KabarBaik.co- Dari tepian Sungai Kuantan yang tenang, lahirlah sorotan baru dari tanah Kuansing. Namanya Rayyan Arkan Dikha. Bocah berusia sebelas tahun ini mendadak viral. Bukan karena sensasi. Tapi karena tarian uniknya di atas perahu Pacu Jalur. Tradisi turun-temurun dari Riau itu kini bersinar lagi. Dan Dikha ada di tengah-tengah cahaya itu.
Ia berdiri di ujung perahu panjang. Tubuhnya kecil. Tapi gerakannya mantap. Mengenakan pakaian adat Melayu hitam. Tanjak menjulang di kepalanya. Kacamata hitam menempel di wajah. Tangan Dikha berputar. Badannya meliuk mengikuti irama tambur. Tak goyah di atas perahu yang melaju kencang. Seolah tubuhnya menyatu dengan jalur.
Gerakannya terlihat sederhana. Tapi punya daya magis. Penonton bersorak. Kamera merekam. Dalam sekejap, video penampilannya menyebar. Dunia maya riuh. TikTok dan Instagram penuh dengan cuplikan Dikha. Gaya menarinya diberi nama “aura farming”. Sebuah istilah yang menggambarkan kekuatan tak kasatmata. Mirip tokoh anime saat menghimpun tenaga sebelum mengeluarkan jurus pamungkas.
Julukan itu melekat erat. Bahkan menembus batas negara. Klub sepak bola dunia seperti PSG dan AC Milan ikut mengunggah ulang. Mereka mengedit gaya selebrasi gol seperti tarian Dikha. Dunia tersenyum. Budaya lokal Indonesia tampil dengan wajah baru.
Tapi di balik sorotan itu, Dikha bukan anak biasa. Ia tumbuh dalam keluarga pelestari budaya. Ayahnya pernah menjadi pengayuh jalur. Kakaknya juga pernah berdiri di posisi yang sama. Sejak kecil, Dikha sudah akrab dengan Pacu Jalur. Ia mulai menari di atas perahu sejak usia sembilan tahun.
Latihannya tak mudah. Ia pernah jatuh ke sungai. Berkali-kali. Tapi ia tak menyerah. Ia terus mencoba. Setiap sore ia berlatih. Menjaga keseimbangan. Menyesuaikan tubuh dengan gerak perahu. Belajar menari tanpa takut terjatuh. Ia berlatih bersama tim Jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo. Kini, ia tampil dengan percaya diri. Menari seolah tanpa beban.
Kepiawaiannya mendapat apresiasi. Gubernur Riau, Abdul Wahid, memberinya penghargaan. Ia dinobatkan sebagai Duta Pariwisata Riau. Pemerintah memberinya beasiswa senilai Rp 20 juta. Sebagai bentuk dukungan. Sebuah penghargaan bagi semangat dan ketekunannya.
Kementerian Kebudayaan juga ikut mendukung. Mereka mendorong agar Pacu Jalur diakui UNESCO. Sebagai warisan budaya tak benda dunia. Dikha pun disebut sebagai representasi semangat muda dalam tradisi ini.
Meski viral, Dikha tetap sederhana. Ia masih sekolah di SDN 013 Pintu Gobang Kari. Setiap pagi, ia berangkat seperti biasa. Belajar. Bermain. Mengisi buku tugas. Ia ingin jadi tentara. Cita-cita khas anak kampung. Tapi di dalam dirinya, ia sudah memikul peran besar. Sebagai penjaga budaya. Dan pembawa wajah baru tradisi Melayu.
Pacu Jalur sendiri bukan sekadar lomba dayung. Ia adalah warisan ratusan tahun. Sebuah pesta rakyat. Setiap perahu memuat puluhan pendayung. Mereka berlatih berbulan-bulan. Untuk membawa nama kampung mereka. Di ujung perahu, berdiri Togak Luan. Sosok penari yang membawa semangat. Itulah peran Dikha.
Dalam tradisi itu, semua bergerak dalam irama yang sama. Bukan sekadar soal kecepatan. Tapi juga kehormatan. Kebersamaan. Dan semangat turun-temurun. Rayyan Arkan Dikha kini menjadi wajah muda dari semua nilai itu.
Anak kecil dari Pintu Gobang Kari ini telah membuat dunia menoleh. Ia tidak berubah karena sorotan. Ia tetap jadi dirinya. Tapi justru karena itu, ia menjadi bintang. Sebuah bintang yang bersinar dari jalur panjang tradisi Melayu.
