KabarBaik.co, Jember – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bergerak cepat menanggapi keresahan masyarakat terkait kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menyusul adanya protes dari salah satu sekolah yang menganggap menu tidak memenuhi standar nutrisi.
Menindaklanjuti hal tersebut, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Sabtu (31/1).
Sidak yang dipimpin langsung oleh Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman menyasar SPPG di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Sumbersari.
Tim memeriksa seluruh alur operasional, mulai dari penyimpanan bahan baku, proses pengolahan, hingga sanitasi wadah makanan (ompreng).
Helmi mengungkapkan bahwa sidak ini merupakan perintah langsung Bupati Jember, Gus Fawait, sebagai bentuk tanggung jawab atas keluhan warga di media sosial.
“Informasi yang beredar menyebutkan ada menu yang hanya berisi satu tusuk sate dan lontong. Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan kebenarannya,” ujar Helmi.
Berdasarkan hasil investigasi, ditemukan adanya ketidaksesuaian distribusi menu di beberapa sekolah, khususnya jenjang TK. Helmi menyebut hal ini dipicu oleh lemahnya koordinasi internal antara kepala dapur, ahli gizi, dan relawan distribusi.
“Seharusnya menu berisi tiga tusuk sate, namun hanya satu tusuk yang sampai ke siswa. Ini murni kesalahan koordinasi internal. Kami memohon maaf kepada masyarakat dan telah memberikan pembinaan tegas agar standar operasional prosedur (SOP) dijalankan dengan disiplin,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dapur SPPG Sriwijaya Putri Maulidiyha memberikan klarifikasi terkait komponen menu yang hilang. Menurutnya, pada hari tersebut buah ditiadakan karena diganti dengan susu segar. Namun, terjadi kendala saat distribusi di sekolah.
“Sekolah yang memviralkan hal tersebut tidak menerima susu karena ada kendala teknis sehingga susu dikembalikan ke dapur. Kami juga mengacu pada juknis anggaran saat ini, yaitu Rp 8.000 untuk porsi kecil dan Rp 10.000 untuk porsi besar, bukan Rp 15.000 sebagaimana informasi yang beredar di luar,” jelas Putri.
Ahli Gizi SPPG Sriwijaya, Monica Budianti, mengakui adanya miskomunikasi yang menyebabkan sisa bahan makanan yang seharusnya dibagikan justru tertahan di dapur.
Sebagai langkah konkret, pengelola SPPG Sriwijaya berkomitmen memperketat quality control bagi 2.746 siswa di 12 sekolah yang mereka layani.
Pemkab Jember menegaskan bahwa kritik masyarakat adalah masukan berharga. Evaluasi dan pengawasan akan terus diperketat di tingkat kabupaten maupun kecamatan demi memastikan generasi penerus Jember mendapatkan asupan gizi yang optimal. (*)






