Kabarbaik.co – Langit yang bergelayut awan kelabu tampak seperti menyertai kesedihan yang menyelimuti setiap sudut rumah ukuran 5×5 meter di Dusun Dingin Desa/Kecamatan Ngronggot, Nganjuk. Udara pekat dan lembab menyelimuti ruangan yang sudah hampir roboh.
Itulah sebuah gambaran nyata dari potret kemiskinan yang masih menggerogoti sebagian wilayah di daerah dengan sebutan Anjuk Ladang atau tanah kemenangan ini.
Tatapan redup mata seorang perempuan renta menyaksikan tetesan air hujan yang langsung masuk dari atap rumahnya yang sudah berlubang. Dengan tubuh yang bungkuk dan langkah goyah, Nenek Sumiati merangkak perlahan ke pojok rumah, satu-satunya tempat yang masih bisa memberikan perlindungan.
Di situlah perempuan 60 tahun itu menekuk badan, menunggu badai berlalu sambil melihat bantal dan kasurnya yang kehitaman memudarkan warna aslinya, mulai basah terendam tetesan air.
Kondisi Nenek Sumiati hanya satu dari sekian banyak kasus yang belum tersentuh oleh program pembangunan dan bantuan sosial.
“Jika hujan tiba saya pindah ke pojok yang masih tersisa atapnya, dan jika cuaca panas maka terik matahari masuk ke dalam ruangan,” ucap Nenek Sumiati dengan suara pelan kepada awak media sambil mengusap pelan pipinya yang penuh dengan bekas usia dan debu dari dinding bata yang mulai mengelupas, Kamis (22/1)

Tempat tinggal yang menyatu antara kamar tidur dan dapur itu benar-benar jauh dari kata layak huni. Dinding bata yang sudah lapuk tampak siap roboh setiap saat, sementara lantai tanah liat yang tidak rata membuat setiap langkah harus ekstra hati-hati.
Mirisnya, kondisi yang memilukan ini terjadi di tengah gembar gembor pemerintah mengentaskan kemiskinan, nasib tragis nenek Sumiati seolah menjadi bukti bahwa sikap sosial dan kemanusiaan telah mulai memudar.
Siapapun akan menitikkan air mata ketika melihat secara langsung kondisi nenek yang hidup sebatang kara ini. Untuk menanak beras bantuan tetangga kanan kiri, Nenek sumiati menggunakan tungku bata yang dibuatnya sendiri. Bahan bakarnya adalah kayu yang harus ia cari atau kumpulkan dari sekeliling lingkungan.
“Masak air dan masak nasinya ya di sini,” ucapnya sambil memperlihatkan panci berlubang dan wajan usang yang sudah menipis akibat pemakaian bertahun-tahun.
Untuk makan sehari-hari bukanlah hal yang pasti. Ia harus menunggu beras bantuan dari pemerintah desa, sementara sisanya hanya bisa bergantung pada kebaikan keluarga dan tetangga sekitar
“Beras nunggu bantuan dari desa sama dikasih saudara,” jelasnya dengan suara pelan

Belum Tersentuh Bantuan Rutilahu
Lokasi rumah Nenek Sumiati yang berada di belakang rumah-rumah warga lain membuatnya jarang dikenal oleh banyak banyak, sebuah masalah umum bagi banyak kasus kemiskinan di Kabupaten Nganjuk di mana aksesibilitas yang buruk membuat wilayah terpencil sulit terjangkau oleh program bantuan pemerintah.
Beruntung saja, tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah adik perempuannya bernama Ningsih,yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya.
“Rumahnya itu dibangun sudah 20 tahunan. dDbangun ketika suaminya masih hidup,” ungkap Ningsih dengan suara bergetar, menangis melihat kondisi kakaknya yang menyedihkan.
Nenek Sumiati hidup sebatang kara tanpa anak. Sementara suaminya sudah meninggal beberapa tahun silam. Meskipun telah dua dekade menghuni rumah tidak layak huni, hingga kini ia belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, baik dari tingkat desa maupun kabupaten.
Padahal, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) seharusnya bisa menjadi solusi, namun keterbatasan anggaran dan data yang tidak komprehensif membuat banyak kasus seperti ini terlewatkan di Kabupaten Nganjuk.
“Ya sampai sekarang belum ada bantuan untuk membenahi rumahnya, kalau memang bantuan bedah rumah (Rutilahu) ada, ya rumah kakak saya ini sudah seharusnya dapat,” ungkap Ningsih dengan nada penuh keprihatinan.
Nenek Sumiati berharap Pemkab Nganjuk dan Pemprov Jatim hingga Pemerintah Pusat bisa melihat kondisi dirinya yang memilukan “Nggih mugi-mugi didandosi, (semoga diperbaiki),” ucap Nenek Sumiati dengan mata berkaca-kaca. (*)








