CORE Indonesia Proyeksikan Perputaran Uang Ramadan–Lebaran 2026 Tembus Rp 190 Triliun, Naik 15 Persen

oleh -76 Dilihat
Perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran 2026 diproyeksi tembus Rp 190 triliun

KabarBaik.co, Jakarta – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 berpotensi menembus Rp 190 triliun.

Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sekitar Rp 160 triliun.

Momentum Ramadan dan Lebaran tahun ini dinilai menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga sekaligus katalis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026.

Yusuf menilai, siklus konsumsi yang terkonsentrasi di awal tahun menjadi faktor pembeda dibandingkan pola pada tahun-tahun sebelumnya.

“Saya melihat momentum Ramadan dan Lebaran 2026 sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa,” ujar Yusuf, Sabtu (21/2).

Ia menjelaskan, pencairan tunjangan hari raya (THR) yang berlangsung dalam dua gelombang—yakni bagi aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan pekerja sektor swasta pada Maret—tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.

Kondisi tersebut menciptakan fenomena extended spending window, yakni periode konsumsi yang berlangsung lebih panjang sehingga aliran likuiditas ke sektor ritel, distribusi, hingga jasa menjadi lebih stabil.

Berdasarkan tren historis, kesiapan uang kartal Bank Indonesia, serta pola pencairan THR, CORE Indonesia memperkirakan perputaran uang Ramadan–Lebaran 2026 meningkat sekitar 10–15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Nilainya bisa mencapai kisaran Rp 175 triliun, bahkan berpotensi melampaui Rp 190 triliun,” ungkapnya.

Peningkatan perputaran uang, lanjut Yusuf, tidak hanya berasal dari konsumsi kebutuhan primer seperti makanan dan pakaian, tetapi juga didorong lonjakan pada sektor transportasi, akomodasi, serta pariwisata daerah.

Arus mudik turut berperan sebagai mekanisme redistribusi ekonomi dari kota besar ke daerah yang memicu efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi lokal.

Dari sisi makroekonomi, dampak tersebut menjadi penting mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yakni sekitar 54–55 persen.

Ketika perputaran uang dalam skala ratusan triliun terjadi pada kuartal I—yang biasanya menjadi periode pertumbuhan relatif moderat—maka fondasi pertumbuhan ekonomi berpotensi terdongkrak.

“Saya memperkirakan momentum ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I secara tahunan ke kisaran 5,0 hingga 5,1 persen,” kata Yusuf.

Meski demikian, ia mengingatkan efektivitas dorongan konsumsi sangat bergantung pada stabilitas inflasi, terutama harga pangan pokok. Jika inflasi meningkat terlalu tinggi, daya beli riil masyarakat berisiko tergerus sehingga efek pengganda terhadap perekonomian tidak berlangsung optimal.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.