Oleh: H. Ahmad Nawardi, S.Ag
Ketua Komite IV DPD RI
Anggota DPD RI Utusan Provinsi Jawa Timur
Ramadan selalu dimaknai sebagai bulan pengendalian diri, perenungan, dan bulan yang penuh pelipatgandaan pahala. Umat Islam menata ulang ritme hidupnya, menahan lapar di siang hari, menghidupkan malam dengan ibadah, memperbanyak sedekah. Namun ada dimensi lain yang tak kalah nyata. Setiap Ramadan, ruang-ruang ekonomi ikut berubah iramanya. Aktivitas jual beli meningkat, transaksi melonjak, dan uang beredar lebih cepat dari bulan-bulan biasa.
Pada Ramadan 2026, dinamika itu terasa kuat di Jawa Timur. Provinsi dengan populasi besar dan struktur ekonomi yang ditopang perdagangan, industri pengolahan, serta UMKM ini menjadikan bulan suci bukan hanya momentum spiritual, melainkan juga fase akselerasi ekonomi. Keberkahan Ramadan menjelma dalam bentuk perputaran uang, pertumbuhan usaha kecil, dan distribusi pendapatan yang meluas hingga ke desa-desa.
Daya Konsumsi dan Lonjakan Likuiditas
Secara nasional, periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 diperkirakan menambah sekitar 0,25–0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Penggeraknya jelas dalam konsumsi rumah tangga. Dalam struktur Produk Domestik Bruto Indonesia, konsumsi menjadi penopang utama. Ketika belanja masyarakat meningkat, efek berantainya menjalar ke produksi, distribusi, dan jasa.
Gambaran makro tersebut menemukan konteksnya di Jawa Timur. Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur menyiapkan sekitar Rp 24,6 triliun uang layak edar selama periode Ramadan dan Lebaran 2026, meningkat lebih dari lima persen dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan suplai likuiditas ini bukan angka administratif semata. Ia mencerminkan ekspektasi atas lonjakan transaksi di pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hingga sentra UMKM.
Pasar-pasar di Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember menunjukkan pola yang sama setiap tahun: permintaan bahan pokok meningkat menjelang berbuka dan mendekati Idul Fitri. Daging, telur, gula, tepung, minyak goreng, serta bumbu dapur mengalami kenaikan volume penjualan. Industri rumahan pembuat kue kering dan parsel kebanjiran pesanan.
Pedagang pakaian muslim merasakan lonjakan pembeli yang menyiapkan diri menyambut hari raya. Skala nasional bahkan memperkirakan perputaran uang selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 dapat mencapai ratusan triliun rupiah. Jawa Timur, sebagai salah satu kontributor terbesar ekonomi nasional di luar Jakarta, tentu mengambil bagian signifikan. Kombinasi jumlah penduduk, kekuatan sektor perdagangan, dan jaringan distribusi antarwilayah membuat provinsi ini menjadi simpul penting arus barang dan uang.
Ramadan juga menghadirkan mekanisme redistribusi yang khas melalui tradisi mudik. Arus manusia dari kota industri kembali ke kampung halaman membawa serta pendapatan yang diperoleh selama setahun. Uang itu dibelanjakan di desa: untuk kebutuhan keluarga, perbaikan rumah, zakat, dan kegiatan sosial. Dalam beberapa pekan, desa-desa mengalami peningkatan aktivitas ekonomi yang sulit ditemukan pada bulan biasa. Perputaran ini mempersempit jarak antara pusat pertumbuhan dan wilayah pinggiran.
Fenomena tersebut menegaskan bahwa Ramadan memiliki efek pengganda yang nyata. Konsumsi tidak berhenti pada transaksi akhir, melainkan mendorong produksi tambahan, membuka lapangan kerja musiman, dan menggerakkan sektor transportasi serta logistik.
Bagi banyak keluarga, bulan suci menjadi momentum memperbaiki arus kas, baik melalui peningkatan penjualan maupun tambahan jam kerja.
