KabarBaik.co – PCNU Jombang menggelar Lailatul Ijtima di Masjid Besar Ar Ridlo, Desa Kauman, Kecamatan Mojoagung. Kegiatan ini sekaligus menjadi momen untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan 100 tahun kelahiran NU.
Ratusan warga Nahdliyin memadati masjid sejak pagi. Hadir pula jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan, mulai dari MWCNU, PRNU, lembaga-lembaga NU, hingga badan otonom se-Kabupaten Jombang.
Dari jajaran Syuriyah PCNU Jombang hadir Rais Syuriyah KH Achmad Hasan didampingi KH Mustain Hasan, KH Sholahuddin Fathurrahman, serta M Afairur Romadlon. Sementara dari Tanfidziyah hadir Wakil Ketua KH Haris Munawir, H Achmad Kemal Riza, Sekretaris H Ubaidillah, dan Bendahara KH Rohmatul Akbar.
Acara diawali dengan Istigasah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dipimpin oleh KH Nur Hannan, sebagai upaya spiritual sekaligus konsolidasi organisasi. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mahalul qiyam dan santunan untuk anak yatim.
Ketua MWCNU Mojoagung H Fatkhur Rohman menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Lailatul Ijtima di wilayahnya. Ia menekankan kegiatan ini sebagai sarana memperkuat ukhuwah dan semangat khidmat warga NU.
“Lailatul Ijtima bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum untuk mempererat silaturahmi dan meneguhkan niat kita dalam berkhidmat kepada jam’iyah NU,” ujarnya Rabu (21/1).
Dalam sesi arahan dan pembinaan, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang, KH Haris Munawir, menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi NU secara menyeluruh.
“Kami mengajak seluruh pengurus NU, dari cabang hingga ranting, untuk istikamah dalam berhidmat. Jangan lelah mengurus NU, karena khidmat ini bukan hanya untuk organisasi, tetapi juga untuk umat dan peradaban,” tegas KH Haris Munawir.
KH Haris menambahkan seabad NU menjadi tonggak sejarah yang harus dijadikan energi memperkokoh peran NU di masyarakat.
Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Jombang, KH Achmad Hasan, mengingatkan seluruh pengurus dan warga NU agar tetap berada dalam satu barisan dan satu komando.
“Kunci kemajuan NU adalah kebersamaan. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Satu barisan, satu komando, itulah kekuatan NU sejak didirikan para masyayikh,” tutur KH Achmad Hasan.
Ia menekankan bahwa peringatan Isra Mi’raj dan seabad NU harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus komitmen organisasi.
“Isra Mi’raj mengajarkan kedisiplinan ibadah, sementara seabad NU mengajarkan keteguhan berkhidmat. Keduanya harus berjalan seiring untuk membangun peradaban mulia,” imbuhnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Mustain Hasan, meneguhkan semangat kebersamaan dengan slogan: “Satu barisan, satu komando, menuju peradaban mulia.” (*)