Dikha mengingatkan kita. Bahwa budaya tak pernah usang. Ia hanya menunggu untuk ditampilkan dengan cara yang baru. Gerakan tangan dan liukan badan di atas perahu adalah wujud cinta. Cinta pada leluhur. Cinta pada tanah air. Dan cinta pada jati diri.
Dalam tarian kecil di atas sungai, Rayyan mengajarkan kita tentang makna besar. Bahwa kebesaran tidak harus datang dari panggung besar. Kadang, ia muncul dari anak kecil. Di atas sungai. Di tengah tradisi. Di dalam cinta yang tulus pada budaya sendiri.
Aksi Dikha tak hanya berhenti di tepian Sungai Kuantan. Ia melompat melintasi batas negara. Viralitasnya menyebar ke berbagai penjuru dunia. Video singkatnya yang berdurasi tak lebih dari satu menit itu telah diterjemahkan oleh banyak pengguna media sosial dari mancanegara. Warganet dari Malaysia, Jepang, Brasil, Korea Selatan, hingga Spanyol memberikan komentar penuh takjub. Mereka tidak hanya terhibur, tetapi juga terkesan dengan keluwesan gerak tubuh Dikha yang penuh ekspresi dan kekuatan simbolik.
Di Amerika Latin, khususnya Brasil dan Argentina, netizen menyebut Dikha sebagai “El niño del río”—anak sungai yang menari dengan roh air. Di Jepang, sebuah forum budaya bahkan membandingkan tarian Dikha dengan ritual kabuki dalam konteks energi tubuh dan ekspresi spiritual. Di Korea Selatan, para konten kreator membuat versi parodi tarian itu, lengkap dengan gerakan memutar tangan seperti Dikha dan latar musik tradisional Korea, sebagai bentuk penghormatan yang jenaka namun tulus. Bahkan di Eropa, komunitas seni di Belanda dan Prancis menggunakan klip Dikha dalam diskusi daring tentang revitalisasi budaya lokal lewat anak-anak muda.
Platform-platform besar ikut mengangkatnya. Beberapa influencer budaya dan travel dunia membuat reaksi video khusus membahas penampilannya. Dengan gaya khas masing-masing, mereka mengungkap kekaguman atas bagaimana budaya lokal di Indonesia masih bisa begitu hidup dan relevan di era digital.
Viralitas itu membawa angin segar bagi Riau. Tak hanya nama Dikha yang berkibar, tapi juga nama Pacu Jalur. Dalam sekejap, banyak orang asing mulai mencari tahu: apa itu Pacu Jalur? Mengapa ada anak kecil yang menari di ujung perahu? Kenapa gerakannya seperti menyatu dengan alam?
Momentum ini menjadi bahan bakar kuat bagi rencana pelaksanaan Festival Pacu Jalur Nasional yang akan digelar Agustus mendatang. Pemerintah daerah kini bersiap menghadapi lonjakan minat, tidak hanya dari masyarakat lokal, tapi juga dari wisatawan luar daerah dan bahkan mancanegara. Beberapa biro perjalanan domestik mulai merancang paket wisata khusus “Napak Tilas Jalur Dikha”. Tiket menuju Kuansing pada minggu festival diprediksi akan melonjak.
Panitia festival menyatakan bahwa tahun ini akan berbeda. Aksi Dikha telah menumbuhkan rasa bangga dan keingintahuan yang luar biasa. Panggung budaya akan diperluas. Penampilan tari Togak Luan akan ditampilkan lebih eksplisit, termasuk sesi khusus yang menceritakan sejarahnya dan peran penting anak-anak seperti Dikha dalam menjaga warisan budaya. Media nasional dan internasional sudah menyatakan ketertarikan untuk meliput acara. Bahkan, ada wacana menghadirkan Dikha dalam pertunjukan pembuka sebagai simbol kebangkitan budaya.
Dinas Pariwisata Riau pun merancang strategi promosi baru. Mereka menyusun narasi festival bukan hanya sebagai lomba dayung, tetapi sebagai pesta budaya yang menghidupkan semangat gotong royong, estetika tradisi, dan keterlibatan generasi muda. “Aura Farming”, istilah yang dulu hanya lelucon internet, kini menjadi tajuk kampanye promosi yang membumi sekaligus memikat.
Semua itu bermula dari satu anak kecil yang menari di ujung perahu. Rayyan Arkan Dikha bukan hanya viral. Ia adalah titik mula dari gerakan budaya yang lebih besar. Sebuah gerakan yang mengajak kita semua untuk kembali melihat, mencintai, dan merayakan akar kita sendiri. (*)