KabarBaik.co, Jember – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait kualitas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah SPPG, Jalan Batu Raden. Menindaklanjuti laporan melalui kanal pengaduan Wadul Gus’e tim lintas sektor langsung menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi dapur produksi, Sabtu (28/2).
Peninjauan lapangan ini dipimpin oleh Asisten II Setda Kabupaten Jember Ratno C. Sembodo, didampingi Satgas MBG, unsur Muspika Sumbersari, serta tenaga kesehatan setempat.
Dalam sidak tersebut, tim menemukan sejumlah fakta memprihatinkan terkait standar kelayakan pangan. Fokus pemeriksaan meliputi kondisi fisik dapur yang kurang higienis, sistem penyimpanan bahan baku yang tidak teratur, hingga sampel makanan yang secara visual dinilai tidak memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.
Ratno C. Sembodo menegaskan bahwa Pemkab Jember tidak akan menoleransi kelalaian yang mengancam kesehatan penerima manfaat, terutama anak-anak.
“Kami hadir di sini karena laporan warga adalah alarm bagi pemerintah. Program MBG ini tujuannya menyehatkan, bukan justru membahayakan. Saya tegaskan, tidak ada ruang kompromi untuk kualitas pangan yang buruk,” ujar Ratno dengan nada bicara tegas.
Berdasarkan hasil pemantauan, tim kesehatan memberikan beberapa poin evaluasi mendesak, di antaranya, penguatan higienitas dan sanitasi dapur, pengetatan sortir bahan baku sebelum diolah, perbaikan manajemen distribusi agar kualitas makanan tetap terjaga hingga ke tangan penerima.
Menanggapi temuan tersebut, pihak pengelola SPPG dan Kepala Dapur berkomitmen melakukan perombakan total terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP). Mereka berjanji akan memberikan pelatihan ulang bagi petugas dapur dan memperketat pengawasan bahan makanan yang masuk.
Ratno menambahkan bahwa pengawasan ke depan akan dilakukan secara berlapis.
“Instruksi saya jelas, Satgas MBG harus melakukan evaluasi berkala. Masyarakat kami minta tetap kritis dan terus memanfaatkan kanal ‘Wadul Gus’e’ untuk mengawasi jalannya program ini secara partisipatif,” pungkasnya. (*)







