2003, nilai ekspor sektor pertanian baru mencapai sekitar Rp 64,61 triliun, sedangkan pada 2025 telah meningkat lebih dari sebelas kali lipat menjadi Rp 756,69 triliun. Dalam periode yang sama, impor memang turut meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional, namun pada 2025 mulai menunjukkan pembalikan arah melalui penurunan hampir 10 persen. Perubahan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekspor kini berlangsung lebih cepat dibandingkan kebutuhan impor, sehingga struktur perdagangan sektor pertanian menjadi semakin sehat.

Tren tersebut juga memperlihatkan dinamika yang menarik. Setelah ekspor mencapai Rp 657,50 triliun pada 2022, nilainya sempat terkoreksi menjadi Rp 552,39 triliun pada 2023 akibat perlambatan perdagangan global. Namun pada 2024 ekspor kembali pulih menjadi Rp 589,98 triliun dan melonjak tajam pada 2025 hingga Rp 756,69 triliun. Sebaliknya, impor yang terus meningkat sejak 2020 mencapai puncaknya pada 2024 sebesar Rp 431,63 triliun, kemudian berhasil ditekan menjadi Rp 389,95 triliun pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan perdagangan pertanian Indonesia tidak hanya didorong oleh kenaikan ekspor, tetapi juga oleh keberhasilan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Momentum positif tersebut berlanjut pada 2026. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS, nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai US$ 2,59 miliar, meningkat 1,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2026 saja, nilai ekspor sektor tersebut mencapai US$ 485,8 juta.

Peningkatan tersebut ditopang oleh membaiknya kinerja komoditas strategis, terutama minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang mencatat pertumbuhan ekspor 7,32 persen selama Januari–Juni 2026. Penguatan harga CPO di pasar internasional menjadikan komoditas ini sebagai salah satu motor utama peningkatan ekspor nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa kenaikan harga CPO di pasar global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia sepanjang semester pertama 2026.

Secara nasional, total ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$ 140,81 miliar, meningkat 4,13 persen, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh 4,90 persen menjadi US$ 134,58 miliar. Kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), termasuk CPO beserta produk turunannya, menjadi salah satu kontributor terbesar pertumbuhan ekspor nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi pembangunan pertanian yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi, modernisasi budidaya, penguatan hilirisasi hingga pembukaan akses pasar ekspor.

“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” ujar Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, penguatan perdagangan internasional tidak terlepas dari meningkatnya produksi nasional yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menghasilkan surplus untuk diekspor. Pada saat yang sama, pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, rempah-rempah, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah agar devisa yang diperoleh semakin besar.

Keberhasilan tersebut juga berjalan beriringan dengan meningkatnya indikator fundamental sektor pertanian. Total kenaikan pendapatan mencapai Rp 437,25 triliun yang berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor. Bahkan, dari sisi efisiensi devisa, Indonesia berhasil menghemat impor hingga Rp 34 triliun, produksi beras naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen, sementara Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Selain itu, kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,84, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade, sedangkan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ekspor bukan hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi sebagai strategi utama peningkatan daya saing ekspor Indonesia.

“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Mentan.

Ke depan, prospek perdagangan sektor pertanian diperkirakan masih akan terus menguat. Peningkatan produksi nasional, modernisasi pertanian, deregulasi kebijakan, penguatan hilirisasi, serta perluasan akses pasar internasional diyakini akan menjaga tren ekspor tetap meningkat sekaligus menekan impor. Dengan kualifikasi logis tersebut, sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan nasional, tetapi juga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama perdagangan pertanian dunia.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.