Digitalisasi, UMKM, dan Ekonomi Inklusif
Ramadan 2026 juga memperlihatkan perubahan struktur ekonomi yang semakin digital. Jika dahulu transaksi didominasi tatap muka dan uang tunai, kini platform daring memainkan peran penting. Di Jawa Timur, salah satu platform transportasi dan layanan pesan-antar melibatkan sekitar 10.000 mitra terdiri atas pengemudi dan pelaku usaha untuk menggerakkan ekonomi Ramadan tahun ini.
Permintaan layanan antar makanan untuk berbuka dan sahur meningkat tajam, terutama di kawasan urban seperti Surabaya dan sekitarnya. UMKM kuliner memanfaatkan aplikasi untuk memperluas pasar tanpa perlu membuka cabang baru. Paket berbuka keluarga, menu takjil inovatif, hingga katering sahur dipasarkan melalui gawai. Setiap pesanan menciptakan rantai nilai: dari pemasok bahan baku, juru masak, pengemudi, hingga penyedia kemasan.
Digitalisasi memberi dua dampak sekaligus. Pertama, efisiensi distribusi. Produk dapat menjangkau konsumen lebih luas dalam waktu singkat. Kedua, inklusivitas. Pelaku usaha kecil yang sebelumnya terbatas pada pelanggan sekitar kini memiliki akses ke pasar kota bahkan lintas kabupaten.
Momentum Ramadan menjadi laboratorium tahunan bagi adaptasi teknologi UMKM. Sektor ekonomi kreatif turut menikmati lonjakan. Desainer grafis memproduksi materi promosi bertema Ramadan, pembuat hampers merancang kemasan yang estetis, pelaku konten digital mengangkat kisah kuliner dan tradisi lokal.
Aktivitas tersebut memperkaya ekosistem ekonomi daerah. Ramadan tidak lagi sekadar bulan konsumsi, melainkan ruang inovasi yang mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas produk dan layanan.
Tantangan tetap hadir. Lonjakan permintaan berpotensi menekan pasokan dan memicu kenaikan harga. Stabilitas inflasi menjadi pekerjaan rumah penting bagi pemerintah daerah dan otoritas terkait. Operasi pasar, pengawasan distribusi, serta koordinasi dengan pelaku usaha diperlukan agar peningkatan konsumsi tidak menggerus daya beli masyarakat berpendapatan rendah. Keberkahan ekonomi kehilangan makna ketika akses terhadap kebutuhan pokok menjadi tidak merata.
Di titik inilah relevansi nilai-nilai Ramadhan menemukan konteks sosialnya. Puasa mengajarkan pengendalian diri, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut dapat menjadi penyeimbang dorongan konsumsi. Aktivitas ekonomi tetap tumbuh, namun disertai kesadaran berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. Arus uang yang meningkat tidak berhenti pada keuntungan individual, melainkan mengalir ke kelompok yang membutuhkan.
Ramadan 2026 di Jawa Timur memperlihatkan satu kenyataan: spiritualitas dan ekonomi bukan dua kutub yang saling meniadakan. Ibadah memberi energi moral, sementara aktivitas ekonomi menyediakan ruang aktualisasi sosial. Masjid dan pasar hidup berdampingan, doa dan transaksi berlangsung dalam waktu yang sama. Bulan suci menghadirkan berkah ganda pahala yang dilipatgandakan dan perputaran ekonomi yang menguatkan fondasi masyarakat.
Dalam lanskap seperti itu, Ramadan bukan hanya peristiwa religius tahunan. Ia adalah siklus sosial-ekonomi yang membentuk karakter daerah, menggerakkan pelaku usaha kecil, dan memperluas distribusi kesejahteraan. Jawa Timur pada 2026 menunjukkan bahwa keberkahan dapat bergerak, berputar, dan memberi daya hidup bagi banyak orang.(*)







