Profil Tarique Rahman: Pemimpin Baru, Strategi, dan Tantangan Ekonomi

oleh -112 Dilihat
Tariquer Rahman, PM baru Bangladesh, bersama keliarga.

KabarBaik.co, Dhaka,— Bangladesh memulai babak baru dalam sejarah politiknya. Tarique Rahman resmi dilantik sebagai Perdana Menteri (PM), menandai kembalinya Bangladesh Nationalist Party (BNP) ke tampuk kekuasaan setelah lama berada di luar pemerintahan.

Rahman lahir pada 1960 dari pasangan mantan Presiden Ziaur Rahman dan mantan PM Khaleda Zia, sehingga sejak kecil ia sudah akrab dengan dinamika kekuasaan dan intrik politik. Pendidikan awalnya ditempuh di Dhaka, sementara beberapa program lanjutan di luar negeri membekalinya wawasan internasional yang kini akan diuji di tengah tantangan politik dan ekonomi yang kompleks.

Perjalanan politiknya dimulai pada awal 1990-an melalui aktivitas kepemudaan di BNP. Ia cepat dikenal sebagai pengatur strategi partai dan penggerak organisasi akar rumput.

Pada awal 2000-an, Rahman diangkat menjadi Senior Vice Chairman BNP, memegang kendali besar atas struktur partai dan strategi politik. Namun kariernya tidak selalu mulus. Ia menghadapi tuduhan korupsi dan tekanan politik dari kubu lawan, sehingga memilih tinggal di luar negeri—terutama London—untuk keamanan, pengobatan, dan tetap mengelola partai dari jarak jauh.

Selama masa pengasingannya, pengaruhnya terhadap BNP tetap kuat. Dia memimpin strategi, menunjuk pengurus, dan menjaga loyalitas kader. Kembalinya ke Bangladesh pasca kemenangan telak BNP dalam pemilu terbaru menandai puncak karier politiknya dan memberikan kesempatan untuk mewujudkan janji pembangunan.

Kini, sebagai PM, Tarique Rahman menghadapi ujian ekonomi yang tidak ringan. Pertumbuhan ekonomi Bangladesh saat ini moderat, sekitar 4,7 persen, lebih rendah dibanding era pertumbuhan tinggi sebelumnya yang mencapai 6–7 persen.

Inflasi masih tinggi, hampir 9 persen, sehingga harga barang dan kebutuhan pokok terus naik dan menekan daya beli masyarakat. Total utang pemerintah mencapai lebih dari 21 triliun Taka, atau sekitar 113 miliar dolar AS, dengan rasio terhadap PDB antara 32 hingga 36 persen.

Meskipun rasio imasih lebih rendah dibanding India, yang memiliki utang sekitar 70 persen dari PDB, dan sebanding dengan Indonesia yang rasio utangnya 30–33 persen, peningkatan utang tetap membutuhkan pengelolaan hati-hati agar tidak membatasi ruang untuk belanja pembangunan, infrastruktur, dan sosial.

Ekonomi Bangladesh masih sangat bergantung pada ekspor, khususnya sektor garmen, dan remitansi pekerja migran yang menjadi penopang utama devisa negara. Namun ketergantungan ini membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi global, seperti perlambatan permintaan di pasar internasional atau kenaikan harga bahan baku impor.

Cadangan devisa relatif stabil, tetapi pemerintah harus berhati-hati dalam menjaga neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar. Di tengah tekanan ekonomi dan utang yang meningkat, kemampuan Rahman untuk mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja baru, dan menjaga inflasi tetap terkendali menjadi ujian nyata bagi pemerintahannya.

Politik Bangladesh tetap kompleks. Meski menang telak, Rahman menghadapi oposisi yang kuat, tuntutan agar demokrasi tetap inklusif, dan pengawasan ketat dari dunia internasional.

Hubungan regional juga menjadi perhatian; India dan Pakistan merupakan mitra strategis utama dalam perdagangan dan politik. Rahman berjanji akan menyeimbangkan hubungan ini sambil memfokuskan pemerintahannya pada pembangunan domestik, stabilitas ekonomi, dan persatuan nasional.

Tarique Rahman bukan sekadar pewaris dinasti politik. Dia merupakan simbol bagaimana pengalaman, strategi, dan pengaruh organisasi dapat berpadu. Masa pengasingannya di luar negeri justru memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tangguh dan strategis, mampu mempertahankan kontrol partai dari jarak jauh.

Kini, dengan mandat kuat di parlemen, sorotan internasional, dan harapan masyarakat, tantangan ekonomi dan manajemen utang menjadi salah satu ujian terbesar bagi pemerintahannya. Rakyat Bangladesh menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji kampanye, untuk melihat apakah era baru ini akan membawa stabilitas, pertumbuhan, dan kemakmuran yang dijanjikan.

Dengan latar belakang politik yang kuat, pengalaman internasional, dan kepemimpinan partai yang teruji, Tarique Rahman memulai pemerintahannya di persimpangan antara harapan rakyat dan realitas ekonomi yang menuntut kebijakan tepat dan terukur.

Bagaimana ia mampu menavigasi utang, inflasi, dan pertumbuhan moderat akan menjadi penentu apakah era baru Bangladesh benar-benar berbeda dari masa lalu atau hanya pergantian wajah elite politik. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.