KabarBaik.co, Malang – Mola hidatidosa atau yang dikenal sebagai hamil anggur merupakan komplikasi kehamilan langka yang masih menjadi ancaman bagi perempuan. Kondisi ini terjadi ketika kehamilan tidak berkembang menjadi janin normal akibat kelainan pada sel telur sejak proses pembuahan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp.O.G., Subsp. Onk, menjelaskan bahwa pada kasus hamil anggur, janin tidak terbentuk sama sekali. “Pada kehamilan normal seharusnya berkembang menjadi janin. Namun pada mola hidatidosa, janin tidak terbentuk,” ujar Prof. Tatit, Senin (9/2).
Ia menerangkan, hamil anggur disebabkan oleh sel telur yang tidak sempurna. Pertama, ovum dalam kondisi kosong atau tidak memiliki kromosom yang seharusnya berjumlah 23 kromosom ditambah X. Kedua, sel telur memiliki kromosom tetapi tidak sempurna sehingga dapat dibuahi oleh lebih dari satu sperma. “Padahal secara normal, satu sel telur hanya bisa dibuahi oleh satu sperma,” jelasnya.
Secara epidemiologi, Prof. Tatit menyebut hamil anggur lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan status sosial ekonomi rendah dan pengetahuan gizi yang kurang. Beberapa faktor pemicu antara lain konsumsi makanan berbahan kimia, pola makan dengan indeks glikemik tinggi, serta kelebihan berat badan. “Contohnya pola makan nasi dengan lauk mi instan, minum teh manis. Ini pola diet glikemik yang sering terjadi,” ujarya.
Selain itu, perempuan dengan Body Mass Index (BMI) di atas 28 atau berat badan lebih dari 70 kilogram juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami hamil anggur. Sebagai upaya pencegahan, Prof. Tatit merancang model preventif PERMATA MOLA yang menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi sebelum kehamilan.
Ia menegaskan bahwa pencegahan hamil anggur tidak dilakukan di rumah sakit atau ruang operasi, melainkan dimulai dari pola makan sehari-hari. “Pencegahan hamil anggur bukan di rumah sakit, tapi ada di piring wanita,” tegasnya.
Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain diet tinggi protein untuk mencegah terbentuknya sel telur kosong, serta pemenuhan vitamin A dan vitamin D yang berperan menjaga kestabilan sel agar tidak mudah mengalami kelainan.
Vitamin D dapat diperoleh dari paparan sinar matahari, sementara vitamin A banyak terkandung dalam sayur dan buah. Selain itu, konsumsi antioksidan dari sayuran hijau yang mengandung klorofil juga penting untuk melindungi sel dari kerusakan. “Antioksidan banyak terdapat pada tumbuhan berwarna hijau dan sangat penting untuk kesehatan sel yang berhubungan dengan kehamilan,” tandasnya. (*)






