KabarBaik.co — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim akhirnya berhasil mengidentifikasi seluruh jenazah korban runtuhan bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Pengumuman resmi disampaikan pada Rabu (16/10) malam, setelah tim DVI menuntaskan identifikasi terhadap lima kantong jenazah terakhir di posko DVI Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.
Dengan hasil ini, total 63 korban dari 67 kantong jenazah yang diterima telah teridentifikasi. Proses identifikasi dilakukan dengan metode komprehensif, termasuk pencocokan DNA, catatan medis, dan properti pribadi milik korban.
Kelima korban yang teridentifikasi terakhir adalah:
1. Sholihan, laki-laki berusia 17 tahun, warga Dsn. Konyek, Alas Rajah, Blega, Bangkalan. Teridentifikasi melalui DNA, catatan medis, dan properti yang cocok dengan Nomor AM 047.
2. Raihan Rafa Aldiyansyah, laki-laki berusia 14 tahun, warga Dusun Langgar, Banyoneng Laok, Geger, Bangkalan. Teridentifikasi melalui DNA, catatan medis, dan properti yang cocok dengan Nomor AM 005.
3. Fairuz Shirojuddin, laki-laki berusia 16 tahun, warga Jalan Singajaya RT 001 RW 001, Singopadu, Tulangan, Sidoarjo. Teridentifikasi melalui DNA, catatan medis, dan properti yang cocok dengan Nomor AM 060.
4. Moch. Defa Sharifuddin, laki-laki berusia 17 tahun, warga Dusun Kaligede RT 001 RW 001, Ngadipiro Wilangan Nganjuk. Teridentifikasi melalui DNA dan catatan medis yang cocok dengan Nomor AM 017.
5. Zaky, laki-laki berusia 12 tahun, warga Planggaran Timur, Lepelle, Robatal, Sampang. Teridentifikasi melalui catatan medis dan properti yang cocok dengan Nomor AM 013.
Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Khusnan Marzuki menyampaikan bahwa seluruh proses identifikasi telah rampung dan operasi DVI resmi ditutup.
“Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk tim forensik, relawan, dan keluarga korban,” ujarnya.
Khusnan menambahkan kerja keras tim DVI dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan profesionalisme untuk memastikan setiap jenazah dapat kembali kepada keluarganya dengan identitas yang benar.
Dengan tuntasnya proses identifikasi ini, seluruh korban yang sebelumnya dinyatakan hilang kini telah ditemukan dan dikenali.
Penutupan operasi ini diharapkan membawa kelegaan bagi keluarga korban dan menjadi awal dari proses pemulihan pascatragedi yang mengguncang dunia pendidikan pesantren tersebut. (*)






